Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
17


__ADS_3

Setelah makan aku masih duduk di sofa ruang kerja mas rei, sesekali melihat mas rei yang masih sibuk memeriksa laporan keuangan. Dia begitu tampan, saat sedang bekerja seperti ini. Hehehe.


Rasa kantuk menghinggapi mata , akhirnya akupun tertidur. Aku merasakan sesuatu menyentuh bibirku. Aku membuka mata, aku melihat mas reihan sedang mencium bibirku. Aku hanya diam tak menolak namun juga tak membalas.


"Mas rei."


"Maaf."


"Tidak apa -apa."


"Mau pulang sekarang?"


"Mas rei sudah selesai."


"Sedikit lagi."


"Selesaikan lebih dulu, baru kita pulang."


"Baiklah. Tunggu sebentar ya!"


Ia pun kembali memeriksa pekerjaannya. Setengah jampun berlalu, ia mendekat dan kembali duduk di sofa, tepat di sampingku, menggenggam tanganku erat.


"Cista."


"Ya."


"I LOVE YOU."


"Mas rei, aku juga menyayangimu, tapi aku ngga mau pacaran."


"Aku mengerti, aku akan sabar menunggumu selesai kuliah."


"Ya, bersabarlah menunggu. hehehe."

__ADS_1


"Dasar, ayo aku antar pulang."


"Ya, ayo cepat . Aku sudah tidak sabar ingin mandi."


"Berapa hari yang harus kamu tunggu untuk kelulusan?"


" Entah, mungkin dua minggu lagi. Saat yang lain ujian kenaikan kelas kami lulus, begitu kata kepala sekolah tadi saat apel sebelum pulang."


"Lumayan dong dua minggu, istirahatlah di rumah. Jangan ke mana-mana."


"Lagian aku juga malas keluar rumah."


"Aku sudah meminta kakak untuk berbelanja yang banyak karena aku ingin belajar memasak menu baru."


"Aku ingin mencicipinya, boleh?"


"Tentu, nanti setiap kali aku mencoba resep baru aku akan menghubungi mas rei."


"Aku tunggu."


"Kayaknya ngga deh cis, aku harus ke jakarta untuk peresmian cafe baru di sana. "


"Mas rei buka cafe di Jakarta?"


"Cuma join sama teman."


"Oh, ya sudah . Hati-hati, cepatlah kembali untuk menjadi tukang cicip. Hehehe."


"Siap."


"Dadah mas rei."


"Dah."

__ADS_1


Aku masuk ke gerbang rumah, namun aku di kagetkan oleh ayah yang tertidur di sofa .


"Ayah, kenapa tidak masuk."


"Eh, sayang. Kamu sudah pulang."


"Ya ,ini baru sampai. Kakak ngga di rumah ?"


"Ya ngga ada orang, makanya ayah tiduran di sini , eh kelewat tidur . Hehehe."


"Kenapa ngga telp cista?"


"Baterai hp ayah habis,nih." Kata ayah sambil memperlihatkan hpnya.


"Ya sudah ayo masuk,istirahat di dalam."


"Ayah mau mandi dulu ya."


"Pakai air hangat ngga, nanti aku masakin airnya."


"Ngga usah. Kamu juga mandi,udah hampir maghrib."


"Siap ayah."


Aku pergi ke kamarku dan membersihkan diriku di bawah sower, segar sekali, sayang ngga ada air hangat ,kapan nih kak clara memasang pemanas air?


Kedatangan ayah kali ini membuatku sedikit khawatir karena dari raut mukanya ayah nampak sangat lelah dan pucat. Apa ada masalah serius yang sedang ayah hadapi? Ah,semoga saja semuanya baik-baik saja, amin.


Selesai shalat maghrib aku mencoba menghubungi kak clara, ternyata dia baru selesai berbelanja bulanan dan dalam perjalanan pulang setelah sebelumnya menjemput kak citra. Seperti biasa setiap sabtu kak citra akan menginap di rumah kak clara karena majikannya libur setiap weekend.


Aku memasak nasi goreng yang di campur dengan potongan sosis, suwir ayam. Tak lupa taburan bawang goreng,irisan timun dan telur ceplok. Menu sederhana yang bisa di sajikan dengan cepat, semua telah siap untuk di santap.


Baru beberapa suap aku dan ayah makan merekapun sampai di rumah dengan buah tangan yang menjadi favoritku, mie ayam yang di campur dengan bakso,potongan batagor dan beberapa potong ceker. Akhirnya nasi gorengku di habiskan oleh ayah karena aku lebih memilih mie ayamnya,hehehe.

__ADS_1


Malam itupun kami makan bersama, momen yang selalu aku rindukan sejak ibu meninggal. Ayah tampak bahagia, tapi masih belum bisa menutupi rasa kecewa yang terpampang di wajahnya.


__ADS_2