
Paginya, aku terbangun saat adzan subuh berkumandang. Aku memaksakan diri untuk melakukan aktifitasku seperti hari biasanya. Usai shalat aku membantu kak clara memasak di dapur, sarapan lalu mencuci piring kemudian mandi dan bersiap ke kampus. Hari ini kuliahku di mulai jam 09.30. Aku berjalan ke jalan utama, untuk menunggu angkot. (Biar ngirit guys,jadi kalau tidak terburu-buru cukup naik angkot,hehehe).
Saat sedang menunggu angkot, berhentilah sebuah mobil yang familiar bagiku. Membunyikan klakson berulang kali sehingga mengagetkanku yang sedang berdiri melamun, entah memikirkan apa. Tapi yang membawa mobil itu bukan orang yang ku harapkan. Ya, itu mobil mas rei tapi di bawa oleh kak dzaky.
Kak dzaky menyuruhku untuk masuk karena ada hal mendesak yang harus kami lakukan dengan segera. Aku belum tau hal apa, tapi dari raut wajahnya gampak kecemasan jadi aku menurutisaja kemauannya.
"Kak ini bukan jalan ke kampus, memangnya ada hal apa sih?"
"Nanti kamu juga akan tau."
"Pokoknya apapun yang akan terjadi nanti kamu harus kuat ,oke."
"Ada apa si kak, jangan bikin deg degan deh. Kok aku takut ya. Mas rei baik-baik saja kan kak?"
" Semoga saja."
"Kok semoga si kak, tadi malam mas rei ke rumah pakai mobil ini , dia baik kok."
"Kita berdoa saja semoga Mas rei baik-baik saja."
"Kak jangan bikin aku tambah takut deh. Kak kok ke rumah sakit sih?"
Kak dzaky diam, fokus memarkirkan mobilnya. Lalu menarik tanganku dan berjalan tergesa-gèsa membuat aku kepayahan menyesuaikan langkah kakinya yang panjangnya dua kali lipat dariku.
__ADS_1
Berhentilah aku di sebuah ruangan. Di dalamnya tampak seseorang terbaring dengan wajahnya yang pucat dan luka yang parah di kaki,tangan dan badannya. Aku membeku sesaat, lalu berlari ke arahnya memeluknya dengan pelan agar tidak menyakitinya. Aku menangis,hingga air mataku membangunkannya karena menetes di wajahnya. Wajah tampan yang selalu ku rindukan , wajah tampan itu semakin memucat menahan sakit . Aku tidak tega melihatnya.
"Jangan menangis, sayang." Katanya saat terbangun.
"Kenapa seperti ini?" Tanyaku.
Diapun menceritakan bahwa semalam dia terpaksa menemui siska.
***pov reihan
flashback on***
"Temui aku di caffe Www. Kalau tidak maka esok hari cista akan tinggal nama."
Di sana tidak terjadi apa-apa hanya mendengarkan siska ngobrol bersama laki-laki yang tempo hari bertemu kita di pantai, laki-laki yang bernama Dion. Ternyata aku datang ke sana hanya sebagai alat pembayaran bagi mereka. Setelah itu aku pulang, dalam perjalanan ada sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi,truk itu sengaja menyrempet motorku. Aku oleng, apalagi rem motor yang ku kendarai tiba-tiba blong padahal pas berangkat remnya masih bagus.
Akhirnya terjadilah kecelakaan itu. saat masih sadar samar-samar aku mendengar suara siska.
"Syukurin kamu, salah sendiri ngga nurutin mauku. Sorry reihan, semoga kamu masih selamat ya supaya bisa tetap menikahi tunanganmu kecilmu itu. Tapi aku berharapnya kamu mati. Selamat tinggal reihan, oh ya , anak ini memang bukan milikmu tapi milik dion kekasihku."
flashback off
"Aku tersadar kembali setelah semalaman di rumah sakit, tadi pagi aku langsung menghubungi dzaky menggunakan ponsel salah satu perawat. Aku menyuruh dzaky mengajakmu ke sini karena ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian. "
__ADS_1
"Ngga usah banyak bicara dulu. Nanti saja setelah sembuh baru kita bicara."
"Tidak cista aku harus bicara sekarang."
Akupun tidak bisa mencegahnya lagi. Dia mengatakan kalau dia ingin dzaky menjagaku . Memintaku untuk tetap menjadi diriku yang selalu ceria,pintar,baik dan penuh semangat.
"Cista jika memang aku harus pergi setelah ini aku ingin kamu membuka hati untuk laki-laki lain. Aku yakin di luar sana akan banyak laki-laki yang menginginkanmu. Kamu baik,cantik,pintar dan menggemaskan, ngga akan ada laki-laki yang menolak pesonamu itu,hehehe. semoga kelak kamu mendapat jodoh yang baik. Maafkan aku karena aku harus meninggalkanmu secepat ini."
" Jangan bercanda mas, sakit sakit masih sempat bercanda. Mas reihan pasti sembuh, jangan bicara seperti itu." Jawabku sambil terus terisak. Aku terus memeluknya, aku tertegun saat tak merasakan nafasnya serta detak jantungnya yang kian melemah dan akhirnya hilang.
"Mas rei, mas." Panggilku tapi ia tetap diam, aku mengecek nadinya. "Tidak, tidaaaakk. Mas reihan, bangun mas, aku mohon jangan pergi. Kak dzaky cepat panggil dokter." Kataku dengan berteriak.
"Maaf dek pasien sudah meninggal." Kata dokter setelah mengecek keadaannya.
"Tidak mungkin dok, barusan dia berbicara panjang padaku, dokter pasti salah. Coba periksa lagi dok."
"Maaf, pasien memang sudah meninggal. Kami turut bersuka cita. Yang sabar ya, ini sudah menjadi ketentuan tuhan."
Aku menangis ,meneriakkan namanya berulang kali dalam peluknya berharap dia akan kembali bangun. Namun harapanku hanya harapan karena tuhan tetap tak membiarkan ia bangun. Tuhan ingin dia kembali ke sisinya . Waktuku dengan mas rei telah habis, mas rei benar-benar menepati janjinya padaku, bahwa hanya tuhanlah yang akan benar-benar bisa memisahkan kami.
"Cis ikhlaskan,jangan seperti ini. Biarkan kak reihan tenang di sisiNya. Ambil hikmahnya, sekarang kita jadi tau kalau kak rei di fitnah. Kak rei tidak pernah menyakitimu, dia tetap setia padamu hingga akhir hayatnya."
"Untuk apa aku tau kebenaran ini kalau akhirnya aku benar-benar kehilangan dia kak."
__ADS_1
"Tuhan pasti punya rencana yang lebih indah untukmu. Tunggu di sini aku akan menyelesaikan segala prosedur untuk membawa kak rei pulang. Jangan kemana-mana, jangan macam-macam. Ingat kamu masih punya keluarga, kamu juga punya mama papa dan aku. Tunggu ya, aku akan segera kembali."