Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
107


__ADS_3

"Kakak ada tamu."


"Siapa?"


"Cewe cakep. Kakak diam-diam punya pacar ?"


"Hehehehe, biarin emang kamu jomblo." ( Kakak melakukan ini demi melupakan perasaan kakak padamu calli) ,lanjut haris dalam hatinya.


"Udah sana buru temuin kasihan nunggu lama-lama."


"Ya ya bawel. Dek buatin minum dong."


"Kan ada bibi di dapur kak."


"Please."


"Hissstt ya ya,nyebelin banget sih jadi kakak."


"Hehehe, kamu tambah cantik deh kalau manyun gitu dek."


"Udah dari orok aku cantik."


"Udah hayu turun sebelum aku berubah pikiran."


"Terima kasih ya sayangku."


"Hmmm,tapi beliin aku sepatu baru ya !"


"Oke lah ,apapun untukmu sayang."

__ADS_1


"Hasiiikk."


Begitulah Haris dan Calli saling mencurahkan kasih sayang tulus , walaupun mereka juga sering berdebat tentunya.


"Maaf ya lama menunggu." Kata haris pada kekasihnya. Seorang wanita cantik bernama Cindy, selain sebagai kekasih ia juga merangkap sebagai sekretaris haris di kantor.


"Hehehe sudah biasa, kamu selalu membuatku menunggu. Si cantik mana, kangen nih lama ngga ke kantor dia."


"Bentar lagi juga dateng dia, tadi aku minta tolong untuk membuat minum."


"Hay kak cindy, ini minum dulu agar tidak haus selama perjalanan nanti."


"Calli ikut yuk, nemenin kakak."


"Kalau aku ikut kalian ngga akan bisa berkencan setelah urusan perkerjaan selesai."


"Anak cantik kamu memang pengertian."


"Betul banget calli kakakmu memang sukanya bikin kesel."


Setelah ngobrol lumayan lama Haris dan Cindypun pergi ke kota J untuk bertemu clien sekaligus memantau perkembangan pembangunan hotel baru.


Beberapa bulan yang lalu Haris menerima modal usaha dari papa dan ayahnya (Dzaky), ia menggunakan dana itu untuk membangun sebuah hotel di kota J karena ia memiliki sebidang tanah pemberian dari keluarga ibu kandungnya.


Malam harinya di sebuah hotel di kota J, haris duduk di balkon sebuah hotel seorang diri mencoba menghirup asa yang ia inginkan, dan menyumpannya rapat di dalam rongga dadanya.


Hidup memang penuh misteri,kita tak pernah tau apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Kita tak pernah tau takdir apa yang akan menyapa kita.


Seperti Haris , ia tak pernah menyangka jika ia harus mengalami rasa sesesak ini di hatinya. Mencintai yang tak mungkin. Kini hanya asanya yang coba ia raih,asa yang ingin memusnahkan segala rasa cintanya . Asa yang ingin menganggap Calli hanya seorang adik saja. Entah berapa lama ia harus merajut asa itu hingga lega dalam genggaman.

__ADS_1


Haris akan sangat merasa bersalah jika sampai ia tak bisa memusnahkan rasa itu terlebih saat ini harus ada perasaan yang ia jaga,perasaan seorang wanita yang begitu tulus mencintainya. Cindy, seorang gadis yang telah lama mencintainya namun baru sekarang ia beri kesempatan untuk menghiasi hari-harinya,dengan harapan cindy mampu membantunya melupakan rasa cintanya pada Calli, egois mungkin kata itu cocok untuk menggambarkan dirinya saat ini.


Tok tok tok ,suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Haris.


"Cindy, sudah siap ya? Tunggu sebentar ya aku ambil jaket dulu."


"Oke."


Setelah mengambil jaketnya iapun bergegas keluar dari kamar. Ia gandeng tangan cindy menuju tempat parkir di mana sebuah motor sewaan telah teronggok indah menanti mereka.


"Kita mau ke mana?"


"Aku punya rekomendasi tempat makan enak dekat dari sini."


"Kenapa ngga pakai mobil?"


"Macet sayang. Kamu ngga suka pakai motor?"


"Suka, suka banget malah."


"Ya pasti sukalah, kan mau peluk-peluk aku ?"


"Hehehe, kok tau sih."


"Tau lah, kamu mah isi otaknya gampang di tebak."


"Ihhh nyebelin deh."


"Tapi kamu cinta kan?"

__ADS_1


Cindy menunduk ,menyembunyikan rona merah di pipinya karena malu. ( Apa perasaanku terlalu jelas untuk di lihat?) Tanyanya dalam hati pada dirinya sendiri.


__ADS_2