Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
98


__ADS_3

"Pak haris anda akan menghadapi musuh yang sebenarnya setelah ini." kata beni saat surya menyudahi pukulannya.


"Apa maksudmu beni?" tanya surya.


"Ada yang berusaha berbuat jahat pada keluarga pak haris, aku tidak tau dia siapa tapi aku yakin waktunya sebentar lagi."


"Dari mana kamu tau hal itu?" tanya haris yang sudah mulai di landa kekhawatiran akan keselamatan anaknya.


"Saat aku dan yang lainnya menjemput pak haris siang tadi aku tak sengaja mendengar seseorang berbicara lewat telpon saat aku sedang berada di toilet sebuat kedai makan. Ia disuruh oleh seseorang untuk menculik anak pak haris."


"Kamu tidak bohong kan?"


"Untuk apa aku berbohong."


"Kalau begitu ikutlah kembali kerumahku."


"Pak haris tidak takut kalau aku akan melakukan hal yang tertunda tadi pada cista."


"Aku yakin kalau kamu sungguh-sungguh menyayangi istriku kamu tidak akan berbuat di luar batas beni."


"Sayangnya cinta itu tak pernah terbalas dan itu membuat saya sakit."


"Kak beni, aku minta maaf karena tak pernah bisa membalas perasaanmu yang begitu tulus. Maafkan aku. Aku berdoa semoga kak beni bisa mendapatkan wanita yang benar-benar tulus suatu hari nanti, kak beni hanya perlu membuka hati ." Kata cista pada beni.


"Aku tidak ingin ikut kalian, bunuh saja aku , karena kalau pak haris membiarkan aku bebas begitu saja mungkin suatu hari aku akan melakukan hal ini lagi."

__ADS_1


" Kali ini aku memaafkanmu beni mengingat ternyata kamu teman istriku sejak kecil tapi jika kamu mengulangi kesalahan ini kembali jangan harap aku akan melepaskanmu saat itu."


Haris dan semua orangpun meninggalkan beni seorang diri di sana. Haris ingin segera sampai di rumah untuk melihat keadaan anak-anaknya, ia begitu khawatir setelah mendengar perkataan beni tadi. Bahkan ia melupakan keadaan cista yang berada di sampingnya.


Cista yang merasa di cuekinpun sedih, ia merasa sang suami sedang marah padanya, tanpa terasa air matanyapun menetes. Ia takut, trauma masa lalu yang membuatnya menutup diripun kembali teringat dan menghantuinya.


Sesampainya di rumahpun haris masih saja seolah menganggap cista tidak ada di sana. Haris langsung berlari ke dalam rumah mencari hito dan calli.


"Mama, kenapa nangis?" Tanya haris pada sang ibu yang sedang menangis di pelukkan sang ayah.


"Ada apa ayah? Dimana calli dan hito? Ma tolong jawab, ayah dimana anak-anakku?"


"Mereka di culik haris, saat ayah dan mamamu sampai kami melihat sebuah mobil yang membawa pak nino dan kedua anakmu pergi, saat ayah akan mengejarnya mereka menembak adikmu, sekarang adikmu di bawa ke rumah sakit oleh pak dhemu."


"Sayang." Hito yang mendengar suara cista akhirnya tersadar bahwa cista juga ada di sana.


Cista tiba-tiba jatuh pingsan. Haris berusaha menyadarkan istrinya itu.


"Mas."


"Ya sayang. Maafkan aku , aku mengabaikanmu sejak tadi, aku hanya terlalu khawatir pada anak-anak kita."


"Mas cepat temukan mereka, aku mohon mas."


"Aku janji sayang akan membawa mereka pulang dengan selamat. Kamu tunggulah di rumah dengan mama dan ayah."

__ADS_1


"Aku ingin ikut mas, aku mohon ."


"Jangan sayang ini berbahaya."


"Pokoknya aku ikut titik."


" Ajaklah ris, cista pasti sangat khawatir. Mama juga seorang ibu mama bisa merasakan khawatirnya cista."


"Baiklah, ganti bajumu dulu sayang sembari kita menunggu doni menemukan titik gps anak kita."


"Ya. Mas harus nungguin aku ganti baju ya, jangan tinggalkan aku, aku ingin ikut menyelamatkan kedua anak kita."


"Ya sayang, aku janji akan mengajakmu. Tapi kamu juga harus janji akan menjaga dirimu dengan baik nanti."


"Ya mas aku janji."


"Aku takut sayang, aku takut kalau kamu terluka nanti. Aku tidak bisa dan aku tak akan sanggup jika sesuatu yang buruk menimpamu."


"Mas percayalah, aku akan menjaga diriku dengan baik nanti."


"Baiklah."


"Aku ganti baju dulu, ingat mas tunggu aku."


"Hmmm." Jawab haris lalu memcium wajah istrinya bertubi-tubi sebelum membiarkannya mengganti baju.

__ADS_1


__ADS_2