
Tak tak tak ,pertemuan sepatu dengan permukaan lantai yang keras itu seakan menimbulkan bunyi yang berbeda siang itu. Bagaimana tidak, seluruh karyawan yang ada di gedung itu sedang menàntikan sosok wakil ceo yang baru, dimana ia digadang-gadang akan membawa perubahan besar dalam dunia perbisnisan.
Di dalam ruangan setiap divisi telah terpampang layar besar yang sudah terhubung dengan ruang rapat dimana Ceo mereka akan mengenalkan wakilnya.
Krieeeètt suara pintu terbuka seakan membuat jantung mereka berhenti untuk beberapa saat. Mata mereka langsung terfokus ke arah pintu. Jeng jeng jeng, masuklah empat orang, tiga orang sudah mereka kenal sementara seorang gadis muda di samping ceo mereka tampak familiar bagi sebagian yang menyaksikan rapat itu.
Begitu sampai di depan tempat duduk yang disediakan Harispun duduk diikuti oleh yang lainnya .
Haris yang terkenal sebagai pemimpin yang dingin dan tegas itupun langsung memulai rapat tanpa harus basa basi, menurutnya itu membuang waktu.
"Selamat siang semuanya, seperti yang sudah kami beritahukan sebelumnya bahwa siang ini saya akan mengenalkan wakil ceo yang akan membantu dan mewakili saya jika saya tidak ada di kantor. Mungkin sebagian dari kalian sudah mengenalnya dengan baik, karena sering berjumpa jika ke rumah saya. Betul, dia adalah satu-satunya putri di rumah saya. Saya berharap kalian tidak memandangnya sebelah mata karena dia putri saya terlebih usianya masih bisa dibilang sangat muda. Saya berani menjamin bahwa dia akan membawa perusahaan kita jauh lebih baik ke depannya. Sayang perkenalkan dirimu, supaya mereka tau dan akhirnya bisa menyayangimu, seperti pepatah yang mengatakan kalau tak kenal maka tak sayang."
Callipun berdiri, dia membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat lalu iapun mengeluarkan suara merdunya.
"Assalammu'alaikum." Salamnyapun dijawab oleh semua orang. Setelah mendengar jawaban salamnya callipun melanjutkan perkataannya.
"Selamat siang semuanya? Wah kok lemas sih, yang semangat dong jawabnya, nanti boleh makan sepuasnya kok setelah rapat selesai, hehehe. Selamat siang semuanya? Nah gitu dong yang semangat. Baiklah, saya akan langsung memperkenalkan diri saja karena saya tau pasti papa saya sudah tidak betah dengan basa -basi ini, hehehehe. ✌✌✌ ,( calli menengok ke arah sang papa yang menatapnya tajam). "
"Nama saya Dzakiya Raffania Callista kalian bisa memanggilku Calli, usia saya 17 tahun lebih, ingat ya udah lebih dari 17 tahun, hehehe. Saya berharap kita semua bisa saling membantu dan bahu membahu membawa perusahaan ini jauh lebih baik ke depannya. Selamat bekerja sama semuanya, semoga kita menjadi tim yang solid ya. Semangat, saya rasa perkenalannya cukup itu saja karena saya tidak mau uang jajan saya di potong , hehehe. Selamat siang dan selamat makan."
" Papa aku makan di lobi saja ya?"
"Hmmm, biar vano yang menemanimu."
"Kak vano ayo."
"Baik nona." Vano memang selalu bisa menempatkan dirinya dengan baik, saat banyak orang ia akan memanggil Calli dengan sebutan nona namun saat mereka hanya berdua Vano akan memanggil Calli dengan sebutan Sayang, padahal mereka tidak ada status pacaran namun entah kenapa Vano selalu memanggil Calli dengan sebutan itu.
Calli dan Vanopun keluar dari ruang rapat . Sementara haris tetap berada di ruang rapat untuk makan bersama peserta rapat lainnya.
"Pak Haris putrimu sungguh luar biasa, dia sangat pintar dan cantik." Kata seseorang yang bernama Aziz.
"Ah, anda terlalu menyanjung pak Aziz."
"Ya betul pak haris apa yang dikatakan rekan kita ini, kalau saja saya punya seorang putra pasti saya akan melamar putri bapak untuk dijadikan menantu, sayangnya anak saya putri semua, hehehehe." Kata seorang lainnya yang bernama Syahrul.
"Ahhh, kau ini Rul, anaku masih kecil , masih jauh untuk memikirkan pernikahan. Dia bilang ingin meneruskan s2 sambil berkarir membantuku."
"Ah sayang sekali pak haris ,baru saja saya ingin menjodohkan putra saya satu-satunya ini, dari tadi dia terus saja memandang nak Calli tanpa berkedip lho." Sekarang giliran seorang yang bernama Bowo yang berbicara .
__ADS_1
Hahahahaha. Tawa mereka serempak yang membuat seorang pemuda di sana tersenyum malu karena ketahuan curi pandang pada calli oleh ayahnya sendiri.
Seorang pemuda tampan anak sulung dari Wibowo, pemilik sebuah pabrik yougurt. Pemuda itu bernama Nizam. Ia pemuda baik ,pintar dan soleh yang berusia 25 tahun. Setelah menyelesaikan s1 nya Nizam memperdalam ilmu agamanya di salah satu pesantren di jawa barat selama kurang lebih dua tahun kemudian ia mulai membantu ayahnya mengurus pabrik setahun terakhir ini.
Nampaknya Nizam jatuh cinta pada pandangan pertama pada Calli, apakah cintanya akan bersambut atau akan bertepuk sebelah kanan mengingat Calli tipe orang yang tidak mudah jatuh cinta.
Sementara di lobi, Calli sedang memandangi beberapa stan makanan yang menarik perhatiannya untuk segera di cicipi. Ia mendatangi stan-stan itu satu persatu dan memesan apa yang ia inginkan lalu ia mencari tempat duduk yang masih kosong.
Melihat banyaknya tempat duduk yang masih kosong iapun bertanya kepada beberapa karyawan.
"Kok tempat duduknya banyak yang kosong ya mba?"
"Eh non Calli."
"Hallo, pada kemana ini mba, kok banyak yang kosong tempat duduknya?"
"Ya non, soalnya banyak yang pesan lalu di bawa pulang biar bisa kumpul sama keluarga, katanya mumpung pulang lebih awal."
"Oh, begitu. Kok mba ngga ikut pulang? "
"Ngga non, lagian pulang juga sendirian di tempat kos kalau disini kan kumpul sama teman."
"Mba namanya siapa?"
" Oke mba Vita selamat makan, saya akan kembali duduk bersama kak Vano saja ya, dah mba vita."
"Dah nona Calli, selamat makan."
"Kenapa sayang?" Tanya Vano ketika Calli batu saja mendudukan dirinya di kursi.
"Tadi aku tanya kok banyak kursi yang kosong, ternyata mereka pada pulang , yang masih disini paling yang belum berkeluarga."
"Ya memang seperti itu , mereka yang sudah berkeluarga pasti akan memilih untuk pesan makanan lalu dibawa pulang."
"Hmmm, Kak Vano pesan apa?"
"Sama kaya kamu."
"Itu karena kak vano beneran suka atau cuma ikut-ikutan ?"
__ADS_1
"Beneran suka dong sayang, dari sebelum kenal kamu juga aku sudah suka makanan itu."
"Hehehe. Takutnya Kak Vano memaksakan diri untuk menyukai apa yang aku suka."
"Ngga dong, aku selalu nenjadi diri sendiri , tenang aja."
"Bagus. Aku suka orang yang tidak bermuka dua."
"Aku juga suka apapun yang ada dalam dirimu."
"Gombal terus."
"Aku ngga pernah gombal sayang."
"Kak nyicip minumannya dong,kok kayaknya enak?"
"Boleh,nih." Jawab Vano sambil menyerahkan gelas.
"Waaaahhh enak, ada rasa asem-asemnya gitu."
"Calli , kamu tau ngga secara tidak langsung kita sudah sering berciuman lho."
"Kok bisa?"
"Ya karena kita menggunakan pipet dan sendok yang sama setiap berbagi minuman atau makanan."
"Mana ada kaya gitu kak."
"Pipet atau sendok itu bekas mulut siapa?"
"Mulut kita berdua."
"Kalau kedua mulut saling bertemu di sebut apa?"
"Berciuman."
"Nah kan, berarti kita udah sering berciuman sayang."
"Iiiiissssttt. " Jawab Calli lalu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
__ADS_1
"Udah ngga usah malu gitu sayang."
"Kaaaakk Vaaannooo." Teriak Calli dengan kesal karena terus di ledek. Dan tentu saja tindakannya itu menarik banyak mata untuk melihat ke arah mereka berdua, dan sekaligus memperjelas dugaan orang kalau mereka adalah sepasang kekasih.