
Tamu undangan bertebaran memenuhi rumah kelurgaku di Banyumas.
"Sayang kamu sudah siap?"
"Sudah om."
"Om punya sedikit petuah untukmu."
"Baiklah,telingaku siap untuk mendengarnya."
"Setelah ini hidupmu akan berubah , lebih berwarna seperti rainbow hehehe. Kadang merah kadang kuning kadang hijau bahkan kadang hitam atau kelabu. Cista kamu harus ingat satu hal, semarah apapun kamu tidak boleh pergi dari rumahmu nanti, selangkahpun kamu tidak boleh keluar dari pintu rumahmu. Kalian harus belajar bersama untuk saling mendewasakan diri , memperbaiki diri demi meraih jannahNya."
"Om, aku akan selalu mengingatnya. Aku mencintaimu, hehehe. Andai saja ayah bisa sehangat ini, tidak kaku."
"Setiap orang punya cara tersendiri untuk menunjukkan rasa cinta dan sayangnya."
"Ya juga,hehehe."
"Ayo,om akan mengantarmu keluar."
Aku bergelayut manja di lengannya. Pria yang sangat ku cintai selain ayah dan suamiku nanti. Karena ialah yang selalu ada untukku menjadi sosok ayah saat ayah tidak ada di sampingku.
Ijab qabulpun selesai saat kata SAH menggema di ruangan itu, kini aku telah berstatus menjadi seorang istri.Istri dari Dzaky Nugraha, pria tampan yang dulu di kenal sebagai pemain wanita. Aku mencium punggung tangannya ia membalas dengan mengecup keningku begitu lama.
"Sudah jangan lama-lama lanjut nanti malam saja." Kata om herman meledek lalu di iringi tawa semua yang hadir di sana.
Lalu kami saling bertukar memasangkan cincin ke jari manis kami. Setelah selesai kami menandatangani buku nikah kami.
Selanjutnya kami berfoto dengan berbagai pose di dampingi keluarga kami secara bergantian. Tak lupa kami juga mengabadikan foto yang hanya berisi kami berdua.
Setelah itu kami di giring ke ruang ganti. Kami harus mengganti baju kami dengan kostum ke dua, sembari istirahat sejenak.
__ADS_1
Sejam kemudian kami kembali ke luar dengan kostum yang baru. Jika tadi saat akad nikah kami memakai pakaian adat lain halnya dengan sekarang. Saat ini kami memakai pakaian yang lebih modern. Gaun indah yang telah kak clara siapkan khusus untukku, ia menjahit sendiri gaun ini dengan penuh cinta. Sangat indah, kak clara benar-benar menjadikanku seorang princes hari ini. Rambut panjangku yang di curlie bagian bawahnya menambah anggun penampilanku, di tambah dengan mahkota kecil yang terpasang di kepalaku membuatku semakin memesona. Bak berbie hidup itu kata orang yang melihatku hari itu, padahal menurutku biasa saja, bahkan aku merasa kurang percaya diri dengan makeup ini, aku ingin segera mengakhiri hari ini dan menjadi diriku yang biasanya lagi. Wajah yang polos tanpa makeup yang selalu membuatku percaya diri dan nyaman.
"Sayang , apa kamu lelah?"
"Pertanyaan macam apa itu? Ya jelaslah aku lelah, dari tadi berdiri dan bersalaman dengan banyak orang tiada henti."
"Maaf sayang, apa kamu ingin beristirahat?"
"Aku masih bisa bersabar, kata ayah sebentar lagi selesai."
"Baiklah."
Benar saja setengah jam setelah itu acarapun selesai, kami di perbolehkan untuk masuk ke kamar . Aku langsung membersihkan makeup yang menempel di wajahku, sementara mas dzaky mandi lebih dulu.
"Sayang giliranmu mandi."
"Tidak di suruhpun aku ingin segera mandi, badanku lengket dan risih sekali rasanya."
"Tidak perlu, aku bukan anak kecil yang harus di mandikan."
"Padahal aku ingin sekali mandi untuk ke dua kalinya, berdua denganmu." Lanjutnya berbisik di telingaku.
"Lepaskan dulu pelukanmu, aku ingin segera manyiram tubuhku dengan air, sepertinya akan menyegarkan sekali."
" aku tidak akan melepaskanmu."
"Aku bau,memangnya kamu tidak mencium bau tak mengenakan dari tadi?"
"Tidak tuh, kamu tetap wangi."
"Gombal, buru lepas."
__ADS_1
"Cium aku dulu."
"Ogah." Kataku sambil melangkah menjauh darinya menuju kamar mandi.
"Sayang buka pintunya, aku mau ikut ."
"Tidak mau."
"Tapi aku ingin mandi lagi, tadi belum bersih."
"Alasan, sudah diam saja di situ. Atau aku tidak mau bicara lagi selama seminggu."
"Huuuuhhhh baiklah."
"Nah begitu baru suami yang baik."
Beberapa menit kemudian mas dzaky mulai mengganggu waktu mandiku lagi dengan terus mengajakku bicara.
"Sayang cepatlah, aku merindukanmu."
"Diamlah."
"Sayang bukalah, aku ingin ikut masuk ke dalam."
"Tunggulah."
"Sayang , aku dobrak ya."
"Diamlah, atau aku tidak akan melayanimu di atas ranjang."
"Ya ya baiklah sekarang aku akan diam."
__ADS_1