
Malam sunyi ini begitu mengusikku, udara dingin yang menusuk tulang membuatku merana . Merana karena menahan rindu. Lucu bukan, aku yang menyuruhnya menjauh sementara waktu tapi aku pula yang tersiksa karena menrindukannya.
Aku kembali teringat masa-masa indah yang pernah kami lewati bersama. Masa di mana ia begitu keras memperjuangkanku, hingga akhirnya aku luluh dan menerimanya.
Masa itu dia begitu manis, ia meninggalkan predikat playboynya hanya demi mendapatkanku. Ku kira ia benar-benar meninggalkan hal buruk itu tapi tak ku sangka setelah aku menjadi istrinya ia begitu tega menduakanku dengan wanita lain.
Mungkin di dalam cintanya padaku terselip sebuah obsesi yang membuatnya saat ini merasa bahwa aku tak lagi sesempurna dulu ketika belum menjadi istrinya.
Sudah seminggu aku mengabaikannya, ayah dan kedua mertuakupun sudah kembali ke Banyumas. Aku di rumah hanya berdua bersama Hito, putra suamiku, hasil kenakalannya saat masih SMA dulu, saat dia begitu terkenal karena playboynya. Sedangkan saat siang hari sopir akan datang menjemput hito sekaligus mengasuhnya hingga aku pulang ke rumah.
__ADS_1
Akupun bingung dengan diriku sendiri, kenapa aku mau merawatnya bahkan memperlakukannya seperti darah dagingku sendiri. Lagi-lagi hati nuraniku menang daripada akalku. Aku tidak tega melihat anak sekecil hito di ombang ambingkan ke sana kemari, jadi lebih baik dia bersamaku.
Banyak tetangga yang merasa heran atau bahkan iba padaku, mereka merasa aku terlalu polos dan lugu karena hanya diam di perlakukan begini oleh suamiku. Aku hanya tersenyum, bagiku yang terpenting ada Allah dan keluargaku yang mendukungku.
Hari-hari berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah satu bulan aku di madu. Aku tetap mendiamkan suamiku. Ku abaikan telp dan pesannya. Biarlah aku menabung sedikit dosa, sampai hati ini benar-benar siap dan mampu. Selama itu pula aku di sibukkan dengan mengurus hito, caffe dan toko onlineku serta kos-kosan.
Setelah itu aku akan mengecek tugas hito, ke periksa buku-bukunya dan esok paginya aku akan ngobrol dengannya sambil mengulang pelajaran kemarin atau mempelajari bab yang akan ia pelajari di sekolah hari itu.
Untung saja aku di kelilingi oleh orang-orang baik, dan lebih beruntungnya lagi rumah kak clara dan kak citra tidak terlalu jauh dari rumahku. Mereka selalu mengunjungiku berapa hari sekali secara bergantian, atau di akhir pekan aku akan mengunjungi mereka sambil melepas penat, refreshing hehehe.
__ADS_1
Pernah suatu weekend aku mengajak hito jalan-jalan ke mall di sana aku melihat mas dzaky sedang jalan-jalan juga dengan istri mudanya.
"Kamu bahagia mas, mungkin kamu juga sudah lupa padaku." Batinku kala itu. Kala ku lihat tawa riangnya, sikapnya yang sangat memanjakan istri mudanya.
Hal itulah yang membuatku insecure, rasa percaya diriku hilang begitu saja. Aku merasa telah di buang ke tempat sampah olehnya. Aku merasa sudah tak di butuhkan lagi.
Haruskah aku meminta sebuah perceraian darinya? Tapi bukankah aku yang selama sebulan ini mengabaikannya. Semua resah ,gundah gulana menyelimuti hatiku sejak itu. Hingga aku lebih menyibukkan diri dengan semua pekerjaanku.
Hatiku masih saja ragu , diriku begitu gamang untuk bertindak. Aku masih butuh waktu untuk meyakinkan diriku sendiri.
__ADS_1