
"Cista, kamu tunggu di sini sebentar ya sama hito." Kata mama sesaat setelah kami sampai di parkiran supermarket.
"lho mama mau ke mana?"
"Sebentar,oke."
"Oke deh."
Aku penasaran apa yang akan mama lakukan, kenapa aku harus menunggu di sini. Feelingku ngga enak, tidak tenang rasanya, rasa penasaran yang begitu kuat membuatku ragu untuk hanya sekedar menunggu di sini.
Sayup-sayup aku mendengar keributan dari foodcourt tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Aku merasa sangat familiar dengan suara ini, "ya itu suara mama." Lalu ku putuskan untuk mendekat ke sana.
Lima meter dari arah mama aku berdiri, aku shok melihat siapa yang sedang mama maki-maki. "Ya Allah, apa ini?" Batinku terus bergejolak. Aku mendengar semua pembicaraan mereka.
"Kamu tega berbuat seperti ini hah, istrimu di rumah mengurus anakmu yang bahkan bukan lahir dari rahimnya sendiri, sedangkan kamu sibuk dengan perempuan lain. Taruh dimana otakmu, mama tidak pernah mendidikmu untuk menyakiti perempuan. Apa lagi itu cista. Dan kamu, perempuan ngga tau diri, kalau sampai terjadi sesuatu dengan rumah tangga anakku terutama menantuku, aku kejar kamu walau ke lubang semut sekalipun."
"Maaf ma, dzaky minta maaf. Dzaky hanya merasa cista lebih peduli dengan hito."
"Hito itu anakmu, harusnya kamu bangga memiliki istri seperti cista yang tidak pernah menganggap hito anak orang lain. Pikir dzaky, dimana otakmu ! Dia kelelahan setiap hari bahkan sempat keguguran beberapa bulan yang lalu, tapi ini balasannya. Kalau sampai papa dan ayah mertuamu tau habis kamu sama mereka."
Aku mendekat ke arah mereka, ku tuntun suamiku untuk berdiri.
"Berdirilah mas."
"Sayang maafin aku." ucapnya sambil memelukku.
__ADS_1
Aku diam, diam karena tak tau apa yang harus ku katakan. Aku bingung, ku pikir dia benar-benar sudah berubah, tapi kenyataanya dia kembali seperti dulu , pemain wanita. (Mas reihan, andai saja kamu masih ada).
"Sayang." Panggil mama padaku.
"Ya ma."
"Buka cadarmu sebentar." Ya sejak menikah aku memutuskan untuk hijrah, aku menutup semua auratku agar tidak menjadi bumerang untuk diriku dan rumah tanggaku. Aku melakukan itu karena tak ingin banyak laki-laki menaruh perhatian lebih sama seperti saat aku belum manikah.
Aku menuruti mama, ku buka cadarku, sepertinya aku tau maksud mama menyuruhku membuka cadar.
"Dzaky perhatikan baik-baik, istrimu jauh lebih cantik dari wanita ini, lihat istrimu bahkan tidak pernah memakai makeup, kecantikannya begitu alami. Lihatlah dia bahkan selalu menjaga kehormatannya untukmu. Bandingkan dengan wanita ini. Dzaky, seorang ibu pasti akan selalu lebih perhatian pada anaknya. Mama juga begitu, setelah melahirkan kakakmu dulu, mama dan papamu juga pernah ribut karena rasa cemburu papamu pada kakakmu yang waktu itu masih bayi. Tapi setelah papamu di nasehati oleh kakekmu papamu mengerti. Mama harap setelah ini kamu juga akan mengerti."
"Cista, mama ngga akan membela anak mama yang kurang ajar ini, tapi mama harap kamu bisa menghadapi masalah kalian dengan kepala dingi. Mama akan bawa hito belanja, mana daftar belanjaanya? Kalian selesaikan masalah kalian."
"Maaf mas, aku mau menyusul mama dan hito."
"Sayang tunggu." Ucapnya sambil menahan tanganku.
Aku kembali duduk.
"Sita aku minta maaf, aku memilih istriku. Semoga kamu bisa menemukan laki-laki baik di luar sana."
"Ngga, kamu sudah janji akan menikahiku, menjadikanku istri keduamu."
"Aku tidak bisa, sekali lagi aku minta maaf."
__ADS_1
"Maaf mas, aku mau tanya. Sejauh mana hubungan kalian?" Tanyaku pada mereka.
"Kami sudah sering melakukan hubungan suami istri mba." Jawab sita.
"Benarkah itu mas?"
"Maafin aku sayang."
"Kalau begitu nikahi dia, aku tidak mau memiliki suami pezina. Aku akan bertahan sampai batas mampuku, jika suatu hari nanti aku sudah tidak mampu bertahan maka aku minta maaf jika aku harus pergi."
"Sayang aku tidak bisa, aku takut tidak bisa berbuat adil."
"Maaf mas, kalau begitu ceraikan aku ."
"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu."
"Kalau begitu menikahlah dengannya, aku rela, aku ikhlas. Kamu harus berhenti berzina mas, itu dosa besar. Kamu lihat hito, itu hasil zinamu mas. Kamu tidak kasihan padanya, bagaimana jika sita juga mengandung anakmu?"
"Aku selalu pakai pengaman kok,jadi tidak mungkin sita hamil."
"Masalahnya bukan hanya itu mas, tapi zinanya. Aku tidak mau kamu terus berzina. Jadi, nikahi sita. Aku permisi, aku harus menyusul mama. Aku minta maaf bila selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik, sehingga kamu merasa kurang di perhatikan. Tapi setauku, seingatku aku selalu bersamamu jika kamu ada di rumah, dan hito selalu bersama andra . Jadi aku bingung di mana letak ketidakperhatianku."
"Maaf sayang."
"Aku maafkan, bagaimanapun kamu suamiku. Dan tolong mas berubah. Jangan jadikan zina sebagai suatu kebiasaan."
__ADS_1