
Hubunganku dan mas rei juga semakin dekat walaupun harus LDR untuk sementara waktu tapi itu tidak menjadi masalah mengingat jaman sudah canggih, kami sering melakukan video call,bahkan hampir setiap malam menjelang kami tidur. Kalau tak sempat kàmi hanya memberi kabar lewat pesan saja.
Suatu hari aku mendapat sebuah pesan dari nomor yang tak di kenal.
"Jauhi reihan, biarkan dia kembali padaku atau aku akan merebutnya dengan paksa menggunakan cara yang tidak bisa kamu bayangkan."
Aku menduga itu dari mantan kekasih mas rei, setauku mas rei punya satu mantan kekasih waktu SMA dulu. Kalau tidak salah namanya Siska.
Aku mengacuhkan pesan itu , karena aku menghargai setiap masa lalu. Dari masa lalu kita bisa belajar banyak hal, belajar untuk menjadi lebih baik lagi, belajar untuk lebih berhati-hati dalam segala hal. Jadi ngga usah pusing melupakan masa lalu tapi jadikan masa lalu itu sebagai pelajaran, sebagai batu loncatan untuk jadi yang lebih baik dan meraih yang lebih baik.
Satu bulan kemudian
Seperti yang sudah mas rei janjikan , ia akan menjemputku setengah bulan sebelum aku mulai kuliah. Malam ini ia sudah sampai di rumahku, bersama kedua orang tuanya serta kak dzaky yang diam-diam telah menikah dengan tetangganya.
Entahlah , ngga ada angin ngga ada hujan tiba-tiba sudah menikah, kaget dong aku. Katanya sih karena dia menghamili cewe itu tapi kok aku ngga percaya ya. Masa iya dia ceroboh, aku tau dia nakal tapi baru kali ini sampai hamil cewenya.
Lagian , katanya lagi belajar memperbaiki diri, lah kok malah menghamili anak orang, aduh gimana sih kak dzaky. Ah sudahlah itu urusannya, semoga itu yang terbaik untuknya.
"Kalian menginap kan?"Tanya ayah pada papa har.
"Ya, besok kita tamasya han. Ke pantai kita ngawal orang mau pacaran. " Jawab papa har.
" Aku sudah besar pah ngga perlu di kawal." Kata mas rei.
"Siapa tau kamu khilaf rei kayak adik kamu tuh."
__ADS_1
"Insyaallah ngga pah, aku akan selalu menghormati cista. Tapi kalau cium atau peluk boleh kali pah, hehehe."
"Ayah yakin kalian tau batasan, ayah percaya pada kalian."Kata ayah menimpali, yang membuat semua orang tersenyum.
"Ya betul, papah juga percaya kalian tau batasannya." Kata papah har.
"Kak dzaky kok istrinya ngga di ajak?" Tanyaku.
"Ngga mau dia, jadi biarin saja, terserah sesuka hatinya saja."
"Lah kok gitu."
"Lah terus aku harus maksa dia ikut gitu?"
"Hehehe, kayaknya ada sesuatu ya kak?"
Ke esokkan harinya kamipun pergi bersama ke pantai. Salah satu pantai di kabupaten kebumen. Pantai dengan pasir putih dan air sebiru langit. Indah, sejuk dan menenangkan. Namanya Menganti, tempatnya belum terlalu ramai seperti pantai yang lain. Jalan menuju ke sana berkelok-kelok dan turun naik bukit.
"Aku ingin kembali ke sini suatu hari nanti hanya berdua." Kata mas reihan saat kami sedang menyusuri pantai dengan bergandengan tangan.
"Oke, aku akan menunggu saat itu tiba." Jawabku.
"Cista?"
Aku menoleh ke arahnya, menatap manik matanya yang kecoklatan. Tatapan kami bertemu.
__ADS_1
"I love you."
"I love you too mas reihan." Jawabku sambil memeluknya, menghirup aroma tubuhnya yang membuatku nyaman.
"Semoga kita bisa selamanya seperti ini."
"Amin. Mas rei, gendong."
"Siapa takut." Diapun jongkok, menyuruhku untuk naik ke punggunggnya. Kamipun melanjutkan acara menyusuri pantai dengan bergendong ria.
"Mas rei jangan tinggalkan aku."
"Aku akan meninggalkanmu hanya jika Allah yang memanggilku. Hanya kematian yang bisa memisahkan kita sayang."
"Aku akan pegang kata-kata mas rei."
"Reihan, kamu reihan kan?" Sapa seorang cewe saat kami sedang ada di kedai bakso.
"Siska."
"Sama siapa rei?"
"Rame-rame sama orang tua, oh ya kenalin ini cista tunanganku."
"Cista kak."
__ADS_1
"Siska. Jawabnya dengan ketus dan muka sinis. Rei boleh gabung kan, soalnya meja lain penuh."
"Silahkan, santai saja."