Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
31


__ADS_3

Tiga minggu telah berlalu, aku melangkah ke kampus dengan lebih hati-hati karena takut kejadian yang lalu terulang lagi. Terlebih Rian adalah sosok yang pantang menyerah, terbukti dengan berkali-kalinya dia melakukan penculikan dan percobaan pemerkosaan terhadapku.


Saat sedang menunggu dosen masuk ke kelas aku menerima panggilan telp dari kak clara, ia mengatakan harus segera pulang ke Banyumas karena ayah masuk rumah sakit. Ia juga mengatakan kalau aku tidak perlu khawatir , yang penting ujianku lancar. Kak clarapun menelponku guna memintaku menjaga Mega selama kak clara mengurus ayah di Banyumas.


Setelah mendengar kabar itu aku sangat khawatir, aku bertanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi pada ayah, karena kemarin ayah sehat-sehat saja saat videocall tapi hari ini tiba-tiba masuk rumah sakit. Untung saja ini ujian hari terakhir dengan mata pelajaran yang mudah jadi aku tetap bisa mengerjakannya dengan baik walaupun dalam keadaan secemas ini.


Kring kring kring


Ponselku langsung berdering sesaat setelah ku aktifkan, karena saat sedang ujian tadi ponsel sengaja aku nonaktifkan.


"Hallo."


"Hai, cista. Aku senang sekali mendengar auara indahmu. Hehehe."


"Ada apa lagi Rian?"


"Sebelum aku masuk penjara aku ingin meminta maaf padamu."


"Memangnya kamu habis buat ulah apa lagi sampai masuk penjara?"


"Cista maafkan semua kesalahanku. Aku tau salahku begitu banyak padamu mungkin kamu tidak mau memaafkanku."


"Aku sudah pernah bilang, lupakan rasa benci pada ibumu , terimalah segala keadaan dengan ikhlas maka kamu akan bahagia. Oh ya , aku sudah memaafkanmu. Semoga kamu bisa menjadi orang yang lebih baik lagi."

__ADS_1


"Terima kasih cista. Cista aku ingin jujur tentang satu hal padamu."


"Apa itu?"


" Aku mencintaimu sejak kita masih SMP , tapi aku selalu menutupinya dengan mengganggumu seakan kamu adalah musuhku. Aku hanya ingin kamu tau saja, tidak usah dipikirkan. Cista kamu pantas mendapat banyak cinta dari orang di sekelilingmu, semoga kamu selalu bahagia. Sampai jumpa."


"Tunggu Rian, tadi kamu bilang mau masuk penjara , memangnya kamu melakukan kesalahan apa?"


"Aku yakin sebentar lagi kamu akan tau dari kakakmu atau om hermanmu. Dah cista."


Rian mengakhiri panggilannya, aku jadi penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Aku mencoba menghubungi Aldo dan Sari selaku sahabat sekaligus tetanggaku di Banyumas, aku yakin mereka pasti tau apa yang telah terjadi semalam.


Aldopun menjelaskan segala hal yang ia tau begitupun dengan Sari, aku syok mendengarnya. Aku masih belum percaya dengan apa yang aku dengar. Aku menghubungi om herman untuk mempertanyakan segalanya.


"Kamu sudah mendengarnya?"


"Ya, kenapa kalian tidak memberitahuku?"


"Kami ingin kamu fokus dengan ujianmu."


"Aku sudah dewasa om bukan anak kecil lagi, jadi tolong kalau ada apa-apa beritahu aku, aku juga berhak tau."


"Oke sayang om minta maaf ya, tapi kamu tenang saja ayahmu sudah baik-baik saja sekarang. Pelakunyapun sudah om tahan. Jadi kamu fokus saja pada kuliahmu, cepat mulai kerjakan skripsimu lalu luluslah dengan nilai yang membanggakan oke."

__ADS_1


"Ya ya ya baiklah. Tapi aku ingin tau kejadiannya seperti apa, tolong ceritakan !"


Flashback on (pov herman)


***Bugh bugh bugh ,suara orang berkelahi terdengar sampai jalan , aku dan beberapa warga yang sedang ronda berlari ke arah suara itu dan mendapati dua orang sedang berkelahi, tidak ,tapi lebih tepatnya seorang anak muda sedang memukuli seorang pria paruh baya yang tak lain adalah kakakku handoyo. Pria muda itu tak lain adalah Rian. Rian yang memang dari dulu tidak menyukai mas han tampak membabi buta memukuli mas han hingga tak sadarkan diri, lalu ia juga menusuk perut mas han dengan pisau kecil. Setelah menusuknya Rian mencoba melarikan diri tapi dihalau oleh warga yang sempat menyaksikan tindakkan kejahatannya. Salah satu wargapun berusaha menceritakan segala yang ia tau tentang ibunya.


"Rian ibumu itu bukan orang baik, perlu kamu tau pak handoyopun korban dari keserakahan ibumu. Ia mendekati pak han hanya untuk mengincar tanah-tanah milik pak han,tapi sayangnya ibumu tidak berhasil karena semua surat-surat tanahnya di bawa oleh cista ke Bandung dan telah di ubah kepemilikannya menjadi atas nama cista dan kakak-kakaknya. Kamu salah besar kalau terus menyalahkan pak han dan keluarganya, mereka orang baik, apalagi cista ia gadis yang sangat baik dan berhati mulia walau ia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu bahkan bertahun-tahun hidup tanpa kasih sayang ayahnya. Bertobatlah nak Rian, maka Allah akan mengampunimu."


Setelah itu aku menelpon rekanku di kantor polisi yang bertugas malam, Rianpun langsung di amankan di kantor polisi sementara mas han langsung aku bawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis. Aku bahkan sampai mencari beberapa orang yang bergolongan darah sama denganku agar bisa langsung mendonorkan darahnya takut kalau mas han kehabisan banyak darah karena lukanya. Kebetulan aku memiliki golongan darah yang sama dengan ayah dan mas han ,kakak kandungku***.


"Begitu cista, semua terjadi begitu cepat. Om sangat panik malam itu makanya tidak langsung ngabarin


kalian di sana, baru ingat tadi pagi habis shalat subuh makanya setelah om kembali ke rumah sakit dari kantor polisi om langsung menghubungi kakakmu."


"Oke om, om juga jaga kesehatan ya. Aku merindukanmu, kapan om akan mengunjungiku?"


"Besok saat adik kecilmu sudah lebih besar ya."


"Baiklah, adik kecilku memang lebih membutuhkanmu,hehehe. Besok weekend aku akan pulang bersama Mega."


"Oke sayang, hati-hati ya."


"Ya omku yang bawel."

__ADS_1


(Rian semoga selama di dalam penjara nanti kamu akan belajar memperbaiki diri , semoga kamu bisa mengambil banyak pelajaran dari segala hal yang telah kamu alami).


__ADS_2