Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
108


__ADS_3

Katakan padaku, dari mana rasa ini bermula? Katakan padaku di mana letak salah dari rasa yang membelunggu ini? Katakan padaku kenapa aku harus memiliki rasa yang tak semestinya ini? Katakan pula kenapa Engkau kembali hadirkan rasa lain untuk membuatku bimbang. Lalu, ke mana harus ku labuhkan rasa yang membelenggu ini?


"Calli." Panggil hito kala telponnya telah di angkat oleh Calli.


"Ya kak?"


"Kakak kangen."


"Kakak lebay deh, baru juga berapa jam ngga ketemu."


"Calli,pernahkah kamu menyayangiku selain rasa sayang sebagai seorang kakak?"


"Maksud kakak?"


"Ah tidak , lupakan saja, ya sudah kakak mau tidur dulu. Kamu juga tidur, sudah malam jangan keseringan bergadang."


"Ya ya kakakku yang bawel."


"Jawabannya adalah PERNAH kak , namun aku sudah menguburnya dalam-dalam, melupakan cinta pertamaku selain papah tentunya. Semoga kakak juga segera mengubur perasaan yang tak semestinya itu." Gumam calli sebelum terlelap. Ia anggap rasa yang ia miliki untuk hito adalah cinta monyet yang akan menghilang seiring berjalannya waktu.


Ke esokan harinya. Calli sudah duduk di meja makan menunggu papah dan mamahnya yang belum juga keluar dari kamar,padahal konser di dalam perutnya sudah menggema dengan begitu riuh menandakan bahwa ia sangat butuh sarapan pagi itu.


Karena ia mulai lelah menunggu, iapun pergi ke kamar orang tuanya. Namun sebelum ia mengetuk pintu ia melihat bahwa kedua orang tuanya sedang membuat adonan boneka lucu yang tak kunjung jadi dari ia masih kecil hingga ia beranjak dewasa kini. Padahal setiap ada kesempatan mereka selalu membuatnya namun tak jua kunjung jadi boneka lucunya. Pintu kamar kedua orang tuanya terbukà sedikit jadi ia memiliki celah untuk melihat adegan itu dengan mudahnya.


"Jangan sampai aku memiliki adik di usiaku kini. Dulu saat aku sangat menginginkannya mereka tak mau memberikan, pokoknya aku ngga mau punya adik sekarang. " Omel calli sambil berjalan kembali ke ruang makan. Ia memutuskan untuk makan pagi sendiri karena takut telat pergi ke kampus.

__ADS_1


" Pagi Calli."


"Eh kak Vano, masuk dulu gih, papah masih lama soalnya tadi pas aku intip ke kamar sedang membuat adonan boneka lucu."


"Adonan boneka?"


"Ya, hehehe. Masa kak Vano ngga tau sih."


Vano tampak berfikir, dan setelah otaknya bisa mencerna ia tersenyum malu dengan wajah yang memerah. "Jangan suka ngintip Calli, otak kamu nanti tercemar padahal kamu belum 17 tahun."


"Hehehe, otak aku udah lama tercemar kak, karena sejak kecil aku selalu melihat kemesraan papah dan mamah di setiap sudut rumah."


"Ada - ada saja deh."


"Aku berangkat ke kampus dulu ya kak."


"Baik den,aman kalau itu. Tuan putri Calli akan aman selama bersama saya."


"Dah kak Vano."


"Dadah sayang,semangat belajar."


"Ciiiee panggilnya udah sayang den Vano."


"Iss pak nino , kan jadi malu."

__ADS_1


Setelah sesi bercanda itupun pak nino segera mengantar Calli ke kampus.


"Mas, udah siang lho."


"Sebentar sayang, sekali lagi boleh?"


"Nanti lagi mas, kamu selalu ngga kenal waktu kalau udah ngadon."


"Abisnya enak yank."


"Enak si enak mas tapi kita jadi melewatkan waktu sarapan bersama tuan putri kita."


"Hehehe, maaf sayang. Aku tuh kalau udah deket kamu bawaannya ON mulu, kamu tuh semakin tua semakin cantik dan menggoda jadi jangan salahkan aku kalau selalu tergila-gila sama kamu."


"Isss dasar, pagi-pagi udah gombal."


"Ngga gombal sayang, aku tuh jujur lho."


"Ya ya ya, udah ah aku mau mandi."


"Mandi bareng ya."


"Ngga."


Haris tak memperdulikan kata Cista ia segera menyusul istrinya itu ke kamar mandi karena cista belum sempat menutup pintunya.

__ADS_1


"Maaaassss."


"Hehehehe. Makin cantik deh kalau lagi ngambek. I love you sayangku. Udah sini mandi, jangan manyun gitu nanti aku khilaf lagi lho." Kata hatis sambil menarik tangan cista menuju ke bawah sower untuk menikmati pancuran air berdua. Merekapun mandi bersama, hanya mandi bersama ya tanpa plus plus karena matahari semakin beranjak naik.


__ADS_2