
Begitu matahari sudah terbenam sepenuhnya dan hari mulai gelap, Oliver, Lisia dan Clara kembali menepi kan perahu yang mereka naikki. Mereka pun kembali kedaratan dan memutuskan untuk menyudahi melihat danau pelangi untuk hari ini.
Setelah Oliver mengingat perahunya, ia pun berencana untuk mengantar Lisia kembali kekuil. Namun sebelum ia mengatakan hal tersebut, Lisia mengatakan bahwa ia akan pulang sendirian.
"Oh ya Oliver saya akan kembali kekuil dewi sendiri saja"ucap Lisia.
"Apa! Tapi Lisia sangat berbahaya jika anda kembali sendirian. Karna itu saya akan... " ucap Oliver yang terpotong.
"Tidak perlu" ucap Lisia dengan ekspresi dingin.
"Anda tidak perlu mengantar saya Oliver, lebih baik anda mengantar Clara saja karna ia merupakan tunangan anda"ucap Lisia dengan nada ketusnya.
Clara yang mendengar akan perkataan Lisia langsung kaget, sedangkan Oliver hanya terdiam tanpa mengatakan apapun setelah mendengar perkataan Lisia yang kelihatan marah padanya.
".. (Sial! Aku melakukan kesalahan dan mengatakan hal yang membuat Lisia marah lagi)"ucap Oliver dalam hati.
"Clara! Aku pulang duluan ya kau hati hati saat pulang nanti " ucap Lisia yang memegang tangan Clara.
"Ah! Iya Lisia. Kau juga hati hati ya? "ucap Clara.
"Iya "Tersenyum. "Oliver! "Kembali dingin.
"Iya Lisia! "Kaget.
"Karna Clara adalah tunangan anda, anda harus mengantar Clara sampai rumah. Mengerti?"ucap Lisia yang menekan kata tunangan.
"Tentu saja Lisia, saya akan mengatar Clara sampai kerumah dengan selamat"ucap Oliver yang tersenyum.
"Baiklah kalau begitu saya akan kembali kekuil dewi sekarang, sampai jumpa lagi Clara "ucap Lisia
"Sampai jumpa Lisia"
Begitu Lisia pergi tinggal lah Oliver dan Clara berduaan ditepi danau.
"
".. (Tidak ku sangka Lisia bisa berkata seperti itu pada Oliver atau mungkin itu hanya triknya saja untuk membuat Oliver semakin menyukainya)"
Saat Clara melihat kearah Oliver yang terpana sambil melihat kearah Lisia pergi, Clara makin kesal dan marah.
".. (Ternyata begitu, Lisia mengatakan hal itu hanya untuk membuat Oliver semakin simpati padanya. Lisia kau licik juga ternyata) "ucap Clara dalam hati yang sedang kesal.
"Baiklah karna aku sudah berjanji kepada Lisia untuk mengantar mu sampai kerumah dengan selamat, maka aku akan mengantarmu Clara!. Karna itu ayo! " ucap Oliver dengan sikap dinginnya.
"Baik.. (Sial! Selalu saja Lisia dan Lisia, kalah begini terus Oliver akan meninggalkanku dan malah memilih Lisia. Tidak! ini tidak boleh terjadi. Secepatnya aku harus menyingkirkan rumpu liar itu, jika tidak ia akan terus panjang dan akan merebut Oliver dariku)"ucap Clara yang mengigit kuku jarinya.
...*****...
Perjalanan menuju kuil dewi
"Haah rasanya cukup memelahkan"menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kenapa sih Oliver selalu saja mengatakan berbahaya jika aku pergi sendirian, lagiankan tidak ada siapapun yang mencoba menyakitiku. Apa karna kristal pelangi ia sangat memperhatikan aku seperti ini? "
"Dasar! Padahal sudah punya tunangan masa ia terang terangan mendekatiku di depan tunangannya sih, kalau Clara salahpahamkan dia pasti akan membenciku karna berfikir jika aku mencoba merebut Oliver darinya"ucap Lisia.
"Aaggrrhh rasanya kepalaku pusing memikirkan hal itu terjadi"ucap Lisia yang memegang kepalanya.
Sebenarnya Lisia sudah mengetahui jika Oliver menaruh hati padanya, tapi Lisia tetap diam dan menutup mata akan hal itu semua. Karna Lisia tidak ingin merasa canggung saat bertemu dengan Oliver, Lisia juga mencoba menghindari berduaan bersama Oliver karna tidak ingin terjadi kesalahpahaman kepada Clara nantinya.
Walau Lisia sudah memiliki firasat jika Clara mulai tidak suka terhadapnya karna Oliver lebih memperhatikan dirinya dari pada Clara yang merupakan tunangannya sendiri. Tapi Lisia mencoba tetap tenang dan membuat cara agar Oliver tidak lagi menyukainya dan juga tidak dibenci oleh Clara yang merupakan teman pertama saat ia datang keduania novel.
Lisia juga tidak ingin dicap sebagai orang yang merebut kekasih teman sendiri dan juga tidak ingin bertengkar karna hal itu. Karna itulah Lisia terus berusaha agar hal yang tidak ia inginkan tidak terjadi sam sekali.
"Bagaimana caraku untuk membuat Oliver tidak menyukai ku lagi ya. Padahal aku ingin kami berteman saja dan tidak menyakiti satu sam lainnya"ucap Lisia yang menghela nafas panjang.
Saat Lisia yang sibuk berfikir, tanpa sengaja ia melihat Nevan yang berjalan menuju danau pelangi, dengan membawa alat pancingan. Lalu Lisia mendapat sebuah ide untuk bisa lepas dari bertemu Oliver saat bertemu, lalu Lisia pun mencoba menghampiri Nevan.
...*****...
"Nevan! "
"Eh! Dewi! "Kaget. "Apa yang anda lakukan malam malam begitu? " tanya Nevan yang sedang mancing.
"Nevan sendiri ngapain ada disini malam malam? " tanya Lisia balik.
"Padahal anda sudah mengetahuinya jika saya memancing ikan dimalam hari, tapi anda pura pura tidak tau "ucap Nevan.
Lisia tertawa"Maaf maaf, saya hanya bercanda kok, " Lisia dengan tersenyum.
"Saya hanya jalan jalan saja kok, lalu tidak sengaja melihat Nevan dan saya pun datang kemari karna sudah lama gak bertemu Nevan juga"ucap Lisia yang duduk disamping dan tersenyum kepada Nevan.
Untuk beberapa saat Nevan terdiam mendengar akan perkataan Lisia terhadapnya, lalu ia kembali sadar dan fokus memancing ikan.
"Begitu ya"ucap Nevan yang malu malu.
".. (Waaa manisnya, rasanya setiap melihat Nevan perasaanku kembali tenang. Mmm memang benar kata orang jika saat perasaan sedang tidak mood, obatnya adalah melihat hal hal yang cute. Kyaaa!!)"ucap Lisia yang sangat menyukai hal hal yang imut karna membayangkan Nevan seperti seekor kelinci.
".. (Rasanya ingin sekali ku menyentuh telinga Nevan)"ucap Lisia dalam hati.
Saat Lisia yang sibuk membayangkan Nevan seperti kelinci, tanpa disadari Lisia telah memegang telinga Nevan dan membuat Nevan kaget bercampur dengan keheningan beberapa saat.
"Eh! "Kaget karna tangannya udah menyentuh telinga Nevan.
"Waaa! "Menjerit. "Maafkan saya Nevan, saya tidak sengaja memegang telinga anda tanpa izin"ucap Lisia dengan perasaan panik sambil melihat kebawah karn saking malunya.
".. (Bagaimana ini? Aku harus melakukan apa sekarang) "mencoba berfikir. ".. (Ya ampun Lisia kenapa kau tidak sadar sih dan malah memegang telinga Nevan) "Panik panik.
".. (Tapi setelah dirasakan telinga Nevan cukup lembut) "wajah mulai merona. "... (Tidak tidak tidak) "menggelengkan kepala.
".. (Sadarlah Lisia! Saat ini yang lebih penting adalah bagaimana caranya aku bisa mengatasi suasana canggung ini) "fokus berfikir kembali.
".. (Apa aku pergi saja dan mengatakan jika ada urusan dikuil) "
__ADS_1
Bayangan Lisia.
"Oh ya Nevan seperti setelah diingat ingat saya ada kegiatan doa malam ini"berdiri. "Karna itu saya pergi dulu, sampai jumpa Nevan "pergi dengan tergesa gesa"
Nevan yang kelihatan bingung melihat Lisia pergi.
Bayangan selesai.
".. (Tidak!! Aku tidak bisa melakukan itu, akan malah tambah canggung nantinya. Lalu saat setiap bertemu Nevan aku akan selalu menghindarinya , dan aku tidak ingin hal itu terjadi) "ucap Lisia yang gelisah.
".. (Aku harus pikirkan cara lain yang lebih aman) "ucap Lisia.
Selama Lisia yang terus menundukan kepalanya dalam keadaan diam, tiba-tiba saja Nevan angkat bicara. "Jika dewi suka, anda boleh menyentuhnya lagi"ucap Nevan dengan suara yang sedik malu.
Lisia yang kaget mendengar perkataan Nevan langsung mengangkat kepalnya sambil melihat Nevan dengan ekspresi terkejut.
"Apa! Barusan Nevan mengatakan apa? " ucap Lisia.
"Ituu... Jika anda suka menyentuh telinga saya , saya tidak keberatan sama sekali"ucap Nevan yang malu malu.
Lisia yang merasa jika ia tidak salah dengan membuatnya shock dan terdiam membatu.
Didalam hati Lisia
".. (Akhirnya aku bisa menyentuh telinga Nevan yang sangat ku nantikan) "ucap Lisia dalam hati yang sangat gembira.
"Apa tidak masalah untuk Nevan? " tanya Lisia.
"Tidak sama sekali dewi"ucap Nevan yang menundukan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu saya akan mencoba menyentuhnya. "Lisia lalu menyentuh telinga Nevan yang ada dihadapannya itu.
".. (Lembut sekali) "ucapnya yang merasa senang.
Saat Lisia sadar kembali ia langsung melepaskan telinga Nevan. "Terimakasih Nevan, seperti sudah cukup. Jika saya teruskan rasanya Nevan tidak akan fokus mancingnya"ucap Lisia yang cuma alasan karna takut terjadi canggung lagi.
"Baiklah dewi! " ucap Nevan yang wajahnya yang dari tadi memerah.
"Lalu Nevan! Sampai kapan anda akan terus memanggil saya dengan sebutan dewi? "
"Ya?! "
Bersambung
...Terus dukung Redblack....
...Jangan lupa like, comment, hadiah, dan votenya, Kilik juga tombol favoritnya, agar redblack terus semangat. ...
...Salam cinta dari redblack....
__ADS_1