Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
109


__ADS_3

Waktu berganti, tidak terasa Calli sudah berhasil menyelesaikan s1 nya di usia yang ke 17 tahun lebih sedikit. Wajarlah ,dia memang salah seorang yang terlahir dengan otak di atas rata-rata terlebih kedua orang tuanya juga mempunyai kecerdesan di atas rata-rata juga.


"Waduh, bidadari dari mana ini kok ada di kamar putriku?"


"Ihhh papah, masa ngga ngenalin Calli."


"Masa sih ,ini beneran Calli? "


"Papah."


"Ok ok, habisnya papah pangling nak. Kamu jadi tambah wooouu kalau makeup begini."


"Hehehehe, papah bisa aja. "


"Tapi tetap mamah kamu yang nomor satu sih."


"Huuuu dasar bucin."


"Namanya juga cinta modar ,hehehe."


"Semoga kelak aku memiliki suami seperti papah, yang setia , penyayang, dan sangat bucin."


"Amin. Papah selalu mendoakan yang terbaik buat kamu nak. Papah yakin kelak kamu akan mendapat yang jauh lebih baik dari papah."

__ADS_1


"Calli, sudah siap belum?" Teriak Cista di bawah tangga.


"Ya mah, ini mau turun."


Acara wisudapun berjalan lancar dengan Calli sebagai lulusan terbaik tahun ini. Rasa syukur yang tak terkira selalu Haris dan Cista ucapkan kepada yang diatas, tentunya kepada sang maha pemberi.


Ke esokan harinya Calli sedang bersiap di dalam kamarnya karena hari itu ia akan mulai bekerja bersama sang papah untuk belajar memimpin semua usaha milik keluarganya.


Ia memoles tipis wajahnya, karena ia tidak suka makeup yang tebal tentunya. Dengan setelan kantor berwarna maron calli tampak sangat memukau pagi itu.


"Papah Calli udah siap ke kantor nih ,buruan deh pah jangan sibuk membuat adonan boneka lucu terus jadi juga ngga dari aku kecil. Calli ngga mau punya adik di umur segini ya pah, buru papah Calli tunggu di ruang makan , tidak boleh lebih dari 10 menit pokoknya." Kata Calli di depan pintu kamar kedua orang tuanya, sementara yang di dalam kamar hanya tertawa mendengar ocehan putrinya.


"Ada apa si dek?"


"Hehehe, biarin aja sih dek. Biar kita punya adik lagi."


"Moh, pokokke moh aku due adik."


"Lah kenapa?"


"Masa udah 17 tahun lebih baru punya adik, kan ngga lucu. "


"Hi hi hi. Kamu lucu dek, gemes deh kalau lagi cemberut gitu." Kata haris sambil mencubit pipi Calli.

__ADS_1


"Udah ah kak, jangan cubit aku terus, aku udah besar tau bukan anak kecil lagi, masa aku imut terus sih?"


"Kamu akan selalu imut di mataku."


"Heleuh, kakak pintar kali kalau gombal."


"Siapa yang gombal si dek, andai saja tidak ada status keluarga di antara kita , aku pasti akan melamarmu dan menjadikanmu wanita satu-satunya dalam hatiku."


"Oke bye, aku mau sarapan." Kata Calli berusaha mengalihkan pembicaraan.


Tanpa keduanya sadari pembicaraan mereka di dengar oleh kedua orang tua mereka di balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Cista dan Haris hendak keluar dari kamar namun saat mendengar pembicaraan kedua anaknya mereka menghentikan langkah dan menguping di balik pintu.


Haris dan Cista sudah mengira kalau kejadian seperti ini pasti akan terjadi, tapi mereka tak mengira kalau akan secepat ini kejadiannya. Mungkin setelah ini mereka akan memikirkan dan membicarakannya bersama Dzaky , untuk memutuskan bagaimana kedepannya, langkah apa yang harus mereka tempuh untuk kedua anaknya itu.


"Pagi Calli, kak hito. " Sapa Vano saat keduanya baru turun dari tangga.


"Pagi." Jawab keduanya serempak.


" Kak Vano ayo sarapan dulu." Ajak Calli pada Vano.


"Saya sudah sarapan nona."


"Yah ngga asik, sekali - kali sarapan bareng di sini kak vano."

__ADS_1


"Baiklah lain kali ya nona, hehehe. "


__ADS_2