
Haris dan cista keluar dari kamar mandi dengan bergandengan tangan, mereka membulatkan mata ketika melihat sang putri sudah terbangun dan membuat kekacauan di atas kasur. Lama mereka terdiam menikmati pemandangan di depannya merekapun akhirnya tertawa gemas melihat tingkah lucu nan menyebalkan putri mereka.
Kasur yang tadinya berwarna putih telah berubah menjadi merah karena ulah putri mereka yang asik mencoretnya dengan lipstik.
"Oh astaga putriku, ini bukan papan tulis sayang. Kamu ingin belajar menulis ya? Nanti sore ayah akan membelikanmu papan tulis ,oke." Calli seakan mengerti apa yang di ucapkan ayahnyapun menjawab dengan ( pa pa pa pa).
"Pinternya anak mama." Ucap cista sambil mencium gemas putrinya.
"Kita shalat dulu sayang, biarkan calli berkreasi di atas kasur."
Calli sekarang sudah bisa berdiri dan merangkak bahkan dia juga sudah mulai berjalan tertatih selangkah dua langkah,dia juga sudah bisa mengucapkan beberapa patah kata seperti ma ma , pa pa, mam, ca ca(kaka). Ia tumbuh dengan baik bahkan perkembangannya lebih cepat dari batita seusianya, ia benar-benar mewarisi kecerdasan cista dan haris.
Melihat ke dua orang tuanya shalat calli berusaha turun dari kasur, ia mendekati ke dua orang tuanya lalu duduk manis di samping sang mama. Saat melihat sang papa menengadahkan tangannya untuk berdoa bocah kecil itupun mengikuti apa yang mama dan papanya lakukan.
" Amin." Ucap haris dan cista di akhir doanya.
"Min." Ucap mulut mungil calli.
Cista meraih tangan suaminya untuk salim , melihat itu callipun mengikutinya, ia juga berusaha meraih tangan papanya.
Haris yang gemas dengan tingkah putrinyapun meraih anak lucu itu dalam gendongannya sambil menghujani wajah imutnya dengan banyak kecupan. Cista yang melihat adegan itu lalu memeluk kedua orang yang disayanginya .
"Terima kasih ya allah engkau telah memberi kebahagian yang begitu sempurna untukku dan keluargaku. Semoga ke depannya kami masih tetap seperti ini dan bisa melewati segala cobaan yang ada." Ucap cista dalam hati.
"Mas aku ke dapur ya."
"Oke sayang serahkan anak kecil ini padaku, hehehe. "
__ADS_1
"Pa pa pa pa."
"Apa sayang, main sama papa ya, mama mau masak. Kita ke kamar kak hito yuk."
"Ca ca ca."
" Ya ayo, berdiri baby , sini papa gendong."
"Dong. " Jawab calli sambil bertepuk tangan lalu berusaha berdiri dan meraih kaki sang papa.
Kita tinggalkan keluarga yang tengah berbahagia itu sejenak. Kali ini kita akan melihat seorang pria yang sedang menahan rasa kesalnya karena terus-menerus di ganggu oleh seorang wanita cantik dan ****.
"Apa yang kau masukkan ke dalam kopiku?"
"Hehehe,maaf ya pak, habisnya bapak ini selalu menolakku. Aku terpaksa memasukkan obat perangsang ini, aku ingin memiliki pak dzaky, hayu pak kita ke kamar yang ada di ruangan ini, aku jamin pak dzaky akan ketagihan dengan pelayananku."
"Kenapa sih pak, aku cantik lho,**** pula."
"Cantik dan **** saja itu ngga cukup Tara."
"Terus pak dzaky maunya yang gimana?"
"Aku maunya seperti cista."
"Siapa itu cista pak?" Jawab tara sambil terus menggoda dzaky dengan mengelus rahangnya dan sesekali mencium telinga serta rahangnya tak ketinggalan kecupan di bibir dzaky juga sudah tara berikan. Namun dzaky masih saja menahan godaan itu.
"Pergilah Tara, atau aku akan berbuat kasar padamu."
__ADS_1
Namun tara seakan tuli, ia masih saja mencoba menggoda dzaky dengan lebih berani, jari-jari lentiknya membuka kancing baju dzaky sembari memberi sentuhan-sentuhan di dada bidangnya. Sesekali ia juga memberi kecupan di sana.
Dzaky masih berusaha sekuat tenaga menahan godaan itu, walau hati kecilnya menikmati semua hal yang sedang dilakukan oleh karyawan cantiknya ini.
"Tara."
"Hmmm."
"Berhenti, aku mohon."
"Maaf pak, aku tidak bisa berhenti sebelum pak dzaky menjadi suamiku."
" Kamu akan tersiksa kalau memaksakan hal itu tara, cintaku masih utuh untuk mantan istriku, cista."
"Oh, cista itu mantan istri pak dzaky toh."
"Tolong berhenti tara, ahhhh."
"Tanggung pak, udah setengah jalan nih. Lanjut saja lah, nikmati saja pak."
"Aaaahhhh cista, aku merindukanmu." Racau dzaky dalam desah...nya.
"Tak apalah, pak dzaky bisa menganggapku sebagai cista , tapi kita harus melanjutkan ini sampai akhir."
"Cista." Mata dzakypun terbuka. Ia mendorong dengan keras tubuh tara hingga ia terduduk di lantai. Dzaky segera merapikan baju dan celananya lalu pergi dari sana .
"Untung saja aku masih bisa menyadarinya sebelum terlambat." Batin dzaky di tengah jalannya yang cepat,bahkan setengah berlari.
__ADS_1
"Sialan, gagal maning,gagal maning." Kata Tara yang melihat dzaky meninggalkannya sendiri.