
Sudah dua hari aku berada di kampung halamanku. Tujuanku datang ke sini untuk mengunjungi ayah dan om tersayangku hehehe, selain itu aku juga ingin menenangkan diri demi mendapat pikiran yang jernih. Karena kalau pikiran kita jernih kita bisa mengambil keputusan dengan bijak.
Aku masih menerka-nerka isi hatiku saat ini. Antara menjanda atau menerima pinangan dari mas haris. Kalau untuk kembali dengan mas dzaky itu tidak akan pernah ,bagiku jika seorang laki-laki pernah berselingkuh pasti akan mengulanginya lagi. Karena dosa itu bagai sabu yang membuat pemakainya candu.
Dersik (desiran angin) membelai kulitku karena sanggup menembus pakaian yang ku kenakan,menerbangkan ke kanan dan ke kiri gamis dan jilbab yang ku pakai . Sungguh sejuk,menenangkan dan mendamaikan.
Aku berjalan menyusuri pantai penuh kenangan ini. Dulu aku berjalan beriringan dengannya(mas reyhan) saling menggenggam asa memupuk harapan untuk bisa bersama sampai tua namun itu hanya angan belaka setelah kenyataan yang ada merenggutnya dari genggamanku.
Saat ini aku berjalan sendiri hanya berteman bayanganya saja . Setelah ia menemuiku tempo hari di caffe , aku sudah memutuskan untuk benar-benar memupus harapan yang selama ini kami bangun. Ya aku sudah tak lagi berharap ia masih hidup,ini adalah takdir. Takdirku dengannya sudah berakhir saat ia meninggalkan dunia ini. Sudah seharusnya harapan itu ku pupus sejak dulu dan membiarkannya tenang di alam yang baru.
Mungkin karena perasaanku yang terlalu dalam padanya, mungkin karena aku yang terlalu berharap banyak pada selain Allah makanya sulit sekali untuk mengikhlaskan padahal aku sudah pernah menjadi milik orang lain si adik mas rey yang tak lain mantan suamiku, dzaky. Tapi tetap saja aku masih sering berharap kalau dia masih hidup dan suatu saat kami bisa bersama.
Itu adalah dosaku selama jadi istri mas dzaky makanya aku tidak terlalu menyalahkan dia saat dia beberapa kali selingkuh. Itu adalah hasil dari apa yang aku tanam.
(Di pantai inilah awal dari perpisahan kita dulu, di pantai ini pulalah aku mengikhlaskanmu pergi dan tenanglah di alammu yang baru. Aku janji akan hidup bahagia di sini . Selamat tinggal belahan jiwaku.) Gumam cista sambil menatap hamparan air laut yang menggulung membentuk ombak,ia berdiri di atas batu yang sama saat ia berada di sini dengan reyhan kala itu.
Setelah puas menyendiri di pantai cistapun pulang. Kini ia sedang berkumpul bersama ayah,om herman ,tante tya dan sepupunya yang lucu si salsa serta tak ketinggalan hito. Sementara pak nino sedang pulang ke rumahnya yang hanya berjarak 100 meter ke arah utara dari rumah ayah cista.
__ADS_1
Sedangkan usahanya ia percayakan pada karyawannya untuk beberapa hari ke depan. Sebenarnya bisa saja ia membiarkan pak nino tetap di bandung dan mengawasi semua usahanya tapi cista juga merasa kasihan karena pak nino sudah lama tak pulang kampung pasti kangen dengan istri dan anak-anaknya, walaupun dua bulan sekali istrinya pasti berkunjung ke bandung untuk melepas rindu.
Kadang cista merasa iri akan keharmonisan keluarga pak nino, ingin rasanya ia memiliki suami yang setia dan saling memahami seperti pak nino dan istrinya namun mungkin Allah belum mengizinkanku untuk meraihnya.
"Gimana nak, sudah yakin dengan keputusan yang akan kamu ambil?"
"Sudah ayah,insyaallah."
"Semoga dia memang jodoh yang ditakdirkan allah untukmu nak."
"Amin. Doain saja yang terbaik untuk cista ayah."
"Kak cista besok kalau salsa ke bandung ajak salsa ke transstudio ya."
"Oke."
"Terus ke kebun binatang, terus mau ke tempat yang ada rumah hobitnya itu lho,kak cista tau kan?"
__ADS_1
"Baik-baik tuan putri hamba akan mengantar kemanapun tuan putri ingin pergi,hehehehe."
"Bagus. Papa ngga boleh larang aku lho , aku tuh harus refresing pa. Aku bosan di rumah terus liat kebun lagi kebun lagi,hehehe. Jadi besok kalau kita ke bandung mending papa sama mama bikinin aku adik saja ya, aku sama kak cista aja,oke!!"
"Bikin adik?" sela tante tya yang kaget dengan ucapan putrinya yang baru menginjak usia kurang lebih 5 tahun itu.
"Ya mah. Kata papa adik itu dibikin sama papa dan mama."
"Mas."
"Hehehe✌✌✌."
Hahahahaha.Semua yang ada ditempat itu tertawa. Aku senang karena rumah tangga omku harmonis seperti ini. Apalagi tante tya adalah wanita yang super baik dan penyayang. Ia bahkan selalu menganggap aku sebagai anak sulungnya.
Sementara itu di tempat yang berbeda harispun sedang gelisah menanti jawaban yang akan cista berikan.
Nayanika(mata indah yang penuh dengan daya tarik) yang ada pada dirinya membuatku rindu. Mata itu membuatku tak bisa berpaling untuk menatapnya. Andai saja mata itu sudah halal untukku ,maka akan aku tatap ia dengan penuh cinta dan sayang setiap waktu,takkan pernah aku berpaling barang sejengkalpun dari mata indah itu. Sejak kapan aku jadi romantis seperti ini? Hihihihi geli sendiri akutuh. Sejak kenal dia aku seakan jadi pujangga ,hehehehe. Cinta memang bisa merubah segalanya.
__ADS_1
"Cista semoga engkau bersedia menjadi makmumku , berjalan beriringan denganku demi menggapai surgaNya." Kata haris kala sedang memandangi mata indah cista yang ada di foto. Foto yang ia curi saat tak sengaja bertemu untuk kedua kalinya dengan cista tempo dulu.