Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
7


__ADS_3

Weekend pun tiba. Kami akan mengikuti persami (perkemahan sabtu minggu). Aku sedang sibuk mendirikan tenda bersama 4 orang teman lainnya. Sementara yang lain sudah mendapat tugasnya masing-masing, ada yang belanja di pasar, ada yang menyiapkan dapur kaget di area luar tenda,dan ada pula yang bertugas membawa air bersih untuk keperluan memasak. Tenda cowo dan tenda cewe di buat terpisah walaupun hanya sebelahan saja. Karena tujuan persami ini adalah untuk semakin mengakrabkan antar siswa siswi, selain itu juga untuk membentuk kerjasama team yang solid di setiap kelas. Intinya biar makin akrab dan dekat lah. Tak kenal maka tak sayang,benar begitu.


Setelah tenda dan dapur siap kami memasak bersama untuk makan malam.


"Siapa di antara kalian yang bisa masak?" Ketua kelas kami bertanya.


Semuanya terdiam, akhirnya aku menawarkan diri untuk memasak, kebetulan sejak ibu tiada kak clara mengajariku banyak hal termasuk memasak. Semoga saja hasilnya nanti sesuai selera mereka. Hehehe.


"Aku bisa sedikit memasak."


"Oke cista yang akan memasak yang lainnya juga harus membantu. Mari kita mulai. Cista berikan intruksi kepada kami."


"Baik,pak ketua. Hehehe. Ardi dan indah tolong cuci beras terlebih dahulu. Ada yang mencuci ayam, ada yang memotong kangkung(mencontohkan cara memotong kangkung), ada yang memtong tempe (mencontohkan memotong tempe) , kupas semua bumbu yang ada di piring ini, setelah terkupas semua kita ulek. Ayo semuanya bekerja."


"Siap komandan."


"Cis, ayamnya sudah."


"Oke,kemarikan. Kita bumbui dengan bumbu yang telah kita ulek ini."


"Buat apa ini?"


"Kita akan membuat rica-rica ayam, semua suka pedas bukan?"


"Tau saja sih, yang super pedas cis."


"Siap."


"Cis, berasnya sudah nih." Kata indah.

__ADS_1


"Oke, kasih air bersih sebatas ruas jari telunjuk yang kedua."


"Segini,cis."


"Yup,pinter."


"Ya dong ,indah gitu loh."


"Wah, wangi banget, kalian masak apa?" Tanya pak Reihan yang baru saja sampai.


"Eh,pak Reihan. Untung di kelas kita ada koki pak." Asep sang ketua kelas berbicara.


"Ya ni pak, ada calon isrti idaman di kelas kita, udah pinter,cantik,baik, suaranya bagus, pinter masak pula." Kata Ardi.


"Kalau begitu bagaimana jika cista menjadi istri saya saja." Pak Reihan tiba-tiba berkata.


Hahahaha gelak tawa terdengar dari area tenda kelas kami.


Aku hanya diam dan tersipu malu. Sambil terus melanjutkan memasak. Sementara yang lain bergilir memasuki kamar mandi di depan kelas masing-masing untuk mandi. Beberapa kali pandanganku bertemu dengan pak Reihan, itu membuatku seperti tersengat aliran listrik, seperti telah berlari marathon 200 meter. Jantungku seakan meledak karena berdetak sangat cepat. Setelah semua matang akupun mandi, sebagian yang lain membersihkan peralatan memasak dan dapur kaget.


"Cis, masakan kamu sangat enak." Kata pak Reihan ketika aku sedang duduk di belakang teman-teman, agak jauh di belakang mereka yang mengelilingi api unggun.


"Terimakasih pak."


"Kamu tidak ikut yang lainnya di depan api unggun?"


"Nanti saja pak."


"Cis, kamu tidak mengingatku?"

__ADS_1


"Sebenarnya wajah pak Reihan tidak asing untukku, tapi saya lupa di mana kita pernah bertemu sebelumnya, takutnya salah orang."


"Cista, menikahlah denganku."


"Hahahahaha bercandanya kurang lucu deh pak."


"Aku serius."


"Saya baru masuk SMA pak, saya juga belum genap 14 tahun pak. Lagian masa iya sih pak Reihan tidak punya kekasih."


"Aku tidak punya kekasih cista, aku sedang menunggu gadis yang pernah ku tolong setahun yang lalu,gadis itu membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama ."


"Siapa gadis itu pak?"


"Usianya sama denganmu, saat itu dia hendak dilecehkan oleh temannya, dan aku menolongnya."


Deg, jantungku berdetak tak teratur. Jadi orang ini yang menolongku dari Rian, doaku terkabul untuk bisa bertemu lagi dengan pahlawanku. Air mata menetes tanpa permisi.


"Cis,kenapa menangis?"


"Terimakasih karena sudah menolong saya saat itu."


"Jadi, apa kamu mau menikah denganku setelah cukup umur nanti?"


"Jangan bercanda pak."


"Aku tidak bercanda cista, aku akan menunggu hingga waktu itu tiba, kamu akan jadi istriku, ingat itu."


"Aku terngangap , tak tau akan berkata apa."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu iapun mendekat ke api unggun menyusul yang lainnya.


Dari jauh, arah kananku ,tampak seorang laki-laki yang sedang memperhatikan semuanya, ya dia orang yang bertabrakan denganku di hari pertama masuk sekolah kemarin. Dzaky, ya kalau tidak salah namanya itu.


__ADS_2