
Beberapa bulan kemudian
Aku menerima ajakan mas Reihan untuk main ke rumahnya. Jaraknya hanya satu kilo dari rumah kak clara. Tapi tetap,dia menjemputku dengan motornya.
Aku sangat beruntung memiliki dia di sampingku, walau aku belum memberikan kepastian tentang status kami tapi dia tetap bersabar menungguku. Dia bahkan lebih menjagaku daripada kakak-kakakku sendiri . Dia sangat menyayangiku, aku menyadari itu. Aku juga sangat menyayanginya, aku hanya tidak ingin berpacaràn. Status pacaran bagiku hanya ilusi yang tidak akan pernah aku gapài karena aku memang tidak menginginkannya, hahahaha.
Jika dia masih menungguku hingga aku menyelesaikan kuliahku nanti, maka aku akan langsung mengajaknya menikah saja. Itu lebih baik bukan, ya menurutku itu jauh lebih baik.
***********
Aku sudah berdiri di depan rumah yang sedikit lebih besar dari rumah kak Clara, rumah ini sangat asri dengan hamparan rumput yang menghiasi halaman, bunga-bunga yang indah juga tumbuh di sekitarnya, ada juga beberapa pohon buah yang terlihat. Ini rumah impianku, dengan banyak kaca sebagai dindingnya sehingga pemandangan di luar akan terlihat jelas dari dalam rumah.
"Mas, aku sangat menyukai rumah ini. "
"Aku sendiri yang mendesainnya, jadilah istriku maka rumah ini akan jadi milikmu."
"Mas reihan."
"Ya ya aku akan sabar menunggumu. hehehe."
Kami memasuki rumah itu. Di dalam sana tampak tiga orang yang sudah aku kenal.
"Papa har."
"Cista." Jawabnya.
"Ini benar kamu cis?" Kata mama rita.
"Ya ma ini cista."
Aku berlari memeluk sepasang suami istri yang telah ku anggap sebagai orang tua keduaku itu. Sejak mama meninggal mereka sebagai sahabat mama tidak henti-hentinya mencurahkan segala kasih sayangnya untukku layaknya pada anak kandung mereka. Terlebih ketika ayahku sedang salah jalan, merekalah yang selalu ada untukku selain keluargaku . Jadi mereka adalah orang tua keduaku, aku juga sangat menyayangi mereka seperti orang tua kandungku sendiri. Tapi aku merasa belum pernah bertemu dengan anak-anak mereka, atau mungkin aku yang lupa. Hehehe.Aku benar -benar tidak mengingatnya.
"Pa, Ma. Kalian kenal cista?" Tanya mas rei.
"Ini putri mama sama papa."
"Maksudnya?" tanya mas rei lagi.
"Dia anak om Handoyo rei." jawab papa har.
"Hah."
"Apa ini gadis yang selama ini kamu tunggu?" tanya papa har lagi.
"Ya pa. Dia gadis yang selama ini aku ceritakan."
__ADS_1
"Wah wah wah."
"Baguslah, mama senang sekali kalau putri mama yang akan jadi menantu mama." Sela mama rita.
"Sayang ,biarkan cista ngobrol sama rei dulu, kamu masak gih ."
"Oke pah. Tapi aku masih kangen sama putri kita pah."
"Ya nanti lagi, kan putri kita belum pulang."
"Cista sayang, mama masak dulu. Kamu ngobrol di sini."
"Cista bantu ya ma."
"No, kamu duduk di sini sama reihan dan dzaky. Ngobrol santai saja, biar papa kalian yang bantu mama. Ayo pa."
"Lho kok papa si ma. Dzaky ja tuh yang bantuin."
"Papah."
"Ya ya , aku bantuin. Ayo."
Inikah yang di sebut takdir? Ternyata dua cowok yang mencintaiku adalah anak dari orang tua keduaku. Oh ,tuhan.
"Mas reihan puas?"
"Sangat puas."
"Dasar."
"Jadi aku akan tambah semangat lagi menunggumu."
"Mas Rei yakin mau nungguin aku?"
"Yakin, sangat yakin."
"Baiklah. Tunggu aku 4 tahun lagi."
"Tapi saat kamu lulus SMA nanti kita tunangan dulu, gimana?"
"Oke, tidak masalah."
"Cista kamu serius mau?"
"Ya aku mau mas rei."
__ADS_1
"Terimakasih." Ucapnya girang sambil memelukku.
"Hheeeeehhh kak rei jangan peluk -peluk cista di depanku, kalian membuatku iri saja." Kata kak dzaky.
"Jalan aja sana sama cewek kamu kalau iri."
"Aku lagi jomblo kak rei."
"Masa, kok aku ngga percaya ya. Adik aku yang playboy sekarang jomblo."
"Aku mau tobat kak, aku menyukai gadis baik-baik kali ini jadi aku ingin memantaskan diriku untuknya."
"Bagus deh kalau kamu tobat. Siapa gadis itu, apa dia mau sama kamu ?"
"Sayangnya dia sudah menolakku ."
"Kasihan banget kamu de."
"Tidak masalah kak, aku akan menunggunya. Bahkan bila perlu aku akan menunggu jandanya."
"Kok playboy insaf sekarang jadi bucin."
"Kak aku ke kamar dulu."
"Oke."
Aku tau dengan pasti siapa yang kak dzaky maksud. Tapi akupun tidak bisa berbuat apapun. Aku tidak bisa memaksa hatiku untuk membalas perasaannya yang telah terlebih dulu ku berikan pada mas rei.
"Cis, ikut aku."
"Ke mana?"
"Ayo,ikut saja."
Aku mengikutinya ke arah belakang rumah ini. Wahhh, aku terpesona melihat taman yang lebih indah dari yang ada di depan rumah, di tengah taman itu ada sebuah kolam renang. Ini benar-benar rumah impianku.
"Kamu menyukainya."
"Ini seperti rumah impianku, kenapa selera kita sama?"
"Aku bahkan tidak tau kalau kamu memimpikan rumah seperti ini. Berarti kita memang dua hati yang di takdirkan menjadi satu."
"Mas rei ternyata bisa gombal ya. Aku ingin naik ayunan itu."
"Naiklah."
__ADS_1