
Winda Rahayu, tahun ini akan masuk ke sekolah menengah atas dan dia sudah memilih satu sekolah yang akan ia masuki.
" Kamu pilih sekolah mana Win ? SMANSA, SMANDU, SMANTIG atau SMANPAT ? " tanya Ibu.
" Tidak satu pun dari yang Ibu sebut " jawab Winda tegas.
" Lohh...??? Trus... kamu mau masuk mana ? " tanya Ibu.
" SMK NEGERI 2 " jawab Winda.
" APA...??? SMKK...??? " Ibu bicara kencang sangking kagetnya.
SMK NEGERI 2 di daerah Winda tinggal lebih dikenal dengan sebutan SMKK.
" Reaksi Ibu berlebihan...!!! " Winda menggosok telinga karena sedikit berdengung.
" GENDUK WIWIN...!!! " panggil Ibu.
Genduk merupakan bahasa Jawa, yang digunakan untuk memanggil anak perempuan. Wiwin merupakan panggilan Winda dari kedua orang tuanya.
" Dalem Bu ( Iya Bu ) " jawab Winda.
" Gak salah pilih ? " tanya Ibu.
" Enggak Bu " Winda menggelengkan kepalanya.
" Kenapa SMKK...??? " tanya Ibu.
" Karena pengen disana Bu " jawab Winda.
" Alasannya apa ? " Ibu mulai gregetan.
" Jurusannya Bu " jawab Winda.
" Memangnya, jurusan yang kamu mau, gak ada di SMA dekat sini ? " tanya Ibu.
" Gak ada Bu " jawab Winda.
" Kenapa harus SMKK ? Sekolah itu kan, jauh ! " Ibu masih tidak puas dengan jawaban Winda.
" Karena jurusan yang Wiwin mau adanya di SMK NEGERI 2 Bu, bukan di SMA. Kebetulan saja SMK NEGERI 2 jauh dari rumah kita, coba ada dekat sini, ya... aku masuk di situ " jawab Winda.
" Arep jikuk jurusan opo ( mau ambil jurusan apa ) ? " tanya Bapak.
" Tata Boga, Pak " jawab Winda.
" Tata Boga ? Jurusan opo kuwi ( jurusan apa itu ) ? " tanya Bapak.
" Masak-masak Pak. Jadi... nanti aku jadi pintar masak deh " Winda dengan bangga.
" ORA OLEH ( tidak boleh ) " larang Bapak.
" Loh...??? Kenapa Pak ? " tanya Winda.
" Sekolah larang-larang mung masak, nek arep masak, kono nyang pawon, masak karo buk mu. Go opo sekolah barang ( Sekolah mahal-mahal cuma masak, kalau mau masak, sana ke dapur, masak dengan ibumu. Buat apa sekolah segala ) " Bapak meninggikan suaranya.
" Ya gak gitu juga Pak " jawab Widi kakak laki-laki Winda.
" Jurusannya memang masak, tapi... ada pelajaran lainnya juga " sambung Widi menjelaskan.
" Podo wae ( sama saja ) " kata Bapak.
__ADS_1
" Baik. Kalau gak boleh jurusan Tata Boga, aku ambil jurusan Tata Busana saja " jawab Winda.
" Tata Busana ? Jahit ? " tanya Bapak.
" Kira-kira seperti itu Pak " jawab Winda.
" Di SMKK juga itu...? " tanya Ibu.
" Iya Bu. Di SMK NEGERI 2 itu jurusannya ada Tata Boga, Tata Busana, Tata Kecantikan dan Tata Perhotelan. Sebutan lainnya SMK NEGERI 2 KELOMPOK PARIWISATA " Winda menjelaskan.
" Memangnya beda SMK dengan SMA ? " tanya Ibu.
" Sudah sangat jelas beda Bu " jawab Winda.
" Apa bedanya ? kan, sekolah juga ? " tanya Ibu.
" Gak sama Bu. SMK itu Sekolah Menengah Kejuruan, jurusannya banyak, ada kelompoknya. Kalau SMA itu Sekolah Menengah Atas, jurusannya IPA, IPS dan BAHASA, hanya 3 itu " Widi menjelaskan perbedaannya.
" Beda ya ? " Ibu masih bertanya.
" Iya Bu, beda " jawab Winda.
" Terserah mau ambil jurusan apa, tapi... jangan masak " larang Bapak dengan tegas.
" Iya, gak jadi Tata Boga. Nih, sudah pilih Tata Busana " jawab Winda.
" Sekolah saiki, aneh-aneh wae ( sekolah sekarang, aneh-aneh saja ) " kata Bapak.
" Padakne zamane awake dewe Pak. Sekolah SD wae ra tamat ( Samakan zaman kita Pak. Sekolah SD saja tidak tamat ) " kata Ibu.
" Zaman dulu kan, beda jauh Bu. Mana bisa disamakan " kata Widi.
" Kalau Bapak, bagaimana ? SD tamat Pak ? " tanya Winda.
" Cuma SD, gak bisa lanjut lagi " jawab Bapak.
" Kalau Simbah dari Bapak mu. Sawahnya luas nduk, berhektar-hektar dan kalau panen, bisa ton-tonan. Sembarangan kamu ini " kata Ibu menjelaskan.
" Trus, kenapa Bapak malah merantau ? Kenapa gak jadi petani, ngelolah sawah Simbah ? " tanya Winda.
" Wegah ( Tidak mau ) " jawab Bapak.
" Kenapa Pak ? " tanya Winda.
" Dadi petani susah, ora gampang. Salah kelolah malah rugi ora untung ( Jadi petani susah, tidak mudah. Salah kelola jadi rugi bukan untung ) " kata Bapak.
" Mau jadi petani, ya gak merantau jauh-jauh nduk. Tapi bersyukur rejeki kita di sini " kata Ibu.
" Jadi kamu sekolah yang pinter, gak boleh main-main. Jurusan kok masak " Bapak mengungkit lagi.
" Tata Boga Pak " Winda membenarkan.
" Podo wae, intine tetep masak ( sama saja, intinya tetap masak ) " kata Bapak gak mau kalah.
" Terserah Bapak sajalah. Tapi Pak, masalah biayanya, sekolah di SMK bakalan banyak praktek. Jadi... bakalan sering beli bahan. Apalagi Tata Busana berhubungan dengan kain. Harga kain kan, lumayan Pak " Winda menjelaskan.
" Makane sekolah sing pinter, entuk biji duwur, ora rugi leh ngetokne duwet ( Makanya sekolah yang pintar, dapat nilai tinggi, tidak rugi mengeluarkan uang ) " kata Bapak menasehati.
" Sekolah yang pintar, agar seperti Mas mu, kuliah dapat beasiswa prestasi, kan bagus " kata Ibu.
" Tentu saja. Mas Widi gak kuliah, sekolahnya gak guna. Zaman sekarang ijazah SMA dipandang sebelah mata " jawab Winda.
__ADS_1
" Gitu ya...??? " tanya Ibu.
" Iya Bu. Makanya aku ambil SMK, jadi... nanti kalau sudah selesai sekolah, tanpa kuliah pun bisa cari kerja. Karena di SMK nanti kan, banyak praktek, terjun praktek lapangan juga, bukan hanya sekedar teori dalam buku " kata Winda menjelaskan.
" Ditambah lagi, tamatan SMK dapat sertifikat, jadi... lebih mudah cari kerja apalagi sesuai jurusan " sambung Winda.
" Kamu gak niat kuliah nduk ? " tanya Bapak.
" Gak tau Pak. Belum kepikiran, ini kan baru mau masuk SMK dulu Pak, masa iya sudah mikir kuliah " jawab Winda.
" SMKK itu jauh banget loh Pak, rada pelosok " kata Ibu.
" Trus kenapa ? " tanya Bapak gak paham.
" Ya... Wiwin perlu kendaraan Pak " kata Ibu.
" Carikan motor, maksudnya ? " tanya Bapak.
" Ya jelas dong Pak. Kalau naik ojek PP itu sudah lumayan. Hitung saja sebulan berapa ? Dikalikan 3 tahun. Banyak itu " kata Ibu.
" Jangan dulu Bu. Lagian Wiwin juga belum bisa buat SIM kan, belum cukup umur " kata Widi.
" Gak apa-apa naik ojek dulu. Lagian aku belum tau, peraturan sekolah itu bagaimana ? Takutnya ada larangan bagi siswa untuk bawa kendaraan " kata Winda.
" Memangnya ada ya, sekolah begitu ? " tanya Ibu.
" Kalau dicari, pasti ada Bu. Setiap sekolah kan, ada peraturannya sendiri " jawab Winda.
" Trus teman SMP mu, ada gak yang sekolah sama denganmu ? " tanya Widi.
" Gak tau, aku gak tanya. Mungkin gak ada dehhh " jawab Winda.
" Kalau Amel sih, masuk SMK NEGERI 1 " kata Widi.
" Trus, kenapa memangnya ? " Winda berubah jutek.
" Cuma kasih tau saja " kata Widi.
" Penting ya...??? Tapi bagus sih, gak satu sekolah " kata Winda masih jutek.
" Dek...!!! " kata Widi.
" Jangan bahas Amel. Aku gak mau tau dan gak perduli dia sekolah dimana OK...?? BODO AMAT...!!! " ucap Winda kesal.
" Nduk Win...!!! Lambe ( mulut )...!!! " Ibu memperingatkan untuk bicara yang sopan.
" Injeh Bu ( Iya Bu ). Maaf...!!! " ucap Winda.
Ibu memberikan kode, jangan diulangi lagi, bicara tidak sopan pada Widi karena dia adalah kakak. Harus jaga tata krama, etika, sopan santun anak muda terhadap yang lebih tua.
.
.
.
(bersambung)
**Selamat datang dikarya saya, semoga teman-teman suka. Saya mengangkat tema seputar anak sekolah, saya harap dapat menarik minat baca para muda-mudi.
Maaf ya author tidak ada maksud menjelekkan antara Sekolah satu dengan yang lainnya. Ini hanya pandangan author pribadi saja 🙏🤗**.
__ADS_1