Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
45


__ADS_3

"Silahkan kalian selesaikan masalah kalian, aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Kataku saat mas dzaky telah duduk di sampingku. Aku berdiri dan berniat ke ruang kerjaku tapi tanganku di pegang olehnya.


"Jangan pergi sayang tetaplah di sini, aku ingin kamu tau semua yang kami bicarakan."


"Baiklah ." Jawabku lalu kembali duduk. Padahal aku sudah tau apa yang akan menjadi keputusan mas dzaky. Bebrapa hari yang lalu dia mengatakan akan mengadopsi hito, agar bisa kami rawat dan besarkan


bersama. Bagaimanapun hito anak kandung mas dzaky jadi akupun sudah menyetujuinya.


"Oke, Hesti bicaralah." Kata mas dzaky memulai pembicaraan.


" Aku berubah pikiran dzak, saat ini aku bersedia menikah denganmu demi anak kita."


"Apa aku tidak salah dengar hes? Dulu saat kamu hamil kamu menolak menikah denganku karena aku orang yang tidak mapan, dan sekarang setelah aku menikah dengan orang yang sangat ku cintai kamu datang dan ingin merusaknya."


"Aku bisa jadi istri keduamu,aku mohon demi anak kita Hito. Hito juga butuh kasih sayang ayahnya dzak."


"Maaf hes, kalau sekarang aku tidak bisa menikahimu. Kamu tau bukan kalau dari dulu aku sangat mencintai cista, dan selamanya hanya dia istriku satu-satunya. Tapi kalau kamu mau aku akan merawat Hito. Biarkan aku dan istriku yang merawatnya."


"Tapi dzak?"


"Maaf hes, aku tau kamu sudah kehilangan tambang uangmu makanya kamu mencariku , hito hanya alasanmu saja. Hes, berhentilah berbuat salah dan dosa. Uang bukan segalanya. Suamimu bangkrut juga karena ulahmu yang selalu berfoya-foya."


"Kenapa raut wajahmu mendadak seperti itu hes? Kamu kaget aku mengetahui semua tentangmu? Suamimu adalah sahabatku hes, dia cerita semua padaku termasuk tentang kejadian tiga hari lalu ketika kamu kabur dari rumah."


"Aku mohon dzak, aku mau kok walau hanya menikah siri."


"Tidak bisa hes,tidak akan pernah. Keluarlah dari rumahku, tinggalkan hito biar kami yang merawatnya."


"Oke." Katanya dengan nada tinggi lalu pergi meninggalkan rumah kami tanpa menengok ke belakang sedikitpun, tak peduli hito menangis memanggilnya.


"Hito, jangan menangis. Mulai sekarang hito akan tinggal di sini bersama papa dan mama."


Mas dzaky menatapku dengan tatapan memohon. Aku tau maksudnya.

__ADS_1


"Hito sini, mama peluk." Anak itupun berlari memelukku sambil masih terus menangis.


"Terima kasih sayang atas segala kesabaranmu."


"Anak ini tidak bersalah mas, terimakasih atas segala kejujuranmu."


Setelah membujuknya sepeluh menit akhirnya hitopun berhenti menangis. Lalu mas dzakypun menceritakan tentang hito yang selama ini tidak mendapat kasih sayang ibunya. Selama ini hito di rawat neneknya yang berada di kampung tapi beberapa bulan yang lalu neneknya meninggal barulah hito di bawa ke sini oleh suami hesti. Saat sedang ngobrol bunyi bel terdengar.


"Reza?"


"Hai dzak?"


"Apa dia sudah menemuimu?"


"Ya, baru sejam yang lalu dia pergi. Ayo masuk dulu kita ngobrol di dalam."


"Apa hito tidur cis?" Tanya A Reza.


"Eh A reza. Ya nih, dia tidur mungkin lelah menangis."


"Mau minum apa A reza?" Tanyaku setelah hito di ambil dari pangkuanku.


"Apa saja cis."


Akupun membuatkan minum untuknya dan untuk mas dzaky.


"Apa kamu sudah bawa surat-suratnya za?"


"Beres." Jawabnya sambil menepuk tas di pangkuannya.


"Jadi begini sayang, Reza datang ke sini membawa surat adopsi hito. Kita akan mengadopsinya, bagaimanapun reza adalah ayah hito secara hukum."


"Baiklah mas."

__ADS_1


"Maaf sayang, kamu harus ikut menanggung kesalahanku."


"Tidak mas, jangan bicara seperti itu. Anakmu juga anakku, kita akan merawatnya bersama-sama. Yang penting kamu jujur,itu sudah cukup untukku."


"Terima kasih sayang."


"Mulia sekali hatimu cista, beruntung dzaky mendapatkanmu."


"Biasa saja A, semua perempuan yang punya hati pasti akan merasa tidak tega dan bersimpati pada anak seperti hito."


"Jaga baik-baik istrimu dzak, di luar sana pasti banyak yang menginginkannya."


"Siap bro, dengan segenap jiwaku aku akan menjaganya."


"Terima kasih ya dzak atas pekerjaannya. Tapi, apa aku bisa memilih bekerja di mananya, hehehe."


"Emang mau kamu di mana za?"


"Aku mau yang di sini saja dzak, kasihan ibuku kalau aku tinggal ke jakarta."


"Baiklah, kamu bisa bekerja di cafe yang depan SMA kita dulu, kebetulan meneger di sana si Risa akan ikut suaminya ke jakarta jadi biar dia yang pindah ke jakarta."


"Terima kasih banyak ya dzak?"


"Kamu ngga mau minjem modal saja Za?"


"Ngga dzak, aku mau kerja saja. Kumpulin modal sendiri, aku ngga mau hutang dzak."


"Okelah kalau begitu, tapi kalau kamu berubah pikiran bilang padaku,oke."


"Siap dzak, kalau gitu aku balik dulu ya."


"oh ya za, hati-hati ya. Seringlah main ke sini."

__ADS_1


"Pasti."


__ADS_2