
Pov dzaky
Aku putuskan untuk menetap di kampung halamanku, banyak alasannya. Pertama agar aku tidak selalu bertemu dengan cista, ya aku ingin menjauh sementara waktu darinya. Ke dua aku ingin terapi di sini, aku yakin dengan suasana tenang ini aku bisa cepat berjalan lagi. Ke tiga kalian pasti tau aku bangkrut bukan lebih tepatnya semua hartaku di curi oleh sita.
(Cista,cista,cista. Dulu aku bisa fokus hanya padamu, kenapa setelah kamu menjadi istriku aku justru tergoda pada wanita lain. Bodoh, mama benar aku bodoh. Ini sakit,karena kamu memutuskan untuk pergi menyerah dengan segala sikapku. Sesakit inikah saat kemarin aku melukaimu? Aku yakin kamu lebih sakit dari apa yang ku rasa sekarang. Maafkan aku. Aku menyesal,sungguh aku menyesal. Aku mencintaimu, cinta ini akan selalu aku simpan di dalam hatiku. Aku akan selalu berdoa dan berharap jika suatu hari nanti kita bisa kembali bersama. Bolehkan aku berharap seperti itu? ) kata dzaky pada dirinya sendiri sambil menyimpan foto-foto cista ke dalam lemari.
Setelah selesai ia menghidupkan radio, mendengarkan lagu-lagu yang di putar di sana.
***Sulit ku melangkah pergi
bila kau masih di sini
gagal diriku melupa
tiap engkau menyapa
Aku masih menyayangimu
(dan) aku masih cinta padamu
bila masih saja kita bertemu
semakin susah hati ini untuk
(tuk) melupakanmu
telah ku hapus fotomu
dari bingkai di kamarku
tapi masih ada wajahmu
singgahi mimpi mimpi
selalu kau buatku
luluh dengan kata-katamu
semakin ku hindari
semakin aku ingin bertemu***
Dzaky tersenyum mendengar lagu itu, betapa lagu itu mewakili apa yang ia rasakan saat itu.
mengapa kita bertemu
bila akhirnya dipisahkan
mengapa kita berjumpa
bila akhirnya di jauhkan
__ADS_1
kau bilang cintamu aku
tapi nyatanya bukan aku
bintang di langit yang indah
dimanakah cinta yang dulu
masihkah aku di sana
direlung hati dan mimpimu
andaikan engkau disini
andaikan tetap denganku
aku hancur ku terluka
tapi engkaulah nafasku
kau cintaku meski aku
bukan di benakmu lagi
dan ku beruntung
sempat memilikimu
merindukan diriku lagi
ingin ku sampaikan
ku tak hanya sekedar itu
(Apa mereka memutar lagu untuk menyindirku, kenapa semua lagunya mewakili perasaanku saat ini. Ah, aku jadi nangis lagi kan. Kenapa sekarang aku menjadi laki-laki yang cengeng, memalukan sekali, hikshikshiks. ) Kata dzaky sebelum mematikan radionya.
Kembali ke cista yang sedang berada di bandung.
Berbeda dengan dzaky yang sedang meratapi kesedihannya, cista justru sedang sibuk dengan mengepak barang pesanan bersama dengan pegawainya. Banjir orderan membuat cista dan pegawainya harus lembur setiap hari. Cista merasa sangat bersyukur karena usahanya berjalan dengan baik dan lancar begitu juga dengan caffenya, banyak sekali yang pesan makanan secara online ke sana. Alhamdulillah, hanya kata syukur itu yang mampu diucapkan cista atas segala kemudahan yang Allah berikan.
"Ndu cista."
"Ya pak nino."
"Ada tamu."
"Suruh masuk aja pak, nanti saya ke ruang tamu."
"Oke, cakep lho ndu tamunya,hehehe."
Cistapun ke ruang tamu untuk menemui tamu cakep yang pak nino maksud.
__ADS_1
"Selamat siang mas haris." Sapa cista saat telah tau siapa tamu yang datang.
"Hai, maaf ya aku datang ke sini mendadak, maaf juga kalau ganggu."
"Ngga kok,santai saja."
"Ngomong-ngomong gimana usahamu lancar?"
"Alhamdulillah mas masih bisa berjalan dengan baik ."
"Syukurlah kalau begitu. Aku salut lho kalau ada wanita yang mandiri seperti kamu."
"Hehehehe,terpaksa karena keadaan hehehe."
"Jangan merendah begitu, aku sudah dengar banyak tentang kamu dari pak nino dan beberapa teman."
"Oh ya, pasti dengernya yang jelek-jelek ,hehehe."
"Siapa bilang justru mereka membangga-mbanggakanmu,bahkan kebanyakan dari temanku katanya menyukaimu."
"Ah masa, memang temannya mas haris siapa?"
"Reza,yusuf mungkin dua orang itu kamu kenal baik, sementara yang lain kamu pasti tidak mengenalnya karena mereka hanya seniormu di kampus yang menjadi penggemarmu katanya,hehehe."
"Oh,begitu. Ya kebetulan A reza memang tangan kananku di caffe,sementara Kak Yusuf sudah seperti kakakku sendiri. Berarti mas haris kenal juga dong sama mas reyhan?"
"Tentu. Kami dulu satu kampus ."
"Oh."
"Kenapa jadi cemberut begitu cis?"
"Ah tidak apa."
"Pasti jadi keinget sama reyhan ya."
"Ya dia memang takkan terlupakan."
"Ngomong-ngomong bolehkan jika aku mendekatimu?" Kata haris to the point.
"Aku tidak pernah melarang orang mendekatiku mas, aku juga tidak menutup hati pada siapapun. Asal mereka yang mendekatiku sopan dan tidak kurang ajar."
" Ah senang mendengarnya,hehehe, kalau begitu aku permisi dulu ya kebetulan aku harus bertemu clien di dekat sini,terima kasih karena sudah di perbolehkan ke rumahmu. Kapan-kapan boleh datang lagi kan?"
"Boleh mas,monggo. Tapi habiskan minumnya dulu mas sebelum pulang,hehehe."
"Ah ya,keasikan ngobrol sampai lupa isi gelasnya masih separo,hehehe."
"Hehehe, hati-hati mas haris."
"Ya, sampai jumpa."
__ADS_1