
Chapter selanjutnya
"Ada yang aneh, aku harus mencari tau akan perkataan orang orang desa tadi. Mungkin ini ada kaitannya Nevan yang tidak menginginkan haknya kembali dengan pendeta Fergus. Terlebih orang desa juga tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa aku meminta untuk mengembalikan semua hak Nevan. Pasti ada yang telah terjadi yang tidak ku ketahui"ucap Lisia yang penuh dengan rasa penasaran.
🍁🍁🍁🍁🍁
Keesokan paginya
Dikuil Dewi, seperti biasanya Lisia melakukan upacara doa pagi yang selalu diadakan setiap pagi harinya.
Selesai doa pagi disebuah lorong kuil, Lisia bermaksud untuk kembali kekamar. Namun dihentilan oleh dua orang wanita yang baru selesai doa juga.
"Dewi! "Mendekati. "Senang rasanya anda kembali lagi kedesa agelios, kami sangat merindukan anda"ucap wanita pertama.
"Benar,doa yang dipimpin tanpa anda rasanya sangat membosankan. Karna jika anda tidak ada, kuil dewi rasanya hampa dan sunyi"ucap wanita kedua.
"Begitu ya, maaf karna saya meninggalkan Desa Agelios begitu saja tanpa memberi tahukan pada kalian semua. Saya tidak berfikir kalian begitu memikirkan tentang saya seperti ini"ucap Lisia dengan senyum ramahnya.
"Tidak dewi, anda tidak perlu minta maaf. Karna anda kembali kehutan Forrest karna alasan yang masuk akal"ucap wanita pertama.
"Benar, kalau saja bukan karna si pendeta jahat yang mengatai dewi, mungkin hal ini tidak akan terjadi dan anda tidak merasa sakit hati akan perkataan beliau"ucap wanita kedua yang melampiaskan kekesalannya.
"Pendeta Fergus?! Benar juga. Saya tidak melihat beliau, apa kalian tau dimana dia? "Tanya Lisia.
"Dewi, untuk apa anda mencari pendeta Fergus? Padahal beliau sudah menghina anda"ucap wanita pertama.
"Benar, anda tidak perlu memperdulikan si pendeta kurang ajar itu"ucap wanita kedua yang marah.
"Saya tau, tapi ada hal yang ingin saya tanyakan pada pendeta Fergus. Apa kalian bisa mengatakan beliau ada diamana? " tanya Lisia lagi.
Kedua wanita tersebut saling melihat satu sama lainnya dengan ekspresi cemas, lalu mereka mencoba menjelaskan kepada Lisia akan keadaan pendeta Fergus.
"Beliau melarikan diri dari desa karna tidak ingin dihukum oleh kepala desa atas perbuatan yang telah ia lakukan"ucap wanita pertama.
"Saat ini kami juga tidak tau belau ada dimana. Walau sudah dicap sebagai burunan yang dicari, tapi sampai sekarang pendeta Fergus belum ditemukan"ucap wanita kedua.
"Apa, burunan? Kenapa pendeta Fergus dicap sebagai burunan? "Tanya Lisia yang merasa bingung.
__ADS_1
Kedua wanita tersebut saling melihat satu sama lainnya, "Bukankah beliau telah menghina anda, karna perbuatan tercela itulah pendeta Fergus melariakn diri dan dicap sebagai burunan"
"Tunggu apa?! Menghina? "Terkejut.
".. (Apa maksudnya ini? Jelas jelas pendeta Fergus menghina Nevan bukan aku. Tapi kenapa orang orang desa mengira jika pendeta Fergus telah menghina ku) "ucap Lisia dalam hati yang bertanya tanya.
".. (Lalu saat itu, alasan aku kembali kehutan Forrest, karna Oliver yang mengatai Nevan. Jadi aku pun meminta syarat pada Oliver untuk mengembalikan semua hak milik Nevan.) "ucap Lisia dalam hati.
"..(Ada sesuatu yang aneh disini, seolah olah permintaan yang ku ajukan tidak tersampaikan kepada semua orang desa. Apa mungkin Oliver menyembunyikan hal ini dari para warga dan menuduh pendeta Fergus lalu mengusirnya) "ucap Lisia dalam hati yang menfuga duga.
".. (Jika sendainya begitu, kenapa ia melakukan hal ini?,padahal jelas jelas dia yang salah. Kenapa dia malah menyalahkan orang lain)"ucap Lisia dalam hati yang merasa bingung.
".. (Oliver, apa yang telah kau lakukan? Apa demi kehormatan, kedudukan dan juga jabatan yang tidak ingin kau lepaskan, sampai membuatmu melakukan hal kotor demi mendapatkan ktistal pelangi?) "ucap Lisia dalam hati.
".. (Walau aku sudah tau sifatmu yang begitu terobsesinya pada kristal pelangi, tapi aku tetap menutup mata dan percaya, suatu hari kau pasti berubah)"ucap Lisia dalam hati.
"(Sekarang apa yang harus kulakukan?, apa aku katakan saja pada mereka yang sebenarnya?) "ucap Lisia dalam hati yang merasa bingung.
"Dewi, apa ada sesuatu yang ada pikirkan?, Kelihatan anda sedikit cemas akan sesuatu? "Tanya wanita pertama.
"Tidak, bukan apa apa.Hanya saja saya sedikit merasa bersalah, seharusnya saya tidak memperdulikan perkataan pendeta Fergus waktu itu. Kalau saya menganggapnya berlalu mungkin ia dan keluarganya tidak akan mengalamai hal ini"ucap Lisia.
"Apa maksud anda dewi, pendeta Fergus pantas mendapatkannya"ucap wanita kedua.
".. (Tidak, pendeta Fergus tidaklah bersalah, hukuman yang ia terima ini sangatlah tidak adil. Tapi aku juga tidak bisa mengatakan kebenarannya, aku takut tidak akan ada yang percaya, karna aku tidak memiliki bukti kuat akan kejadian waktu itu. Sekarang aku hanya bisa diam saja) "
Ketika dua wanita yang berasama Lisia telah pergi, Lisia pun menuju kekamarnya untuk beristirahat. Namun sesampainya disana, telah berdiri seorang pria yang sedang menunggu akan kedatangan Lisia tidak lain yaitu Oliver.
Melihat Oliver yang berdiri didepan ruang kamarnya, membuat Lisia sedih tidak suka. Bahwa ia masih marah akan kejadian waktu itu dimana ia menghina Nevan, terlebih Nevan tidak mendapatkan haknya kembali, lalu mengetahui fakta bahwa pendeta Fergus meninggalkan desa dengan keadaan yang menjadi kambing hitam oleh Oliver.
Namun Lisia tetap tenang dan tidak memang ekspresi marahnya, ia hanya bersikap dingin dan cuek akan keberadaan Oliver.
"Apa yang membuatmu datang kesini kepala desa? " ucap Lisia dengan nada ketusnya.
Oliver cukup terkejut akan perkataan Lisia yang begitu dingin, dimana Lisia memanggilnya bukan dengan namanya melainkan jabatan Oliver sekarang.
"Ada hal yang ingin saya katakan pada anda Lisia, saya harap,,... " ucap Oliver yang terpotong.
"Tidak ada hal yang perlu saya dengar dari anda, semuanya telah jelas bagi saya. Lalu satu hal lagi, tolong jaga sikap anda kepala desa, saya adalah dewi hutan, jadi panggil saya dengan sebutan dewi"ucap Lisia dengan dinginnya sambil menekankan kata Dewi.
Oliver kaget akan sikap Lisia yang berubah 180° kepada dirinya, ia hanya bisa terdiam akan hal tersebut.
__ADS_1
"Kalau tidak ada hal lagi yang ingin anda bicarakan, silahkan pegi! Saya ingin istirahat "ucap Lisia.
"Baiklah dewi, maaf saya sudah menganggu waktu anda"ucap Oliver yang kelihatan sedih.
Begitu Oliver pergi dengan ekspresi kesal yang membelakangi Lisia, Lisia pun masuk kedalam kamarnya.
Brukkk
Diatas kasur"Hahh"menghela nafas. "Kenapa susah kali sih mengatur ekspresi, padahal aku tidak ingin besikap seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi aku kesel karna melihat Oliver membuat ku ingin marah"ucap Lisia.
Arggghhh
"Benar benar menyebalkan"
"Diana, jika kau ingin aku memilih diantara mereka dan membuatku harus mengalami ini semua, setidaknya berikan aku penjelasan kenapa kau ingin aku terlibat akan hal ini"ucap Lisia yang marah
"Walau aku menyukainya karna bisa bertemu para cogan yang ku inginkan, tapi mengalami situasi yang rumit ini membuatku frustasi tau"mengeluk kesah
"Jika aku tidak mendapatkan keuntungan dari masalah yang kau tinggalkan ini, awas saja! aku akan membuat perhitungan dengan mu Diana. Ingat itu! "Ucap Lisia yang penuh dengan emosi.
Dihutan Forrest didalam kuil Forrest, Muffin dan Snowy sedang melihat Lisia melalui bola kaca.
"Gak ku sangka dewi Lisia begitu kesal akan dewi Diana"ucap Snowy.
"Mau bagaimana lagi, ia yang berasal dari dunia lain dan dipanggil kesini untuk menyelasaikan masalah dewi Diana. Jadi siapa yang tidak akan kesal akan hal itu"ucap Muffin.
"Benar juga sih, tapi apa benar kau tidak dapat menghubungi dewi? "Tanya Snowy.
"Iya, aku tidak tau kenapa. Tapi tiba-tiba saja komunikasiku terhadap dewi terputus"jawab Muffin.
"Apa terjadi sesuatu pada dewi? " tanya Snowy.
"Entahlah, tapi kuharap bukan hal yang buruk"jawab Muffin.
Muffin dan Snowy masih melihat Lisia yang kesal sambil memukul bantal didalam bola kaca.
...Terus dukung Redblack....
...Jangan lupa like, comment, hadiah, dan votenya, Kilik juga tombol favoritnya, agar redblack terus semangat....
...Salam cinta dari redblack....
__ADS_1