
"Alhamdulillah selesai, saatnya kirim. Aduh banyak gini, gimana bawanya? Ahaaa, aku bawa segini dulu ah nanti minta bantuin Asep." Gumamku.
pov dzaky
Ku pandangi dia yang telah ku sakiti, wanita yang selalu sabar menghadapi sikap nakalku. Wanita mandiri yang tidak pernah menuntut banyak dariku, betapa aku telah kehilangan otakku karena berulang kali menyakitinya.
Akupun bingung kenapa aku kembali bermain wanita seperti dulu saat aku masih SMA, aku merasa di duakan oleh cista yang sibuk mengurus toko online dan mengurus anakku hito.
Lalu dengan mudahnya aku mencari wanita diluar dan bermain api, yang akhirnya membuatku terbuai untuk melakukan dosa. Dosa karena zina dan dosa karena menyakiti istri mulia seperti cista.
Aku melihatnya kesulitan membawa barang pesanannya ke tempat pengiriman, dia lucu sekali saat sedang kesal seperti ini. Itu membuatku gemas,dan membuatku tersenyum.
"( Istriku kamu lucu, aku jadi semakin ingin mendekapmu. Maafkan aku sayang, lagi-lagi aku membuatmu terluka. Aku akan membawa sisanya dan mengejutkanmu.)"
Akhirnya aku membantunya dengan membawa sisa barang itu. Untung saja jasa pengirimannya terletak sangat dekat dengan rumah kami, hanya di seberang jalan di depan rumah mungkin kalau di hitung dengan langkah tak akan lebih dari 30 langkah,hehehe.
"Eh mba cista, hari ini banyak ngga?" Tanya pemilik jasa pengiriman itu yang bernama pak bambang.
"Lumayan nih pak bambang, ada 35 alamat tujuan."
"Wah, itu sih banyak. Ayo atuh kita mulai."
"Silahkan pak, aku ambil sisanya dulu ya."
"Oke."
"Pak, aku pinjam Asep ya."
__ADS_1
"Ya mba, bawalah , jangan sampai lecet ya mba kasihan belum dapat jodoh."
"Si bos mah suka merendahkanku."
"Memang benar kan sep."
"Ya si bos, habisnya nyariin yang kaya mba cista langka bos."
"Ngimpi kamu sep. Sudah sana bantuin mba cista."
"Ya ya bos."
Aku dan aseppun melangkah menuju rumah untuk mengambil sisanya, tapi langkah kami terhenti ketika melihat suamiku membawa dua karung berisi sisa barang yang akan ku kirim.
"Sayang ini sisanya." Katanya sambil menyunggingkan senyum menawannya. Aku membalas senyumnya dengan terpaksa, aku masih di landa rasa kecewa yang tak tau kapan bisa mereda. Rasa kecewa kali ini benar-benar dalam dan bukan hanya menggores hati saja tapi justru melukai hatiku begitu dalam.
"Wah perhatian sekali ini mas dzaky."
"Terima kasih mas." Kataku menghargai bantuannya. Aku berusaha bersikap biasa saja, aku tidak mau mengumbar masalah kami di depan umum, walaupun mungkin masalah kami sedang viral dan banyak di perbincangkan.
"Sama-sama sayang, aku tunggu di rumah." Jawabnya sebelum kembali ke rumah.
"Mba cista sabar banget sih jadi istri?"
"Maksudnya apa sep?"
"Aku lihat berita mba di sosmed kemarin,viral lho mba."
__ADS_1
"Oh, biasa aja sep, aku percaya saja sama yang di atas."
"Yang sabar ya mba !"
"Insyaallah sep."
"Kalau mba cerai jadi janda aku mau kok mba meminangmu."
"Ngimpi sep, mba cista mana mau sama kamu."
"Siapa tau kan bos, jodoh kan misteri ilahi."
Aku hanya tersenyum menanggapi mereka. Jujur saja ada sedikit rasa malu ketika aku harus keluar rumah dan berhadapan dengan orang lain, pasti ada yang beranggapan kalau aku tidak becus menjadi seorang istri.
Ya mungkin memang itu kenyataannya, aku tidak becus, aku bukan istri yang baik dan layak untuk mas dzaky. Banyak sekali kekurangan yang ada pada diriku, ya aku manusia biasa yang penuh salah dan khilaf. Mungkin benar aku tidak mampu membagi waktu untuk anak,suami dan pekerjaan. Makanya mas dzaky mencari kesenangan di luar rumah.
Itu yang membuatku sadar dan memutuskan untuk bertahan walau sakit. walau entah sampai kapan sabar ini mampu ku tahan.
"Ongkirnya seratus dua puluh lima ribu mba cista."
"Kok sedikit pak?"
"Ya memang segitu mba, barangnya ringan -ringan sih."
"Oke lah pak, ini kembaliannya buat beli es saja pak."
"Terima kasih ya mba cista, semoga semakin laris manis, semakin sukses."
__ADS_1
"Amin. Kalau begitu saya permisi ya pak, besok pasti kembali lagi, hehehe."
"Siap mba. Hati-hati nyebrangnya, hehehe."