
Sejak hari itulah aku merawat dan membesarkan hito. Aku selalu mencurahkan cinta dan kasih sayangku untuknya seperti anak kandungku sendiri.
Hito anak yang baik dan penurut. Ia selalu bersikap imut di depanku, membuatku gemas dan tanpa ku sadari aku selalu membayangkan jika aku memiliki anak dari rahimku sendiri.
Semoga saja aku bisa cepat hamil, amin. Aku bukan orang munafik, aku sangat menginginkan bayi mungil itu hadir dalam pernikahanku dengan mas dzaky. Tapi mungkin tuhan belum memberinya sekarang, tuhan masih ingin mengujiku. Apakah aku sudah pantas dan mampu untuk menjadi seorang ibu. Tuhan mengirim hito untuk mengujiku dan melatihku, agar kelak aku menjadi sosok ibu yang luar biasa untuk anak-anak. Satu janji dan harapanku, aku tidak akan membedakan cinta dan kasih sayangku kelak.
"Sayang, ayo kita ke pasar kaget." Ajak mas dzaky ketika kami baru saja menyelesaikan shalat subuh.
"Kok sehati sih mas, baru saja aku mau ngajak, hehehe."
"Ya dong, aku pengertian kan?"
"Kamu memang suami terbaik. Kita siap-siap dari sekarang, mas bangunin hito dulu , aku mau ganti baju dan menyiapkan susu."
"Oke sayangku."
Satu jam kemudian, kamipun berangkat.
"Pakai mobil saja ya yank, pasti kamu akan belanja banyak kan."
"Kok tau sih mas, mas terbaik deh. Hehehe."
"Ya dong, dzaky."
"Mulai deh narsisnya."
Sesampainya di pasar kaget, hal pertama yang aku lakukan adalah belanja sayur mayur dan lauk pauk untuk seminggu ke depan. Sementara mas dzaky dan hito mencari sarapan di dalam taman di area pasar kaget itu. Setelah aku menyelesaikan belanja aku menyusul mereka untuk sarapan.
"Mas, sudah sarapan?"
"Belum baru selesai nyuapin hito sekalian nungguin kamu, biar kita sarapan bareng."
"Uuuhhh so sweet banget sih suami aku."
"Jangan menampilkan pose imutmu di sini deh , nanti aku gemes, terus pengen cium kamu gimana."
"Ihhh, dasar suami mesum."
"Hehehe, i love you istriku."
"I love you too."
"A mau di buat sekarang pesanannya?" Tanya penjual mie ayam langganan kami.
__ADS_1
"Oh ya mang, istri saya udah datang, sampai lupa."
"Mang paham A, emang suka lupa keadaan kalau lagi sama istri, hehe."
"Mang bisa aja deh."
"Hehehe, kirain dulu neng cista bakal menikah sama A reihan, eh ngga taunya sama adiknya."
"Ya mang, jodoh memang misteri." Jawabku.
"Tapi sama-sama cocok kok neng, sama-sama ganteng."
"Si mang, bisa aja." Jawab mas dzaky sambil membusungkan dadanya, menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya,( narsis banget dah pokonya).
"Ngomong-ngomong sudah lagi isi belum neng perutnya?"
"Belum mang, kan belum datang makanannya."
"Si eneng mah suka bercanda dari dulu, maksud mang mah hamil neng."
"Hehehe, maaf mang. Doain aja mang semoga cepat di kasih sama yang di atas."
"Amin. Ngga usah buru-buru ya neng, nikmati masa pacaran halal dulu."
"Ya nih mang, asik pacaran halal mau ngapain aja ngga dosa, hehehe."
"Hehehe."
"Nih pesanannya seperti biasa, selamat menikmati."
"Terima kasih ya mang."
"Ya neng sama-sama."
"Bayar dulu mang, biar nanti tinggal go."
"Padahal mah santai we A, memang mau ke mana buru-buru?"
"Mau keliling mang beli keperluan hito."
"Oh, nya atuh. Ni kembaliannya."
"De, sini." Aku memanggil dani, anaknya mang penjual mie yang sedang mencuci piring.
__ADS_1
"Nih buat beli jajan." Kataku sambil menyerahkan uang kembalian tadi. Setiap kali aku makan di sini, aku selalu memberinya uang jajan, aku senang melihat anak rajin seperti dani, ia tak malu membantu orang tuanya seperti itu.
"Sih neng cista mah kebiasaan, selalu aja ngasih uang jajan sama Dani."
"Ngga pa pa mang, saya senang liat anak rajin seperti dani."
"Terima kasih ya teh."
"Sama-sama."
"Terima kasih neng cista."
"Ya mang."
"Padahal ya neng uang dari neng cista teh selalu di masukin ke celengan sama dani."
"Wah bagus, rajin menabung ya Dan."
"Ya teh, buat modal usaha pas udah besar nanti."
"Wah si dani luar biasa ,masih kecil udah mikirin usaha aja." Sela mas dzaky.
"Ya A, aku itu penggemarnya Aa rehan, jadi ingin kuliah sambil jadi wirausahawan."
"Bagus itu dan, semangat ya dan."
"Sayang ternyata banyak ya penggemarnya kak rei."
"Ya begitulah."
"Kalau kak rei masih hidup pasti kamu sudah menikah dengannya ."
"Hmmm."
"Sayang apa kamu bahagia menikah denganku?"
Aku menghentikan makanku , menatapnya sejenak. "Aku bahagia, kamu juga laki-laki baik, tampan, jujur dan bertanggung jawab. Terlebih kamu sangat mencintaiku,jadi tidak ada alasan aku tidak bahagia."
"Terima kasih karena sudah menerimaku dengan segala kekuranganku."
"Aku mencintaimu suamiku."
"Aku lebih-lebih mencintaimu istriku."
__ADS_1
"Ih so sweet, semoga kelak aku mendapat istri yang seperti teh cista, udah cantik,pintar, baik lagi." Kata dani, saat mendengar pembicaraanku dan mas dzaky.
"Amin." Jawab kami serempak.