Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
50


__ADS_3

Derai hujan,gelegar petir dan serbuan badai membuat malam ini semakin kelabu,mencekam. Aku masih berdiri di balkon kamar,meratapi takdir yang sedang ku jalani.


Akankah aku lulus kali ini? Akankah aku mampu melewati ujian hidup kali ini? Ujian kali ini begitu berat terasa , aku ingin menyerah . Bolehkah aku egois, sekali ini saja, aku ingin memikirkan kebahagianku sendiri.


Tapi jika aku egois, bagaimana dengan kedua keluargaku, bagaimana dengan hito?


Inikah yang ia sebut dengan cinta?


Sesakit inikah duri yang terlindung di balik keindahan cinta?


Ya Allah, jika ini yang terbaik untukku aku ikhlas, tolong bimbing aku untuk selalu taat , dan ihklas menerima segala kehendakmu.


"(Bismillah, aku izinkan suamiku berpoligami , aku tidak ingin suamiku terus menerus menabung dosa dengan berzina. Aku ihklas ya Allah, aku ihklas.)" Batinku, ya jika memang ini yang terbaik untuk semua orang, maka aku akan mengihklaskannya. Semoga aku mampu dan kuat menghadapi segala hal yang mungkin akan terjadi ke depannya.


***Janganlah engkau larut dalam kesedihan


menangislah


karena kadang


air mata mampu membuatmu bertahan


lepaskanlah segala beban


keluarkanlah

__ADS_1


itu semua lumrah


karena yang salah


benci di dalam hati


dendam yang akan mengerosi kesucian jiwa


usaikanlah tangismu


tersenyumlah


nikmati segala rasa perih itu


hanya dirimu yang memahami


sakit di hatimu***


Setelah puas berbicara dengan batinku sendiri, akupun tidur, berharap akan datang mimpi indah yang akan membuatku lupa akan masalah yang sedang ku hadapi saat ini.


" Cista."


Aku mendengar suara yang begitu familiar memanggilku. Aku mencari dan mendekat ke arah sumber suara. Tampak dari kejauhan berdiri seorang laki-laki yang tengah memandang indahnya danau dan hamparan taman bunga.


Semakin dekat, aku semakin merasa familiar dengan tubuh tegapnya, harum aroma tubuhnya. "Mas rei."

__ADS_1


"Hei sayang, kamu datang?"


"Mas rei aku kangen, kenapa mas rei pergi? Aku sedih." Ucapku seraya berhampur memeluknya.


"Jangan sedih sayang, mas selalu ada disini." Jawabnya sambil menunjuk letak hatiku berada.


"Mas rei, suamiku jahat, dia mengkhianatiku, aku terluka. Mas rei tau , aku mengizinkannya berpoligami, tapi itu menyakitkan, aku rasa aku ingin menyerah saja, bolehkah?"


"Maafkan aku sayang, andai saja kita masih bisa bersama, aku tidak akan membiarkanmu terluka seperti ini, maafkan aku."


"Kenapa mas rei minta maaf. Mas rei tidak salah. Ini semua takdir. Aku yang terlalu lemah, hatiku yang terlalu rapuh. "


"Cista, kamu adalah wanita terkuat yang pernah ku kenal. Bertahanlah sayang, aku yakin kamu mampu. Aku yakin setelah kesulitan ini kamu akan mendapat kebahagian yang berlipat ganda. Aku akan selalu menemanimu di sini."


"Ya, mas rei aku ingin di sini saja bersamamu."


"( Ternyata cuma mimpi, huft. Aku rindu mas rei, kenapa Allah memanggilmu begitu cepat.)" Kataku dalam hati ketika terbangun di dini hari. Ku langkahkan kakiku untuk mengambil wudhu, ku dekatkan diriku pada sang maha pemilik. Ku pasrahkan segala takdir yang menjadi kuasanya akan diriku.


Aku mencoba ikhlas, aku mencoba rela. Insyaallah aku mampu. Setelah tahajud kulanjutkan dengan dzikir dan tadarus. Alhamdulillah hatiku semakin tenang, aku semakin bisa ihklas menerima kenyataan.


Setelah subuh, aku memulai aktifitasku seperti biasa. Di mulai dari memasak, menyapu,mengepel, membangunkan hito untuk bersiap sekolah lalu mengantarkannya ke sekolah.


Sampai aku pulang dari mengantar hito ke sekolah aku belum juga melihat mas dzaky pulang ke rumah. Hal itu membuatku sedikit sadar, mungkin memang aku sudah tersisih dari hidupnya. Buktinya dia tidak ada niat untuk pulang setelah keributan di supermarkat tempo hari. Ternyata hanya sebatas inilah cinta yang ia berikan, dan itu membuatku semakin merindukan mas rei.


"(Maafkan aku ya Allah, aku masih mandambakannya. Aku juga sering membandingkan suamiku dengannya, maafkan aku.)"

__ADS_1


__ADS_2