
Acara yang di tunggupun akhirnya terlaksana dengan baik. Banyak sekali teman-teman SMA dan kuliah kami yang datang. Dan jangan lupa,barisan para mantan yang sengaja mas dzaky undang untuk membuat darahku mendidih.
Bagaimana darahku tidak mendidih jika melihat mereka dengan sengaja mencium dan memeluk suamiku di depan umum. Bahkan ada yang membisikan ancaman-ancaman recehnya di telingaku. Menabuhkan genderang perangnya terhadapku.
Hahahaha lucu sekali bukan. Mereka mengancam akan merebut mas dzaky dariku,ih wooooouuuu.
Bahkan ada yang mengatakan kalau ia memiliki anak dari mas dzaky dan suatu hari nanti ia akan datang membawa anak mereka untuk mengambil mas dzaky dariku.
Haruskah aku mempercayainya? Hati kecilku mempercayai ucapan wanita itu,karena mas dzakypun pernah bilang kalau dia pernah melakukan dosa zina di masa lalu. Mungkin wanita ini yang mas dzaky maksud. Semoga saja, mas dzaky sudah benar-benar bertaubat dan berubah sekarang.
Ego yang kini menguasaiku berkata kalau aku harus mempertahankan suamiku, aku harus memikirkan kehidupan dan kebahagianku sendiri.
Biarlah itu menjadi masa lalu mas dzaky, yang terpenting sekarang aku adalah istrinya,masa depannya. Aku percaya Tuhan memberikan apa yang aku butuhkan,dan pasti itu juga yang terbaik untukku.
Pagi telah berganti menjadi malam, semua acara telah selesai, kini kami juga telah kembali ke rumah. Setelah membersihkan diri kami bersiap untuk tidur. Mengistirahatkan tubuh dari lelahnya hari.
__ADS_1
Seminggu kemudian
Aku tak pernah menyangka jika pernikahan yang aku gadangkan akan menjadi pernikahan indah dan damai kini justru harus tertiup badai,terhempas ombak . Bagai tsunami yang memporandakan pemukiman di pesisir pantai. Hancur,berantakan. Hanya meninggalkan sepuing asa dan sekeping harapan.
Pagi ini aku terbangun jam 4.30 karena mendengar suara adzan. Setelah shalat aku bergegas ke dapur untuk memasak sarapan . Selesai memasak aku mandi. Sementara mas dzaky sejak selesai subuh tadi masih sibuk dengan laptopnya untuk memeriksa laporan keuangan caffe.
Kami sudah duduk berdua di depan meja makan. Memakan sarapan kami dengan lahap dan tanpa suara. Ini adalah detik-detik badai dan ombak itu akan datang memporandakan rumah tanggaku.
ting tong ting tong ting tong ting tong ting tong
Ya dialah wanita yang pekan lalu mengatakan akan datang menemui mas dzaky membawa anak dari hasil zinanya di masa lalu.
Aku mengajaknya masuk serta mempersilahkannya untuk duduk.
"Siapa sayang?" Tanya mas dzaky dari arah kamar dengan berteriak.
__ADS_1
"Tamu mas, turunlah."
"Oke, sebentar."
Tak lama diapun turun, tampak dari wajahnya menyiratkan keterkejutan yang sama seperti yang aku rasakan tadi ketika membuka pintu. Terlebih ketika aku memandang dan mengamati wajah anak kecil yang tak berdosa di depanku ini.
Wajahnya sangat mirip dengan suamiku, aku bisa memastikan kalau ia anak kandung mas dzaky. Aku yakin hanya dengan melihat dan mengamatinya saja.
"Silahkan di minum dulu mba, sambil nunggu mas dzakynya turun." Kataku sesaat setelah meletakkan dua gelas minuman ke atas meja.
"Kenapa kamu tampak biasa saja cista, kamu tidak marah?"
"Tidak mbak, bagiku semua orang punya masa lalu. Takut? Untuk apa aku takut mbak?"
"Kamu tidak takut dzaky akan meninggalkanmu setelah bertemu anak ini?"
__ADS_1
"Insyaalah tidak mba, saya hanya takut pada sang pencipta."