Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
82


__ADS_3

Hari pernikahanpun tiba,semua berjalan dengan lancar dan khidmat walaupun di lakukan di sebuah ruang rawat salah satu rumah sakit mengingat cista belum diizinkan untuk pulang.


Haris melantangkan ijab qobul dengan penuh keyakinan dan semangat 45, hanya dengan satu kali tarikan nafas walaupun suaranya sedikit bergetar karena grogi. Tangannya yang bersalaman dengan ayah cistapun mengeluarkan keringat dingin. Tapi semua itu sirna setelah kata SAH menggema di ruangan itu.


Cistapun tak kalah gugup, walaupun ia hanya duduk di sisi ranjang dengan gaun pengantin muslimah berwarna putih tulang, riasan wajah yang tipis guna menutupi kulit pucatnya yang tambah pucat karena kondisinya yang belum pulih akibat kecelakaan yang terjadi tempo hari.


Ketika "SAH" itu menimpa hidupnya ia menangis, air matanya tanpa permisi terus saja membasahi wajahnya di balik cadar bahkan cadarnyapun kini sudah berbasuh air mata.


Momen haru itu berlanjut . Haris menghampiri cista di ranjang mengulurkan tangannya yang di sambut baik oleh cista. Cista mencium punggung tangan suaminya yang ďi ikuti kecupan kening oleh bibir haris.


Semua orang yang di sana seakan tenggelam dalam suasana haru yang membahagiakan. Dua keluarga itu tanpa sadar mengeluarkan air mata bahagia.


Berlanjut pada sesi tanda tangan berkas-berkas pernikahan.


Semua acara hari itu di abadikan dengan epik oleh om herman yang mendadak beralih profesi dari seorang polisi menjadi seorang fotografer.


Setelah petugas KUA undur diri suasana menjadi sedikit berubah,lebih kekeluargaan , tidak lagi ada kecanggungan yang terasa di antara dua keluarga itu.


"Selamat ya sayang, semoga langgeng sampai maut memisahkan. Haris kakak titip adik kakak ya, kalau dia salah tolong nasehati dengan halus jangan pakai kekerasan. Dan seandainya kamu sudah tidak mencintainya lagi tolong kembalikan ia pada kami secara baik-baik. Karena dia akan tetap menjadi adik kecil kami sampai kapanpun."


"Ya kak clara aku janji tidak akan mengecewakan cista. Aku akan selalu menjaganya,mencintai dan menyayanginya hingga nafasku terhenti."


"Terima kasih ya."


"Jaga cista baik-baik ya ris. Kami pulang dulu untuk membagikan nasi kotak yang sudah kita siapkan."


"Oke kak yahya hati-hati ya. Terima kasih dan maaf merepotkan , maaf juga aku dan cista tidak bisa membantu membagikannya."


"Itu sudah menjadi tugas kami sebagai para tetua di keluarga ris santai saja, kamu cukup perlakukan cista bagai seorang ratu maka itu sudah membuat kami bahagia." Kata kak yahya dengan bijak.


"Insyaallah kak."


"Ya sudah kami pulang dulu ya. Dan kamu cista jangan ngeyel patuhi dokter kalau ingin cepat pulang." Lanjut kak citra.


"Ya ya ya ndoro citra saya akan patuh."


"Hiiiissss dasar . Ayo ayah kita pulang biarkan tuan putrimu berdua dengan rajanya, jangan jadi obat nyamuk,hehehe."


" Lah ini juga mau pulang. Yang dari tadi ngomel terus siapa?"

__ADS_1


"Hehehehe ya ayah maaf."


"Ayah pulang ya nak, haris tahan dulu ya tunggu cista sehat, baru gas pooollll."


"Hehehe ayah bisa saja, baiklah ayah aku akan sabar menunggu , tapi bolehkah aku nyicip sedikit,hehehe."


"Bolehlah asal intinya jangan dulu hehehe."


"Baik ayah ,aman."


"Ayo besan kita out hehehe."


"Mari -mari saya juga tidak mau jadi obat nyamuk hehehe, ayo ma kita ikut besan kita saja bagi-bagi nasi kotak."


"Ya pah,sebentar."


"Nak mama pulang dulu ya ,cepatlah pulih kasihan putra mama sepertinya sudah tak sabar mencetak gol."


"Insyaallah ma,doain ya supaya cista cepat pulih."


"Kak aku juga pulang ya,cepatlah sehat agar kakak bisa mengajariku mengaji dan menemaniku shooping ,karena tugas kita menghabiskan uang kak haris,hehehe." Kata nabila pada cista.


"Hiiiisss dasar kak haris pelit."


"Sayang kamu tertawa." Ucap haris yang melihat cista tertawa.


"Kalian lucu sudah dewasa tapi masih seperti anak kecil yang rebutan mainan."


Sekarang hanya tinggal cista dan haris.


"Mas , bisa minta tolong."


"Mau apa sayang?"


"Mmmm itu, aduuhh gimana ya?"


"Mau apa sayang?"


"Aku mau ganti baju, rasanya kurang nyaman memakai gaun seperti ini."

__ADS_1


"Oh, baiklah ayo aku bantu."


"Tapi aku malu mas, mas bisa ambilkan saja baju untukku,aku bisa ganti sendiri kok."


"Sayang sekarang aku suamimu, jadi jangan malu,oke." Ucap haris sebelum ia mengambil paper bag yang berisi baju cista. Setelah itu ia membantu cista untuk berdiri dan memegangi botol infus agar mempermudah cista untuk mengganti pakaiannya.


Cista masih diam saja tanpa melakukan apapun, ia benar-benar merasa malu kalau harus mengganti baju di depan haris.


"Sayang kok diem aja? Atau mau aku yang menggantikan bajumu?"


"Eeehhh ngga kok mas, aku hanya malu."


"Mulai sekarang kamu harus terbiasa telanjang di depanku sayang."


"Ihhh mas ngomong apaan sih."


"Hehehehehe."


Haris memperhatikan cista, ia sedikit tersenyum kala melihat cista kesulitan membuka gaun yang ia kenakan.


"Sayang aku bantu ya." Kata haris setelah meletakan botol infus di tempat seharusnya yang baru saja ia geser mendekat ke tubuh cista.


Haris mulai membantu cista melepaskan kerudungnya, lalu ia berdiri di belakang cista dan mulai menurunkan resleting gaunnya dengan perlahan ,penuh dengan penghayatan.


Haris menelan ludahnya saat melihat punggung cista yang putih dan mulus, darahnya memanas hasratnya mulai bangkit tapi mengingat kondisi cista saat ini ia harus bersabar menunggu beberapa hari lagi. ( Sabar ris, tahan dulu kasihan cista belum sembuh) ,batin haris."


"Mas , tolong lebih cepat dong."


"Maaf sayang ada yang nyangkut." Ucap haris sedikit berbohong untuk menutupi kegugupannya karena hasratnya yang bangun .


Setelah beberapa menit akhirnya cista sudah berganti pakaian, lalu haris membantu cista kembali duduk di ranjang . Ia mengambil kapas dan micelar water untuk membersihkan muka cista dari makeup. ( Astaga aku ingin sekali menciumnya),kata haris dalam hati ketika melihat bibir cista yang menurutnya begitu menggoda.


"Sayang."


"Hmmm,kenapa mas."


"Bolehkah aku menciummu. Aku tidak tahan melihat bibir indahmu."


Wajah cista merona mendengar penuturan haris, namun ia menganggukan kepalanya tanda memperbolehkan haris menciumnya.

__ADS_1


Merekapun akhirnya berciuman selama beberapa menit dan berulang kali hingga setengah jam lamanya. Mereka bagaikan seorang pengembara di padang pasir yang akhirnya bisa menemukan sumber air sebagai pelepas dahaganya.


__ADS_2