Pacarku Beda Dimensi Pilihan Lisia

Pacarku Beda Dimensi Pilihan Lisia
Chapter 115 Sakit Hati


__ADS_3


Berkah selalu buat pembaca, mohon dukungannya. Terimakasih......


...Happy reading...


...🍁...


...🍁...


...🍁...


...🍁...


...🍁...


Chapter selanjutnya.


Dibawah rembulan yang begitu terang dan sangat indah, Lisia dan Nevan pergi berjalab jalan bersama menuju kearah danau pelangi.


“Nevan, apa kamu memikirkan tetang hari pembangkitan sihir Nox dan Elis? ” tanya Lisia.


“Benar, saya takut jika kedua adik saya akan mengalami hal yang sama seperti saya nantinya” ucap Nevan dengan ekspresi murung.


“Hal yang sama seperti apa yang Nevan maksud?, saya tidak mengerti ” ucap Lisia yang hanya tau kalau Nevan gagal melakukan pembangkitan sihir saat ia berusia 15 tahun dan juga Nevan yang mendapatkan mata merah jambu dari hal itu. Akan terapi, alasan kenapa Nevan bisa gagal melakukan pembangkitan sihir, Lisia tidak mengetahuinya. Karna tidak ada tertulis dinovel yang Lisia baca.


“Itu,,.. Saya takut mereka gagal melakukan pembangkitan sihir dan malah betujung mendapatkan kesialan seperti saya (mata merah jambu) ” ucap Nevan dengan ekspresi sedih dan murung.


“Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, selama ada saya Nox dan Elis akan baik baik saja. Percayalah pada saya” ucap Lisia dengan penuh semangat.


“Iya saya percaya, selama ada dewi semuanya pasti baik baik saja” ucap Nevan sambil tersenyum.


“.. (Aku gak akan membiarkan Nevan, Nox dan Elis menderita lagi. Apapun yang terjadi aku akan melindungi mereka) ” ucap Lisia dalam hatinya.


Sambil menikmati pemandangan yang indah didanau pelangi, Lisia dan Nevan berjalan santai dibawah rembulan yang begitu terang dan sangat indah. Namun, keindahan tersebut seketika rusak saat Oliver datang.


Lisia dan Nevan langsung kaget melihat kedatangan Oliver, bukan karna kaget ketahuan berduaan tetapi kaget karna merasa kesal akan kedatangan Oliver terutama Lisia sendiri. Sementara Nevan hanya terdiam sambil menundukan kepala kebawah.

__ADS_1


“.. (Sedang apa Oliver disini, apa yang dia inginkan sih?, nganggu saja) ”ucap Lisia yang merasa kesal.


“Oliver, apa yang membuat anda kemari? ” tanya Lisia ramah walau dalam hatinya jengkel.


“.. (Tidak bisakah kau lihat aku sedang bersama Nevan, lebih baik kau pergi saja) ” ucap Lisia dalam hatinya yang sangat berbeda dengan apa yang ia ucapkan.


“Saya tadi baru saja habis dari kuil dewi untuk menemui anda Lisia, tapi anda tidak ada.”ucap Oliver.


“Kenapa mencari ku malam malam begini, apa ada sesuatu hal yang ingin disampaikan lagi?. Bukankah tadi sore anda sudah menemui saya? ” tanya Lisia. Sedangkan didalam pikiran Lisia sangat berbeda.


“.. (Hal apa lagi yang ingin kau katakan?, buang buang waktu saja. Bukankah itu hanya alasan untub bisa bertemu dengan ku?, lebih baik kau urususi Clara tunangan mu jangan menganggu ku, dasar menyebalkan) ” umpat Lisia didalam hatinya yang begitu kesal.


“Ini mengenai hari pembangkitan sihir, saya ingin mendiskusikan hal itu. Karna ada sedikit perubahan, ” ucap Oliver sambil melirik tajam kearah Nevan.


Nevan yang menyadari tatapan dari Oliver langsung tertegun dan berniat untuk pergi agar tidak menganggu Lisia dan Oliver, namun Lisia yang menyadari hal tersebut langsung menahan Nevan.


Memegang tangan Nevan, “Nevan mau kemana? ” tanya Lisia.


“Itu,,.. Saya akan pulang kerumah agar dewi bisa berbicara dengan kepala desa” ucap Nevan.


“Saya akan bilang kalau dewi ada keperluan di kuil dan harus pulang pada Nox dan Elis nanti jika mereka bangun” ucap Nevan.


Lisia begitu kesal didalam hatinya, namun Lisia tidak bisa berbuat apapun akan apa yang Nevan katakan. Akan tetapi Lisia juga tidak mau diam saja akan apa yang terjadi, “Oliver, kita bahas masalah pembangkitan sihir besok pagi saja, saya dan Nevan akan pulang. Lagian hari sudah malam” ucap Lisia yang tidak melepaskan genggaman tangannya pada Nevan.


Melihat Lisia memegang tangan Nevan begitu erat membuat Oliver kepanasan, dan ingin sekali memotong tangannya Nevan. Namun Oliver tidak bisa melakukan hal itu didepan Lisia, karna takut dibenci dan tidak akan mendapatkan kristal pelangi dari Lisia nantinya.


“Tapi Lisia, hal ini sangat penting” desak Oliver.


Lisia mulai kesal dan ingin sekali mengeluarkan semua emosinya akan kekeras kepalanya Oliver yang begitu memaksa dirinya. “Apa harus semalam ini?, apa tidak ada waktu lain untuk dibahas?. Oliver, saya katakan untuk terakhir kalinya, kita bahas masalah pembangkitan sihir besok pagi! ” ucap Lisia dengan ekspresi dingin dan ketus ditambah merasa jengkel.


Oliver terkejut dan langsung terdiam, “Baiklah, maaf menganggu waktu mu Lisia. ” ucap Oliver dengan ekspresi sedih.


Lisia tidak termakan akan ekspresi sedih yang Oliver tunjukan, karna merasa kesal dan jengkel pada Oliver. “Kalau gitu saya pergi dulu, selamat malam Oliver” ucap Lisia sambil membawa Nevan yang tangannya masih Lisia genggam.


“Selamat malam Lisia ” ucap Oliver yang hanya bisa melihat kepergian Lisia bersama Nevan.


Setelah Lisia dan Nevan sudah menjauh, ekspresi Oliver seketika langsung berubah menjadi kesal dan marah, “Sial”ucap Oliver yang marah.

__ADS_1


“Nevan, kau sungguh membuatku marah hari ini. Awas saja! Aku akan membalas semua yang kudapat hari ini”ucap Oliver yang lalu pergi.


🍁🍁🍁🍁🍁


Disisi lain, Lisia dan Nevan yang kembali pulang dimana Lisia masih mengenggam erat tangan Nevan, membuat Nevan sedikit kebingungan namun Nevan tidak bisa berkata kata apapun sampai mereka sudah didepan rumah.


“Dewi! ”panggil Nevan pelan.


Melepaskan genggaman tangan Nevan, “Saya sangat lelah sekali, maaf saya akan tidur dulu. Selamat malam Nevan ” ucap Lisia yang lalu masuk kedalam rumah meninggalkan Nevan yng terdiam membantu diluar.


Setelah Lisia masuk dan langsung pergi menuju kamar, Nevan yang mengikuti dari belakang hanya bisa melihat Lisia yang pergi menuju kamar orang tuanya. Dengan perasaan yang gelisah, Nevan merasa kalau sudah berbuat salah kepada Lisia dan membuatnya marah.


Akan tetapi, Nevan tidak tau hal apa yang membuat Lisia marah, namun Nevan sadar kalau sudah menyakiti hati Lisia.


Setelah berada didalam kamar, Lisia menanggal mantel dan langsung berbaring diatas tempat tidur bersama Nox dan Elis. Merasakan adanya pergerakan dari tempat tidur, Nox pun terbangun. ”Kak Lisia! ” panggil Nox yang masih setengah sadar.


“Maaf kakak membangunkan mu” ucap Lisia sambil mengelus kepala Nox.


Nox seketika langsung kaget saat melihat Lisia yang menangis namun masih tersenyum, dimana air matanya membasahi pipi tanpa sebab. “Kak Lisia, kenapa nangis?. Apa yang terjadi? ” tanya Nox dengan suara pelan saat Lisia meminta untuk diam.


“Kakak tidak papa, hanya,,.. Mengantuk dan menguap, makannya ada air mata. Sudah, lanjutin tidurnya! ”ucap Lisia sambil tersenyum.


Nox hanya bisa diam dan tidak bisa menanyakan alasan kepada Lisia, lalu Nox dan Lisia mulai berbaring dan mulai tertidur lelap.


🍁🍁🍁🍁🍁


Matahari terbit dan bersinar dengan begitu indahnya, Nox yang terbangun lebih awal sangat terkejut melihat Lisia yang sudah tidak ada diatas tempat tidur.


“Kak Lisia!! ”


...Terus dukung Redblack....


...Jangan lupa like, comment, hadiah, dan votenya, Klik juga tombol Favoritnya, agar kalian tidak tertinggal informasi chapter selanjutnya....


...Salam cinta dari redblack....


__ADS_1


__ADS_2