Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara
75


__ADS_3

Malam harinya aku shalat istikharah demi mayakinkan diriku untuk menerima atau menolak niat baik mas haris menikahiku. Selesai shalat aku tak lupa meminta pendapat dari orang-orang terdekatku.


"Om cista kangen." Kata cista pada om hermannya setelah teleponnya di angkat oleh satu-satunya adik kandung ayahnya itu.


"Ada apa sayang?"


"Kangen,kapan om kesini,cista belum ada waktu untuk pulang ke banyumas."


"Secepatnya ya. Kamu kenapa sayangku?"


"Hehehehe ada yang ngajak nikah,tapi aku takut kalau gagal lagi."


"Sayang ngga semua laki-laki itu sama, kamu ngga akan pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya tugas kita hanya berusaha menjalankan setiap takdir yang Allah berikan. Mungkin ini bisa menjadi awal yang baik untuk kehidupanmu kedepannya. Terima saja, ngomong-ngomong siapa yang ngajak kamu nikah?"


"Namanya haris mangunkusumo."


"Waaaaauuuu, kamu luar biasa sayang,bisa membuat salah satu keluarga mangunkusumo bertekuk lutut di bawah naungan cinta,hehehehi. Om mendukungmu seratus persen, terima dia om yakin kamu akan bahagia."


"Emang om kenal?"


"Kenal dong siapa yang ngga kenal sama pak cipto, ayahnya si haris itu."


"Oh."


"Kalau kamu masih ragu shalatlah minta petunjuk sama yang di atas."


"Hmmm. Aku akan memikirkannya. Dah om, i love you."


"Jaga diri ya, i love you too."


(Besok aku datang aja ke rumah kak clara dan kak citra, lagian ini udah malem pasti mereka juga udah tidur,mereka kan tukang tidur,hehehe.) Kata cista pada diri sendiri.


(Astaga dompetku tertinggal di smansa caffe,gimana ini.)


"A reza, aku mau ke smansa caffe ambil dompet yang ketinggalan."


"Oke cis, kamu masih punya serep kuncinya kan?"


"Ya A masih, kan izin sama yang ngurus hehehehe."


"Itu kan caffe kamu cis, ngapain izin segala."

__ADS_1


"Hehehe. Ya udah atuh keburu tengah malam nanti ngga berani akunya."


"Hmmm,sono buruan. Hati-hati lho cis."


"Oke."


Cistapun mengendarai mobilnya menuju ke smansa caffe yang baru tutup setengah jam yang lalu.


Saat sampai di sana ia langsung masuk ke ruangan yang biasa reza pakai . Ruangan penuh kenangan antara cista dan reyhan semasa masih hidup dulu. Maka dari itu ia memeinta reza untuk mengurus caffe itu karena cista tidak mau selalu terkenang akan reyhan.


Sampailah ia di ruangan itu, "astagfirullohhal'adzim." ( Apa aku mimpi,kenapa aku melihat mas reihan,ya allah lindungi aku.)


(Ngga mungkin,mas rei udah meninggal jadi ini ngga mungkin palingan ini hanya halusinasiku saja, lebih baik aku langsung ambil dompetnya lalu pergi.)


(Bismillah.) Cista melangkah mendekati meja dengan ragu sambil terus berdzikir memuja asmaNya.


"Punten nya, aku ngga ganggu kok, aku cuma mau ambil dompet. Permisi ya." Cista berbalik hendak pergi dari ruangan itu setelah mendapatkan dompetnya kembali.


"Tunggu sebentar." Ucap orang yang mirip dengan reyhan yang sedari tadi duduk di sofa.


"Kamu siapa?" Tanya cista dengan nada bergetar karena takut. Seumur hidup ia baru pernah melihat makhluk tak kasat mata."


"Kamu tidak mengenaliku?"


"Ini aku sayang, aku senang kamu bisa melihatku."


"Maaf aku harus pergi, lebih baik kamu kembali ke alammu."


"Aku tidak bisa kembali sekarang karena orang yang aku cintai belum menemukan kebahagaiaanya."


"Maksudnya?"


"Aku ngga bisa tenang karena kamu belum bahagia cista."


"Kata siapa?"


"Aku sering mendengar kamu memanggilku, kamu masih berharap aku masih hidup dan bersama denganmu di dunia ini, benar kan?"


"Ya , aku memang berharap begitu tapi itu mustahil bukan?"


"Benar itu mustahil bagi kita, karena kita sudah beda alam sekarang, kita ngga mungkin bisa bersama lagi. Cista?"

__ADS_1


"Ya."


"Aku tau cinta kita akan tetap terukir indah di hati masing-masing tapi kamu juga harus menemukan kebahagiaanmu di dunia ini. Ngga usah melupakanku ,kamu hanya perlu menerima cinta baru ."


"Tapi aku takut kalau akan berakhir seperti pernikahanku sebelumnya bersama mas dzaky."


"Percayalah pada yang di atas, kamu wanita baik,setia , sabar dan mandiri aku yakin Allah akan memberikan pasangan yang terbaik untukmu , namun itu bisa terwujud jika kamu membuka hatimu kembali untuk menerima cinta yang baru."


"Aku akan memikirkannya."


Reyhan berjalan semakin mendekat ke arah cista, ia rengkuh tubuh cista ke dalam dekapĂ nnya .


( Dingin tapi tetap bisa membuatku merasa tenang dan damai.) Batin cista.


"Aku mencintaimu,maafkan aku karena tidak bisa bersamamu lebih lama. Pulanglah, kalau kamu merindukanku, kamu hanya perlu berdoa untukku. Aku selalu ada di hatimu ,aku ada di setiap hembusan nafas yang kamu hirup, aku ada di setiap aliran darah dalam tubuhmu, aku ada di manapun kamu ada."


Cista hanya mengangguk, air matanya sudah membanjiri pipinya membasahi cadarnya yang berwarna peach, lalu keluar dari caffe. Tak lupa ia juga mengunci kembali caffe itu.


Ia mengendarai mobilnya dengan perasaan yang tak menentu, pandangannya menjadi terbatas karena air matanya yang belum bisa berhenti mengalir. Ia memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan depan sebuah mini market yang masih buka .


Ia selalu ingat pesan om herman ,agar berhenti di tempat yang rame jangan berhenti di tempat yang sepi , itu berbahaya katanya,hehehe.


Ia menangis dalam diam, ngga mungkin kan ia nangis sambil teriak-teriak entar di sangka orang ngga waras lagi,hehehe.


Setelah merasa lebih tenang ia kembali mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah.


" Ya allah ndu, dari mana malam-malam begini?"


"Dari caffe pak nino, dompet cista ketinggalan."


"Kenapa ngga minta tolong bapak saja, bapak khawatir dari tadi . Bapak keluar buat ngunci gerbang eh mobilnya engga ada jadi bapak duduk di sini nungguin ndu cista pulang."


"Maaf ya pak udah bikin khawatir."


"Yo wis ngga apa,tapi lain kali minta tolong bapak saja kalau udah malam."


"Ya pak,makasih ya. Bapak udah anggep cista kaya anak sendiri."


"Ya ndu sama-sama. Lagian semua yang bapak lakukan saat ini belum bisa membalas semua kebaikan almarhum ibu ndu cista pada keluarga saya."


"Ya sudah ayo kita istirahat saja pak."

__ADS_1


"Oke biar bapak kunci dulu gerbangnya."


__ADS_2