
Proses pemakaman kak bayupun berjalan dengan lancar. Kini aku sedang menunggu kak dzaky mengambil mobil di parkiran yang lumayan jauh jaraknya, jadi ia tak mengizinkan aku untuk ikut berjalan kaki ke parkiran, takut kalau aku lelah. Padahal aku sudah biasa kalau hanya berjalan kaki, belum juga jadi istri sudah overprotektif, menyebalkan.
Aku duduk di bangku panjang di area taman di depan TPU , tiba-tiba seorang wanita hamil menghampiriku.
"Boleh saya ikut duduk di sini neng?"
"Monggo teh."
"Neng yang namanya cista ya?"
"Ya teh, kok tau sih? Hehehe."
"Tau atuh, neng kan terkenal di kampus."
"Teteh kuliah juga di kampus X?"
"Ngga, tapi suamiku jadi dosen di sana?"
"Oh, siapa gitu?"
"Yusuf."
"Oh, jadi teteh istrinya kak Yusuf. Kenalan atuh. Saya cista." Kataku sambil mengulurkan tanganku.
"Lyla. Kebetulan kita bertemu disini tadinya aku ingin menemuimu di rumah, soalnya aku butuh pertolonganmu ."
__ADS_1
"Minta tolong apa teh, kalau bisa pasti aku tolongin."
"Begini... ." Lyla menceritakan awal perjodohoannya dengan Yusuf sampai pada pertengkeran beberapa hari yang lalu.
"Oh begitu. Tapi aku benar-benar tidak menganggap kak Yusuf lebih dari sahabat dan seorang kakak."
"Aku tau, bahkan aku juga tau kalau kamu pernah menolaknya saat dia menyatakan perasaannya padamu. Itulah hati, kita tidak bisa memaksakan perasaan kita pada orang lain. Aku hanya ingin dia bertahan demi anak ini. Apa aku salah jika menginginkan anakku tumbuh dengan kasih sayang yang utuh dari ke dua orang tuanya."
"Tidak ada yang salah, justru berdosalah kak Yusuf kalau sampai menelantarkan anaknya. Aku janji akan membicarakan ini padanya saat bertemu besok. Soalnya kak Yusuf adalah dosen pembimbingku dalam menyusun skripsi. Jangan salah paham ya teh !"
"Tentu saja tidak, santai saja. Lagian aku juga sudah tau kalau kamu akan menerima lamaran seseorang."
"Sebenarnya belum pasti si teh, baru aku pertimbangkan , soalnya dia mantan playboy. hahaha."
"Apapun itu semoga lancar."
"Wa'alaikumsalam." ( Dia humble sekali. Wajar jika banyak yang menginginkannya. Sudah cantik,pintar, baik pula. Aku jadi iri, atagfirulloh, apa-apaan aku ini.)
Aku dan kak dzakypun pergi dari TPU itu. Kami tidak langsung pulang ke rumah karena harus mampir ke cafe.
Dulu awal mas rei ngga ada aku selalu ke cafe ini hanya untuk melepas rindu. Sekarangpun begitu, aku selalu ke sini jika aku merindukannya. Di Cafe inilah tersimpan banyak sekali kenangan bersama mas rei baik suka maupun duka. Cafe ini dan beberapa cafe lain milik mas rei sekarang di kelola oleh kak dzaky.
"Kak lama ngga?"
"Lumayan, aku harus mengecek laporan keuangan bulan ini."
__ADS_1
"Ok deh. "
"Kamu ke dapur sana ambil makanan buat kita berdua."
"Sip."
"Cepet ya sayang."
"lama."
"Jangan dong nanti calon suamimu ini mati kelaparan gimana?"
"Calon suami? Memangnya aku sudah setuju menikah denganmu?"
"Harus dong, aku limitid edition loh. Kalau kamu nolak, ngga akan nemu yang seperti aku lagi."
"PD banget."
"Hehehehe."
"Mau makan apa?"
"Apa yang kamu siapkan, itu yang aku makan."
"Baiklah."
__ADS_1
Aku menuju ke dapur cafe, menyiapkan beberapa hidangan kesukaanku.
Dapur ini juga pernah menjadi saksi bisu keromantisan antara aku dan mas rei. Dulu kami suka memasak di sini sambil ngobrol dan bercanda ria. Tak jarang kami juga merancang masa depan yang indah bersama di dapur ini. Khayalan yang tak mungkin menjadi nyata. Akankah khayalan itu terwujud dengan orang lain?