Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
88


__ADS_3

Tabur bintang di hamparan luasnya langit menambah indah sang malam yang bagaikan siang karena bias purnama merajai.


Seorang perempuan dengan sorot mata penuh kebencian sedang menikmati minuman haram di sebuah balkon apartemennya yang terletak di tengah kota bandung. Dia sedang merasakan sakit yang teramat di hatinya karena mendengar laki-laki yang dicintainya ternyata sudah menikah,bahkan sedang menanti sang buah hati lahir.


"Kamu menolakku hanya untuk wanita yang memakai jubah setiap hari hah? Akan ku pastikan kamu tidak bahagia, lihat dan tunggu saja haris ! Kamu akan mengemis cinta padaku setelah ini. Hahahahahahaha." Kata Meli di hadapan sebuah foto , di sana ada gambar dirinya bersama teman-temannya semasa kuliah dulu.


Ke esokan harinya cista sedang berkunjung ke smansa caffe di antar oleh pak nino.


"Ndu bapak nunggu di taman belakang ya." Kata pak nino pada cista.


"Ya pak, saya cuma sebenar kok."


Cistapun menemui Reza di ruangannya. Masih ingat kan dengan Reza? Reza adalah sahabat Dzaky yang sekarang menjadi orang kepercayaan cista di smansa caffe dan hits caffe.


"Assalamu'alaikum a reza."


"Ya ampun cista bikin kaget aja, kan aku jadi lupa menghayalnya sampai mana,hehehe."


"Lagian ini kan masih pagi a , masa ngalamun?"


"Hehehehe, habisnya nungguin kamu lama cis."


"Nganterin hito dulu tadi a. Gimana caffe?"


"Bagus, bahkan makin rame karena ada live musiknya pas weekend."


"Alhamdulillah."


"Laporannya udah aku kirim lewat email barusan."

__ADS_1


"Oke makasih ya A, udah bantuin aku ngurus caffe."


"Justru aku yang harusnya maksih cis, di kasih kepercayaan yang begitu besar seperti ini. Aku jadi bisa bangkit sedikit demi sedikit, ibuku juga sudah sembuh."


"Aku mau lihat karyawan dulu ya a, pasti udah banyak yang datang kan?"


"Oke, mau di temenin ngga? Bumil ngga boleh sendirian lho."


"Kan banyak orang a."


"Hehehehe, hayu ah aku temenin daripada aku ngalamun lagi."


"Oke deh."


Tok tok tok " Mba cista."Seorang karyawan mengetok pintu sebelum cista dan reza sempat keluar.


"Ya ada apa?"


"Siapa?"


"Ngga tau mba, belum pernah lihat."


"Oh, ayo kita temui orang itu."


"Assalamu'alaikum. Selamat pagi. Apakah benar anda mencari saya?" Sapa cista saat bertemu seorang wanita yang katanya mencari dirinya.


"Oh jadi ini yang namanya cista?"


"Betul mba. Ada keperluan apa dengan saya ya mba? seingat saya kita belum pernah bertemu sebelumnya."

__ADS_1


"Aku mau ngasih tau kamu tentang suamimu."


"Oh begitu, kalau boleh tau dimana anda kenal suami saya?"


"Kami bersahabat dulu saat kuliah."


"Oh, lalu?"


"Aku ke sini untuk memberikanmu amplop ini,di dalamnya berisi penjelasan tentang bagaimana suamimu sebenarnya."


"Baik. Terima kasih ya mba sudah repot-repot memberi tahu saya tentang mas haris, sekali lagi terima kasih. Nanti di rumah saya akan buka amplopnya."


Melipun pergi dari sana tanpa berpamitan pada cista, main nylonong aja kaya daun kering kena angin.


"A reza aku balik dulu ya."


"Hati-hati ya cis."


"Oke."


"Aku panggilin pak nino di belakang, kamu tunggu di dekat mobil aja."


"Makasih ya a."


"Aman."


( Rupanya waktunya telah tiba. Dia sudah kembali dan mulai mengganggu ketenteraman keluargaku. Jangan harap kamu akan berhasil meli, kamu hanya sahabat yang terobsesi ingin memiliki mas haris, cintamu yang bertepuk sebelah tangan membuatmu gelap mata. Untung saja mas haris sudah menceritakan semuanya padaku, jadi aku tidak kaget akan kedatanganmu hari ini.) Batin cista.


Setelah menyerahkan amplop yang berisi beberapa foto melipun kembali ke apartemennya. Ia begitu bersemangat,karena pikirnya ,cista pasti akan terprovokasi dengan foto itu dan akhirnya berantem dengan haris. Dia tidak tau bahwa cista sudah tau tentang seorang wanita yang merupakan sahabat semasa kuliah haris dulu yang terobsesi ingin mendapatkan haris.

__ADS_1


"Kita bersantai sambil menunggu negara api menyerang,hahahaha. Aku akan membuat hidupmu hancur karena selalu menolakku haris,lihat saja."


__ADS_2