
Ke esokkan harinya aku terbangun karena mendengar adzan subuh. Aku mencoba membuka mataku yang masih terasa berat, ku singkirkan tangan mas dzaky yang masih setia memelukku sejak semalam. Ku pandangi wajahnya, ku yakinkan diriku untuk memberinya kesempatan, walaupun ragu itu masih saja mengusik.
Setelah mandi aku membangunkan mas dzaky,menyuruhnya mandi dan mengajaknya shalat berjamaah. Setelah selesai aku beralih ke kamar hito, ternyata ia sudah bangun dan tengah shalat. Aku terharu ketika melihatnya tumbuh menjadi anak yang baik dan penurut.
Kini aku sedang berkutat di dapur membuat sarapan dan bekal makan siang untuk hito.
"Hati-hati ya, belajar yang baik." Kataku saat memgantar hito ke depan rumah. Ia akan pergi ke sekolah di antar oleh supir.
"Ya mama cantik."
Ku toel hidungnya yang mancung, kadang aku gemas dengannya karena masih kecil tapi sudah pandai gombal, ah aku ingat dia anak mas dzaky si playboy itu, jadi wajar saja jika ia pandai menggombal di usianya yang masih kecil sekalipun. Namun aku berharap dia akan menjadi laki-laki yang lebih baik dari papahnya.
"Mas aku ke Riesta dulu."
"Aku antar ya."
"Ngga usah, aku bawa mobil sendiri saja."
"Kalau begitu kamu antar aku ke jl.dipatiukur dulu,soalnya mobilku di bengkel."
"Baiklah, ayo."
Riesta adalah salah satu dari 5 caffe mas reihan yang ia berikan untukku.
"Sayang."
"Hmmm."
"Aku akan menceraikan Sita, tapi bukan sekarang."
"Kenapa?"
"Karena dia sedang hamil, usia kandungannya baru dua minggu."
"Oh. Ya sudah, tidak masalah kelak jika dia sudah melahirkan mas bisa mengambil keputusan. Aku harap keputusan itu terbaik untuk kita semua."
"Aku akan usahakan yang terbaik untuk kita semua."
Jantungku terasa berhenti berdetak untuk beberapa saat, kala ku dengar sita tengah mengandung. Kenapa dia sudah hamil, sedangkan aku belum. Lagi-lagi aku hanya bisa berkata, inilah takdir kehidupanku.
__ADS_1
"Sayang,kamu baik-baik saja?" Tanyanya di tengah lamunanku.
"Ya mas, aku baik-baik saja." (Bagaimana bisa aku baik-baik saja mas, sementara kamu dan sita tengah bahagia menanti kelahiran buah hati kalian. Kalian seakan bahagia di atas kekecewaanku. Aku sakit mas,tapi kenapa kamu tidak mau melepasku.) Lanjutku dalam hati.
"Ini caffe siapa mas?"
"Punyaku, aku menjual yang di jakarta lalu beli ini, supaya aku tidak pernah keluar kota lagi."
"Oh, ini lagi di renovasi ya?"
"Ya, aku sedikit mengubahnya."
"Ya sudah aku langsung ke Riesta ya."
"Hati-hati ya sayang."
"Ya mas, assalammualaikum." Ucapku setelah mencium punggung tangannya yang di balas dengan kecupan kening olehnya.
"Wa'alaikumsalam."
Sampailah aku di Riesta, para karyawan menyapaku dengan sopan seperti biasanya.
Setelah setengah jam aku duduk di kursi kerjaku, Nuri tangan kananku di riesta menghampiriku.
"Siapa nur?"
"Itu bu yang dulu sering kesini sama pak reihan."
"Oh, siapa ya?"
"Saya lupa namanya bu."
"Ya sudah aku akan menemuinya, kamu siapkan minum dan cemilan ya."
"Ya bu."
Akupun menghampiri tamu yang Nuri maksud tadi. Seorang pria yang sedang asik bercengkrama dengan seorang anak yang berusia kurang lebih dua tahun.
"Kak Yusuf." Sapaku ketika sampai di depannya. Ya dia Yusuf, orang pernah menyatakan cintanya padaku, dan sahabat mas reihan.
__ADS_1
"Hai."
"Kak Yusuf kangen cista ya?"
"Ya nih, udah lebih dari dua tahun aku memendam rindu."
"Hehehe. Hai cantik, siapa namanya kak?"
"Vira."
"Hai Vira gendong aunty yuk." Kataku sambil mengambil alih menggendongnya. Aku senang sekali, dia tidak menangis saat ku gendong bahkan ia terus saja tersenyum bahagia, sambil memainkan tangannya di wajahku. Aku jadi terharu, dia manatapku dan menyentuh pipiku.
"Mungkin dia mengira kamu ibunya?" Aku memandang kak yusuf dengan tatapan penuh tanya. "Dia meninggal saat melahirkan." Lanjutnya seakan tau arti tatapanku.
"Kasihan sekali kamu sayang." Kataku sambil mengusap lembut pipi mungilnya. Ku cium dia dan ku peluk penuh kasih. "Kenapa ngga cari ibu baru untuk vira kak ?"
"Apa kamu mau jadi ibunya?"
"Aku wanita bersuami kak."
"Ya, tapi entah sampai kapan kamu mampu bertahan, bukan begitu?" Aku termenung, bagaimana dia tau keadaanku saat ini. "Cista, ayah mertuamu menemuiku dan menceritakan semuanya."
"Aku baik-baik saja kok kak."
"Benarkah?"
"Tentu, nih kakak lihat kan aku masih bisa tersenyum."
"Kamu tidak bisa membohongiku cista. Tinggalkan dia, datanglah padaku. Aku masih mencintaimu seperti dulu, rasa ini tidak pernah berubah sedikitpun."
"Aku." Air mata mulai menetes di pipiku.
"Pikirkanlah dengan matang, ikuti kata hatimu dan yang paling penting jangan biarkan dirimu di injak-injak seperti ini. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini cista, kamu lebih pantas bahagia."
Aku merenung tanpa sadar air mata kembali menetes. Aku kembali mengingat setiap kenangan yang telah ku lalui dengan mas dzaky, baik yang indah maupun yang menyakitkan.
"Vira kita pulang ya,papah harus mengajar jam satu siang." Katanya sembari mengambil alih vira dalam gendonganku. "Aku pulang dulu, hubungi aku kapanpun kamu membutuhkanku. Baik-baik ya. Ingat, di sini masih ada seorang laki-laki yang mencintaimu dengan tulus,yang rela berkorban demi kebahagiaan orang yang ia cintai."
"Ya kak, hati-hati. Dadah vira." Anak itu membalas lambaian tanganku sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Kamu orang baik kak,aku beruntung bisa mengenalmu. Tapi apa aku bisa melepas suamiku yang telah banyak menorehkan luka padaku, sementara aku hanya bisa menikmati kesakitan itu dengan kebimbangan. Ragu, ragu dan ragu.
Aku bingung dengan diriku sendiri. Sebenarnya apa yang ku ragukan?