
Dzaky masih saja betah dalam renungannya di rumah Yusuf. Semua kilas balik perjalanan cintanya bersama Cista terus saja berputar, air matanya masih saja terus menetes tiada henti. Air mata penyesalan yang tak akan pernah bisa memutar waktu ,tak akan bisa mengembalikan keadaan. Luka yang ia torehkan bahkan mungkin akan membekas selamanya di hidup Cista.
Sementara di Riesta caffe Cista masih sibuk memeriksa laporan keuangan yang telah pegawainya kerjakan. Sayup-sayup ia mendengar Adam sedang bernyanyi, adam adalah salah satu penyanyi di caffenya.
Cista menghentikan pekerjaannya sejenak ketika mendengar lagu yang sedang Adam bawakan. Ia menghayati setiap penggal lirik lagu itu. Lirik lagu yang seakan mencubit hatinya,lirik lagu yang seakan menjadi nasehat untuk masalah yang sedang ia hadapi.
***Bila mungkin memang tak bisa
jangan pernah coba memaksa
tuk tetap bertahan
di tengah kepedihan
Jadikan ini
perpisahan yang termanis
yang indah dalam hidupmu
sepanjang waktu
Semua berakhir
tanpa dendam dalam hati
maafkan semua salahku
yang mungkin menyakitimu***
Benar juga, akupun merasa lelah dengan keadaanku ini, lelah karena harus bertahan ditengah luka yang ku rasa. Mungkin memang jalan ini yang terbaik untukku dan mas dzaky, toh cinta tak harus memiliki,bukan? So, aku akan jadikan ini perpisahan yang termanis untuk kita mas. Maaf bila aku harus berhenti , berhenti untuk berjuang.
"Sayang,sudah sore ayo pulang." Kata mas dzaky yang tiba-tiba sudah nongol di hadapanku.
"Eh mas, kapan sampai?"
"Baru saja, ayo pulang, biar aku gendong hito ke mobil." Setelah menjemput hito tadi siang, aku mengajaknya ke caffe karena pekerjaanku masih banyak. Hito bermain di ruang kerjaku hingga lelah dan akhirnya tertidur.
"Baiklah."
Sesampainya di rumah aku mencuci tangan dan lanjut memasak, sementara mas dzaky menemani hito belajar dan mengerjakan PR. Setelah memasak aku mandi lalu shalat maghrib berjamaah dengan mas dzaky dan hito.
__ADS_1
Andai saja keadaan ini sesempurna yang terlihat, betapa aku sangat bahagia bisa menjadi istrimu mas, namun takdir membawa kita pada keadaan yang mengambang,karena ada luka yang telah merusak kebahagian kita.
Setelah shalat kami menuju meja makan, aku menghidangkan makan malam yang tadi aku masak tak lupa aku menghangatkannya sebentar .
"Biar aku saja yang buka,makanlah dulu." Kata mas dzaky saat mendengar ketukan pintu dan ucapan salam.
Aku mendengar suara sita,istri muda suamiku.
"Mas,aku merindukanmu. Kenapa tidak pulang?"
"Ini tempat tinggalku lalu aku harus pulang kemana lagi?"
"Kamu kenapa si mas, dua minggu ngga mengunjungiku, giliran aku yang datang kamunya marah."
"Aku ngga suka kamu menginjakkan kaki di rumah ini."
"Kenapa? Bukannya rumahmu rumahku juga?"
"Kayaknya kamu perlu tahu jika rumah dan lima caffe yang sempat ku urus itu bukan milikku. Itu semua milik cista."
"Bohong."
"Untuk apa aku berbohong."
"Dulu iya tapi sebelum dia meninggal ia memberikan itu semua pada tunangannya yaitu cista."
"Beruntung banget ya si cista."
"Karena dia layak, aku saja yang bodoh karena menyia-nyiakannya."
Aku mendengar segala percakapan mereka,aku tidak ingin mereka berdebat di rumah ini karena hito bisa saja mendengarnya, jadi aku menghampiri mereka mengajaknya untuk makan malam bersama.
"Mas jangan berdebat di sini , ada hito di rumah ini. Ayo kita makan dulu setelah itu silahkan kalian keluar dan menyelesaikan perdebatan kalian."
Merekapun mengikutiku ke ruang makan, aku mengambilkan makanan untuk mereka.
"Silahkan, maaf aku cuma masak ini."
"Terima kasih." Jawab sita. Sebenarnya sita orang yang ramah, mungkin keadaan yang membuat ia terpaksa menjalin kasih dengan mas dzaky. Dan ku rasa cinta memang tak tau kapan akan datang dan pada siapa ia akan berlabuh, jadi aku rasa tidak ada yang salah di sini, hanya rasa kurang di hati yang membuat keadaan seoalah menyalahkan.
"Hito mana?" Tanya mas dzaky.
__ADS_1
"Hito sudah selesai makan dan sudah naik ke kamarnya."
"Oh ya, selamat sita atas kehamilanmu, semoga sehat sampai melahirkan nanti. Semoga kalian bisa menjadi orang tua yang baik nantinya, yang amanah." Kataku pada mereka.
Mereka hanya diam menikmati makanan , tapi aku bisa melihat wajah murung suamiku, wajah yang penuh penyesalan karena telah melukaiku.
"Cista aku mau lagi dong kwetiaunya." Kata sita.
"Oh, boleh aku ambilin ya."
"Makasih ya, masakanmu sangat enak, kapan-kapan aku boleh ngga makan di sini lagi."
"Hem tentu, makanlah yang banyak, agar janinnya sehat. Aku ke atas dulu ya, sudah masuk waktu shalat isya."
Aku meninggalkan mereka berdua, aku menghampiri hito di kamarnya.
"Sayang sudah tidur?"
"Belum mah, baru selesai gosok gigi dan wudhu."
"Bagus, mama senang deh kalau kamu mandiri seperti ini. Hito sebentar lagi hito akan punya adik jadi hito harus lebih mandiri oke."
"Adiknya di mana ma?"
"Di perut ibu sita, itu yang sekarang dibawah lagi makan sama papah."
"Kenapa ngga di perut mamah aja?"
"Karena Allah belum ngasih kesempatan buat mama hamil."
"Oh."
"Hito sayang mama ngga?"
"Hmm, sayang banget. Hito mau sama mama terus, jangan tinggalin hito ya ma?"
"Mama janji, mama akan selalu bersama hito."
"Ya sudah, shalat dulu terus bobo ya, mama ke kamar dulu."
"Ya mah, selamat malam. I love you."
__ADS_1
"Malam sayang, i love you too."