Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
89


__ADS_3

Haris merasa cemas karena meli menemui cista, ia takut cista mempercayai semua yang meli ucapkan. Ia sangat takut kehilangan cista .


Setelah pekerjaannya selesai haris memutuskan untuk segera pulang, ia ingin secepatnya bertemu dengan sang istri.


"Sayang. Sayang kamu di mana?" Haris mencari cista sambil berteriak.


"Apa sih mas, pulang bukannya ngucapin salam dulu malah teriak-teriak."


"Hehehehe, maaf . Sayang aku kangen." Kata haris sambil memeluk cista penuh cinta.


"Aku juga, bawaannya pengen peluk mas terus. hehehehe."


"Kamu baik-baik saja kan? Anak kita ngga rewel kan di dalam sini?" Tanya haris sambil mengusap perut cista yang masih rata.


"Baik dong, anak kita sangat baik dan pengertian."


"Sayang dia sudah datang, aku takut sekali."


"Apa yang kamu takutin mas?"


"Aku takut dia berbuat jahat sama kamu sayang."


"Percayakan semua sama yang di atas mas. Kita berdoa aja supaya semua baik-baik saja."


"Dia orangnya nekat sayang, aku khawatir sekali. Pasti besok-besok dia nemuin kamu deh."


"Ngga perlu nunggu besok mas, bahkan tadi pagi dia sudah datang ke caffe nemuin aku."


"Tuh kan, dia ngga ngapa-ngapain kamu kan sayang?"


"Ngga kok mas,dia cuma ngasih amplop, isinya foto kalian semasa kuliah dulu, foto yang sama dengan album foto yang pernah mas tunjukkan dulu, hanya saja udah di edit sedemikian rupa sama meli."


"Sudah ku duga, sayang sementara waktu kamu di rumah aja ya , jangan keluar rumah dulu sampai aku bisa membuat dia berhenti."


"Gimana caranya membuat dia berhenti mas?"


"Mas udah punya kartu AS nya sayang, tenang saja, tunggu tanggal mainnya, besok pagi kamu harus bersiap ya."


"Ke mana mas?"


"Kita akan berlibur ke fila di puncak, sekalian menjalankan rencana. Teman-teman yang lain sudah ada di sana mempersiapkan semuanya."


"Baiklah. Tapi kita harus belanja dulu, supaya pas kita pulang ke rumah semua sudah tersedia, kan pasti cape pulang dari puncak.


"Kalau mau belanja , hayu aku anter."


"Ya sudah. Aku ambil tas dulu."

__ADS_1


"Oke, aku juga mau minum dulu."


"Mas ayo."


"Hito ngga ikut?"


"Ngga mas, dia lagi belajar , dia cuma nitip buku sama jajan."


"Oh ya sudah, ayo berangkat."


"Pak nino , aku sama cista mau belanja dulu ya, nitip hito. Dia lagi belajar di kamar."


"Siap mas haris."


"Pak nino mau nitip apa?"


"Waaaaahhh kalau saya di kasih apa aja si mau mas,hehehehe."


"Ya sudah. Kami berangkat dulu ya pak."


"Hati-hati mas haris."


"Siap pak."


Sesampainya di supermarket harispun dengan sigap mengambil troli, mengikuti kemanapun sang istri melangkah. Tak jarang iapun memyempatkan mencium kening sang istri dan menggandeng tangannya sesekali karena ia juga harus mendorong troli.


Meli mengepalkan tangannya erat setiap kali melihat haris memperlakukan istrinya bak seorang ratu. Ia begitu marah karena haris selalu menolak dirinya dan justru menikah dengan wanita seperti cista yang dia anggap tak lebih cantik darinya.


Si meli belum lihat mukanya cista si thor makanya dengan percaya dirinya nyebit dia lebih cantik dari cista. Coba aja thor buat si meli tanpa sengaja melihat wajah cista biar mlongo tuh mulut ndowernya.


Bolehlah kita pikirkan nanti.


"Mas beli es krim dulu di sana yuk." Minta cista dengan wajah imutnya sambil menunjuk kedai es krim.


"Apapun untukmu sayang."


"Makasih mas, mas makin ganteng deh, hehehehe."


"Ya ya, mas memang ganteng yank. Tunggu di sini ya,mas pesen es krimnya dulu."


" oke bos."


Melihat cista yang sendirian melipun menghampirinya. Beribu kata sudah ia susun di dalam otaknya untuk mempengaruhi cista agar dia meninggalkan haris.


"Hai."


"Hai, ada apa ya?"

__ADS_1


"Kamu belum buka amplop yang aku kasih ya?"


"Sudah kok, kenapa?"


"Kamu ngga marah sama suamimu?"


"Ngga tuh, karena mas haris sudah menceritakan semuanya jauh sebelum kami menikah."


"Kamu ngga cemburu melihat foto-foto itu?"


"Sayangnya aku bukan perempuan yang bisa kamu bodohi dengan foto yang sudah banyak editannya. Maaf ya mba meli, pernikahan kami memiliki sebuah pondasi yang kuat jadi jangan membuang tenagamu hanya untuk membuat kami bertengkar. Sampai kapanpun itu tidak akan terjadi."


"Kamu ngga tau ya, haris ngajak aku ke vilanya yang di puncak lho besok ."


"Silahkan saja, saya percaya suami saya . Beliau adalah seorang suami yang paham akan agama."


"Oh ya, berarti aku boleh dong jadi istri ke duanya?"


"Silahkan saja, kalau mas harisnya mau sama mba meli. Mba meli saya kasih tau ya, perempuan yang baik itu tidak akan merusak kebahagiaan perempuan lainnya."


"Kita lihat saja nanti, kamu akan menangis karena haris akan memilih diriku."


"Silahkan saja kalau anda mampu merebutnya dariku."


Meli seakan punya muka baja , bahkan bisik-bisik orang di sekitar kami tidak ia dengar, ia seolah tuli.


Padahal sejak tadi orang di sekitar kami mencemooh dirinya, mereka mengatakan bahwa ia tidak punya malu karena secara terang-terangan ingin merebut suamiku.


Sedangkan haris tersenyum melihat kondisi itu, kini ia semakin yakin kalau istrinya mampu menghadapi meli yang agak gila karena obsesinya itu. Tapi tetap saja khawatir itu masih menghinggapi rasa.


"Sabar sayang, aku janji besok malam semua akan berakhir,meli ngga akan pernah mengganggu hidup kita lagi." Kata haris dalam hati saat sedang berjalan menuju ke arah istrinya sambil membawa dua gelas es krim berukuran sedang.


Tapi langkahnya terhenti saat meli dengan paksa menarik nikab yang cista gunakan. Ya meli sengaja melakukan itu karena rasa penasarannya yang kuat, meli ingin sekali melihat wajah wanita yang telah membuat haris menolaknya berulang kali.


"Lancang sekali kau meli." Teriak haris sambil mempercepat langkahnya. Ia merebut nikab cista yang ada di tangan meli.


"Hariiisss."


"Kenapa? Kamu penasaran betapa cantiknya istriku. Kamu tidak ada seujung kukupun di bandingkan dengan istriku. Pergi dari hadapanku sekarang juga atau aku tidak akan menganggapmu teman lagi."


Meli masih saja terpaku menatap wajah cista yang kini sudah ditutup dengan nikab lagi oleh haris. Meli benar-benar tak menyangka kalau cista seperti bidadari , cantik sekali.


Bahkan bukan hanya meli yang terpesona oleh wajah cista, semua orang di yempat itu yang melihat cista bahkan mlongo.


"Pergi meli, jangan membuatku marah." Teriak haris dengan wajah yang memerah menahan marah.


Melipun kaget dan akhirnya ia pergi meninggalkan tempat itu. Namun ia masih keras kepla, ia masih bertekad untuk merebut haris dari cista.

__ADS_1


Ckckckck bodoh banget lu mel, ngga punya otak ya?


__ADS_2