Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
57


__ADS_3

Tanpa cista dan Yusuf sadari, Dzaky memperhatikan mereka dari seberang jalan depan caffe.


Dzaky merasa darahnya mendidih, ia cemburu ,marah dan takut kehilangan cista.


(Bagaimana jika cista meninggalkanku dan lari ke kak Yusuf, apalagi kak Yusuf begitu menyayangi dan mencintai cista sejak dulu. Aku terlalu bodoh karena sering menyakiti cista, dan kini aku menyesali kebodohanku yang akhirnya membuatku di hantui rasa takut akan kehilangannya.) Kata dzaky dalam hati sambil terus mengemudikan mobilnya menuju rumah Yusuf.


Tok tok tok, assalammu'alaikum. Dzaky mengetuk pintu rumah yusuf ,tak lupa ia juga mengucap salam.


Ceklek, suara pintu terbuka. Baik Yusuf maupun Dzaky sama-sama terdiam dengan pemikiran masing-masing.


"Dzak, ayo masuk." Dzakypun masuk dan duduk dengan perasaan yang tak karuan. Ia begitu gelisah, ia juga bingung harus mengatakan apa pada laki-laki di depannya yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri,terlebih setelah kak reihan meninggal.


"Kenapa dzak?" Tanya Yusuf yang di jawab denvan gelengan kepala oleh Dzaky.


"Dzaky, aku minta maaf karena tadi menemui cista. Aku tidak bisa menahan diri setelah mendengar masalah kalian dari om har. Aku bahkan ingin sekali menghajarmu dzak, kamu tau bukan betapa aku mencintai dia,tapi cista lebih memilih untuk bersamamu. Inikah balasan yang kamu berikan untuk cista dzak, berulang kali cista harus menelan kekecewaan dan luka dzak, itukah yang kamu sebut mencintai dzak?"


"Maaf kak,maaf karena aku sudah membuat semua orang kecewa."


"Maaf? Minta maaflah pada cista dzak. Dzaky,bila kamu tidak bisa membuat cista bahagia tolong lepaskan dia."


"Tidak kak, aku tidak bisa melepaskan dia,tidak bisa kak. Aku sangat mencintainya."


"Cinta kamu bilang. Menyakitinya berulang kali,membuat dia meneteskan air mata lalu kamu bahkan memiliki anak dari perempuan lain. Itukah yang kamu sebut cinta?"

__ADS_1


"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan cista kak."


"Dzak, apa kamu bisa membuatnya bahagia, ceria seperti dulu sebelum menikah denganmu, atau sebelum kamu mulai menorehkan luka di hatinya? Karena sejak kamu mulai menyayat sedikit demi sedikit relung hatinya, ia bukan cista yang ku kenal dulu dzak, dia sering menangis, tawanya dan senyumnya menjadi sumbang karena terselip lara di dalamnya. Bisakah kamu melihat lukanya dzak?"


Dzaky terdiam,ia ingat satu persatu kesalahannya yang membuat cista terluka. Pertama, cista harus menerima kenyataan bahwa aku telah memiliki putra dari hesti saat aku dan hesti SMA dulu. Bahkan aku membiarkan cista merawat anak itu sekarang.


Kedua aku berselingkuh dengan sita dan akhirnya ketiga aku berpoligami. Walaupun cista yang menganjurkan hal itu karena ia tak ingin aku terus menerus berzina dengan sita. Tapi tetap saja ia pasti terluka akan itu.


Ya kak Yusuf benar, aku telah banyak menorehkan sayatan-sayatan yang akhirnya membuat luka dalam di hati cista.


"Diammu adalah jawaban atas ketidaksanggupanmu untuk membahagiakan cista,bukan begitu dzak?"


Dzaky terdiam, air matanya menetes tanpa permisi mengingat semua dosa yang telah ia perbuat pada cista,istri yang begitu baik padanya. Istri yang tak pernah menuntut apapun, bodohnya aku menyia-nyiakn berlian di rumahku hanya untuk mengejar batu kerikil di luar rumah.


"Kalau kamu memang mencintai cista, ceraikan madumu dzak, kembalilah pada cista sepenuhnya, tobatlah dan jangan lagi bermain api kalau kamu tidak ingin terbakar suatu hari nanti. Ingat dzak, cista manusia biasa yang punya ambang batas kesabarannya. Kamu pasti menyesal kalau sampai cista pergi jauh dan meninggalkanmu."


"Terserah dzak, pikirkanlah matang-matang. Maaf aku harus segera pergi ke kampus 15 menit lagi jam mengajarku tiba. Kalau masih mau di sini silahkan nanti jika mau pulang tolong kunci pintunya dan simpan di tempat biasa,karena vira dan pengasuhnya sedang di taman."


Yusufpun pergi ke kampus untuk mengajar, ia meninggalkan dzaky yang masih duduk termenung dengan kalutnya. Rasa sesal dan rasa bersalah serta rasa takut semakin menggrogoti hatinya.


Sementara di lain tempat cista sedang menelpon om hermannya.


"Hallo sayang, kamu sehat?"

__ADS_1


"Ya om, cista sehat, disana sehat semua kan?"


"Sehat dong, cista, are you oke?"


"Entahlah om, cista selalu bingung dan ragu dalam mengambil sikap. Cista merasa serba salah."


"Ikuti kata hatimu sayang, tidak masalah kalau sesekalai kamu egois, kamu harus bahagia sayang,mengerti."


"Apa tidak masalah jika aku harus bercerai om, aku takut kalau ayah,mama dan papa har akan kecewa dengan keputusan yang aku ambil."


"Tidak akan, mereka pasti akan selalu mendukungmu sayang."


"Baiklah aku akan kembali berpikir dulu, hingga benar-benar mantang dan tak terselip keraguan sedikitpun dalam keputusanku nanti."


"Memang begitu seharusnya sayang, kamu perbanyak dzikir lalu shalat istikharah oke."


"Ya om. Om hati-hati di sana, titip ayah juga ya."


"Ya sayang pasti apalagi ayahmu kan saudara satu-satunya yang om punya."


"Ya sudah om cista mau jemput hito dulu, sudah waktunya pulang sekolah nih. Dadah om, i love you."


"I love you too sayang,hati-hati."

__ADS_1


"Ya om."


Nah loh cista udah mulai berpikir untuk bercerai dari dzaky guys, aduh duh duh duh gimana atuh. Kita tunggu saja kelnjutan ceritanya ya.


__ADS_2