
Selamat pagi, di pagi yang sangat tidak kondusif karena hujan terus mengguyur dari sore hingga saat ini. Saya ingin memberitahukan kabar bahagia bahwa saya sedang mengandung anak kedua, usianya baru sebelas minggu. Mohon doanya semoga saya dan janin saya sehat selalu hingga ia kelak lahir ke dunia dengan selamat, sehat,dan sempurna, amin.
Kehamilan inilah yang menjadi salah satu alasan bagi saya tak kunjung update episode baru ,selain karena kehabisan ide tentu saja hehehehe. Hampir sebulan belakangan ini saya terus muntah dan muntah sehingga saya harus benar-benar extra menjaga diri dan kandungan saya. Alhamdulillah saya di berikan kenikmatan yang luar biasa ini sehingga saya kembali di ingatkan untuk bersyukur tentang kesehatan yang harus selalu kita jaga.
Tapi kalian tenang saja, nanti setelah acara mual muntah ini berhenti saya akan kembali update episode baru yang sudah saya tulis di buku coretan. Semoga kalian tetap setia menunggu kelanjutan cerita ini ya, dan terimakasih untuk dukungannya selama ini . Maaf jika ceritanya membosankan karena memang saya masih dalam tahap belajar. Saya kasih sedikit kelanjutan ceritanya nih.
Ke esokan harinya Calli sudah mulai bekerja, ia datang dengan di dampingi Vano sebagai asistennya. Langkahnya begitu tegas, seakan menunjukan bahwa ia tidak ingin di pandang sebelah mata, ia ingin di pandang sebagai Calli dengan segala kemampuan yang ia miliki. Wajah rupawan yang biasanya ceria dan manja di depan keluarga seakan hilang saat ini tergantikan dengan wajah jutek yang penuh wibawa dan kharismatik, ia benar - benar mirip seorang Haris, namanya juga anaknya hihihi.
Ia memasuki ruangan yang telah ayahnya siapkan jauh hari sebelumnya. Ruangan yang di desain sesuai keinginannya sendiri, dengan dominasi warna biru,putih dan coklat.
"Kak Vano, apa jadwal kita hari ini?"
"Hari ini kita harus menggantikan pak Haris untuk mengecek beberapa toko serta hotel nona."
"Baiklah, ayo kita mulai dengan rapat pagi ini lalu kita segera pergi ke tempat yang harus kita tinjau tersebut."
__ADS_1
"Siap nona, rapat akan siap dalam 10 menit."
"Oke."
Callipun memimpin rapat pagi itu dengan suasana baru, banyak karyawan yang menyukai cara Calli menyampaikan perintah dan pendapat. Mereka menganggap kepemimpinan Calli lebih santai walaupun tetap harus didiplin dan jujur. Mereka keluar dari ruang rapat dengan senyum yang mengembang dan semangat baru yang menyala dalam diri masing-masing.
"Kita ke Hotel Y dulu kak yang dekat dari sini."
"Laksanakan tuan putri."
"Apa yang perlu kita kerjakan di sana nanti kak?"
"Masalah apa?"
"Saya belum tau nona, kita akan tau nanti setelah kita sampai di sana."
__ADS_1
"Ok baiklah, aku terima tantangan pertama ini papahku yang nyebelin."
"Nyebelin gitu kan tetap papah anda nona."
"Hehehe, ya ya, papah memang tiada duanya."
"Seperti anda yang tiada duanya di hati saya nona."
"Issss kak Vano masih pagi nih ngga usah gombal deh."
"Siapa yang gombal sih sayang, hati aku tuh udah penuh sama kamu."
" Kita lihat saja ke depannya ya kak Vano. Lagian aku masih terlalu dini untuk memikirkan apa yang kak vano harapkan, aku takut kak vano akan bosan menunggu."
" Hm, kamu benar, kita ikuti saja kemana arus ini akan membawa kita berlabuh. Tapi aku ingin hubungan kita baik seperti biasanya."
__ADS_1
"Tentu kak, bukankah selama ini juga begitu."
"Ya ya sayang." Lanjut vano dengan gemas mengacak rambut Calli yang membuat sang empunya rambut menjadi cemberut. Dan itu sukses membuat vano tambah gemas karena menurutnya ekspresi Calli saat itu benar-benar imut.