Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
24


__ADS_3

Sudah dua bulan tak ada kabar dari mas reihan, akupun tidak berusaha mencari tahu. Satu yang menjadi peganganku yaitu percaya bahwa jodoh di tangan tuhan. Aku sudah sibuk dengan kuliahku, bertemu teman-teman baru. Tapi sialnya aku harus satu kampus dengan Rian anaknya tante Mira, mantan istri ayah yang serakah itu. Hanya itu yang membuatku risih saat ada di kampus, dia selalu menggangguku setiap kali ada kesempatan. Bahkan di hampir melecehkanku untuk ke dua kalinya saat ada kegiatan malam di kampus, untung saja ada Bayu dan teman-temannya yang menolongku di waktu yang tepat.


Kak dzaky juga satu kampus denganku, ia juga sering menemuiku ,menanyakan kabar, bahkan sering mengantarku pulang . Walau aku enggan, aku tetap menerima tumpangannya karena sesungguhnya aku ingin mendengar tentang mas rei, tapi dia selalu mengatakan kalau mas rei sendiri yang akan


menemuiku jika waktunya sudah tepat.


Tapi mungkin tuhan masih ingin mengujiku, aku mendengar kalau dia sudah menikah dengan siska dua minggu setelah ke pantai waktu itu. Ya, semua memang sudah suratan, tak apa. Aku terima itu dengan hati yang lapang walau sakit. Aku hanya butuh waktu untuk menyembukan sakitku.


Benar saja , malam ini mas reihan datang menemuiku. Aku menemuinya seperti biasa. Aku tidak ingin menunjukkan rasa sakitku padanya.


"Cista, kalau aku minta kamu menungguku, apa kamu mau?"


"Apa alasannya?"


"Tunggu sampai hasil tes DNA antara aku dan anak dalam kandungan siska keluar."


"Haruskah aku menunggu sesuatu yang belum pasti mas? Bagaimana jika itu memang anakmu? Walaupun kamu tidak sadar telah melakukannya, tapi itu tetap anakmu."


"Tapi aku yakin tidak melakukannya cista."


"Apa yang membuatmu yakin mas?"

__ADS_1


"Karena walaupun aku setengah sadar, aku tau dia melakukannya dengan cowok yang waktu itu bertemu kita di pantai."


"Kamu yakin itu?"


"Aku yakin cista, tolong tunggu aku. Aku mohon aku ngga mau orang lain cista, aku hanya mau kamu."


"Baiklah aku akan menunggu. Kamu saja mau menungguku hingga bertahun-tahun, jadi aku juga akan menunggumu."


"Terima kasih sayang, aku mencintaimu. Jangan pernah melepaskan cincin ini dari jarimu sampai kapanpun."


"Ya, tidak akan ku lepaskan kecuali mas rei yang melepaskannya."


"Baiklah aku pamit dulu."


Aku melepasnya pergi, entah kenapa kali ini terasa sangat berat aku ingin sekali menahannya untuk tetap bersamaku di sini tapi aku tak berdaya dengan keadaan. Semoga kamu baik-baik saja mas, berhati-hatilah.


***Flashback on


Dua hari yang lalu aku bermimpi melihat mas reihan berlumuran darah sambil terus memanggilku dan meminta tolong. Aku berusaha untuk menganggapnya sebagai bunga tidur, dan melupakan mimpi buruk itu.


"Cista ,cista, cista tolong. Tolong aku."

__ADS_1


"Mas rei, mas rei di mana?"( Aku mencarinya, mengikuti suara yang terus memanggilku. )


"Mas rei,mas rei kenapa. Tunggu aku telp ambulans dulu. Kita ke rumah sakit."


"Tidak usah, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Maaf aku tidak bisa bersamamu lagi.


Semoga kamu bahagia , kelak kamu akan mendapatkan penggantiku yang bahkan jauh lebih baik dariku. Yang mencintai dan menyayangimu lebih dariku. Aku mencintaimu. Selamat tinggal cista."


"Mas rei jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Aku menangis meronta-ronta, tapi dia semakin jauh berjalan meninggalkanku sendiri di tempat yang sangat gelap dan menakutkan. Aku mengejarnya namun dia sudah menghilang di telan gelapnya malam. Aku berteriak memanggilnya sekuat mungkin. "


Flashback off***


Ya karena mimpi itulah aku berat untuk melepasnya kali ini. Aku mengejarnya ke halaman menjatuhkan tubuhku ke pelukannya. Memeluknya semakin erat, ku beranikan diri untuk mencium bibirnya. Akhirnya untuk pertama kalinya kami berciuman begitu lama tanpa ingin melepasnya. Karenan biasanya aku tidak pernah membalas ciumannya jadi bagiku ini ciuman pertama kami yang penuh cinta di dalamnya.


"Mas rei,jangan pergi. Tetaplah di sini aku mohon."


"Hanya sebentar, paling lama 4 bulan lagi."


"Tapi aku mau mas rei di sini, jangan pergi."


"Jangan seperti ini, aku jadi semakin berat cis, aku juga ingin kita seperti dulu lagi, tapi aku harus membuktikan pada keluargamu kalau aku tidak pernah melakukan itu. Aku ingin membersihkan namaku, agar aku pantas untuk bersanding denganmu."

__ADS_1


"Tapi aku takut mas."


Dia menciumku lagi, sebelum pergi. Aku menangis, aku merasa dia tidak akan menemuiku lagi. Aku merasa hari ini adalah hari perpisahan bagi kami. Aku tidak tau kenapa aku punya perasaan begitu,akupun bingung. Sebelum mimpi itu aku begitu ikhlas menerima semua yang terjadi, tapi setelah itu aku benar-benar takut kehilangan dia.


__ADS_2