Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 45 Mata ngantuk


__ADS_3

Sepulang sekolah Winda mampir ke perpustakaan terlebih dahulu, dirinya teringat dengan buku yang tak jadi dia pinjam sebelumnya.


Sesampainya di perpustakaan, Winda segera menghampiri rak paling sudut, bagian belakang, kembali mencari buku yang diinginkan, membaca deretan buku-buku yang ada.


{ Perasaan bukunya di rak ini ? tapi di mana? ) batin Winda.


Winda kembali melihat deretan buku dengan seksama, pandangan mata seketika berbinar saat menemukan buku yang dicarinya. Winda menjinjitkan kaki hendak meraih buku tersebut, tapi sayang karena berada rak paling atas, mencoba beberapa kali pun, tetap gagal tidak sampai.


{ Siapa sih yang taruh di rak paling atas ? gak sampai kan ? ) batin Winda benar-benar kesal.


Winda kembali menjinjitkan kakinya, berusaha sekali lagi untuk mengambil buku tersebut. Disaat Winda sedang berusaha, muncul sebuah tangan, dengan sangat gampang mengambil buku tersebut.


" Aku sudah duga, pasti kamu akan kembali mencari buku ini " kata Noel sambil memegang buku yang diinginkan Winda.


" Jadi, Kakak sengaja ? " ucap Winda masih kesal.


" Iya " Noel tersenyum.


Winda menyipitkan bola matanya, saat mendengar jawaban terus terang dari Noel, dugaan Noel benar-benar tepat.


" Masih mau meminjam buku ini ? Bicara yang manis dulu,nanti aku berikan bukunya " Noel sengaja menggoda Winda.


Winda terdiam sambil menatap Noel, dirinya sadar betul kalau sedang dipermainkan oleh seniornya satu ini, namun Winda ingin meminjam buku tersebut.


" Kak Noel ganteng, tolong berikan bukunya " Winda berusaha bicara semanis mungkin yang dia bisa.


" Apa ? aku gak dengar ? " kata Noel sengaja pura-pura gak dengar.


" Kak Noel ganteng, tolong berikan bukunya " Winda menuruti keinginan Noel.


Noel pun tersenyum puas mendengarnya dan segera menyerahkan buku tersebut ke Winda, seketika senyum Winda merekah saat menerima buku tersebut.


Sesaat setelah memberikan buku, tangan Noel secepat kilat berada di pinggang dan segera menarik Winda untuk lebih dekat lagi dengan dirinya. Winda yang tidak menduga tindakan tersebut, hanya diam dengan tatapan terkejutnya.


Noel memandangi Winda dengan senyuman merekah di bibirnya, memiringkan kepala ke arah kanan, memiringkan kepala ke arah kiri, dan Noel menyadari, ternyata Winda memiliki mata yang sipit sebelah.


Noel menarik Winda lebih dekat lagi, memeluk tubuh Winda dengan erat, mencium aroma tubuh Winda, Winda menggeliatkan badannya, mencoba melepaskan diri dengan perlahan.


" Beberapa detik lagi, aku sedang isi daya " kata Noel sambil menahan.


" Kak... " ucap Winda lirih.


" Kamu, sungguh tidak pakai parfum ? " tanya Noel kembali menatap wajah Winda tanpa melepaskan pelukannya.


" Tidak " jawab Winda.


" Jadi ini ? sungguh aroma badanmu ? bagus ( tersenyum ) benar-benar bagus " kata Noel.

__ADS_1


{ Aroma ? aroma apa ? } batin Winda benar-benar tidak mengerti.


" Winda ( menatap ), selain aroma, kamu memiliki mata yang indah, benar-benar unik " kata Noel.


" Jangan meledekku " Winda mendorong tubuh Noel dengan berlahan.


" Aku mengatakan yang sebenarnya " kata Noel.


" Hentikan...!!! Yang Kakak bilang indah, orang lain menyebutnya mata ngantuk dan aku sudah terbiasa dengan sebutan itu " kata Winda.


" Menurutku tidak, mata mu indah dan unik, aku bersungguh-sungguh " Noel menatap Winda.


Untuk sesaat Winda terbuai dengan perkataan Noel, karena baru pertama kali dirinya mendapatkan pujian tentang matanya ini. Winda duduk di lantai bersandarkan pada dinding, begitu juga dengan Noel duduk di sebelah Winda.


" Kak Noel tau, Kakak orang pertama yang bilang mataku indah dan unik. Saat orang lain menyadari mataku sipit sebelah, biasanya mereka akan bilang, mataku aneh, beda sebelah dan yang lebih buat kesel adalah saat aku fokus melihat sesuatu, malah dikatain ngantuk. Terkadang aku gak suka memiliki mata ini, tapi apa boleh buat, pemberian dari yang di atas begini, mau bagaimana lagi " kata Winda, jadi curhat dong.


" Jahat sekali mereka, padahal indah begini " Noel sembari mengusap pipi Winda dengan lembut.


" Mereka gak salah juga sih, sah-sah saja orang berpendapat, awalnya aku gak suka tapi semakin ke sini aku mencoba tidak memasukkan ke dalam hati, makanya aku akali dengan poni panjang, tepat di atas mata, jadi hanya orang-orang tertentu yang menyadarinya " kata Winda.


" Dan orang itu adalah aku " kata Noel.


Winda menatap Noel dan menganggukkan kepalanya, seketika senyuman Noel mengembang sempurna, bangga diri menjadi orang yang menyadari spesialnya Winda.


" Sepertinya aku ditakdirkan menjadi yang pertama bagi mu, bahkan aku juga orang pertama yang menci...." perkataan Noel seketika terhenti karena Winda buru-buru menutup mulut Noel dengan tangan kanannya.


Noel menarik tangan Winda, mencium telapak tangan dan meletakkan di pipinya, Noel menghirup napas dalam-dalam, mengarahkan hidung dan bibirnya ke pergelangan tangan Winda.


" Aku benar-benar suka aroma ini " kata Noel.


" Dari tadi, Kakak bilang aroma, aroma apa sih? " tanya Winda ingin tau.


" Aroma tubuh mu " kata Noel.


" Aroma tubuhku ? kenapa ? " Winda menarik tangannya lalu mencoba membau diri sendiri.


" Badanku bau ya Kak ? " tanya Winda.


" Iya " jawab Noel.


" Benarkah ? bau banget ya ? " Winda rada malu.


" Hem " jawab Noel mengangguk.


Winda merasa malu dan bingung sendiri, padahal dia sudah memakai deodorant, apa iya keringatnya bau ? bau banget kah ? Winda mencium aroma diri sendiri, tapi tidak tercium bau aneh ? bau yang bagaimana, yang dimaksud Noel ? aroma yang bagaimana ?


Noel kembali mendekatkan wajahnya ke arah Winda, spontan Winda bergeser ke samping, sedikit menjauh dari Noel. Jantung Winda terus berdegup tak karuan, membuat hatinya dilanda perasaan was-was, takut kalau Noel melakukan suatu hal secara mendadak yang tak terduga.

__ADS_1


Winda benar-benar bingung dengan yang dirasakannya pada saat ini, terkadang dirinya merasa nyaman bicara dengan seniornya satu ini, tapi di satu sisi juga ada perasaan sungkan, canggung di waktu yang bersamaan.


Apalagi disaat Noel memperlakukan dirinya dengan sangat lembut dan baik, serasa mimpi yang indah bagi Winda. Noel kembali menatap Winda dengan tatapan yang hangat, tangannya dengan lembut mengusap kepala, turun ke pipi dan terakhir di bahu Winda, seketika sikap waspada Winda langsung on.


" Aku akan pinjam buku ini dan segera pulang untuk membacanya " kata Winda hendak berdiri.


" Gak bisa kah, kita berduaan dulu ? " tanya Noel dengan nada sedikit manja.


" No " Winda langsung berdiri.


Noel ingin sekali menahan Winda lebih lama lagi di dalam perpustakaan, namun Winda sudah keburu berdiri duluan, mau tak mau Noel berjalan mengikuti Winda dari belakang.


Winda segera berjalan menuju meja guru penjaga perpustakaan untuk meminjam buku yang dipegangnya. Dari meminjam buku, keluar dari perpustakaan, berjalan sampai halaman depan, Noel terus berjalan beriringan dengan Winda.


" Winda, kamu pulangnya naik apa ? " tanya Noel.


" Naik ojek " jawab Winda.


" Bagaimana kalau..." kata Noel.


Pembicaraan Noel terpotong, karena hp Winda bergetar dan saat di cek, ternyata telepon masuk, tertera di layar hp, nama Mas Aril, tanpa basa basi, Winda segera menjawab panggilan tersebut.


Dalam percakapan panggilan telepon tersebut, Aril memberitahu kalau dirinya sedang berada tak jauh dari sekolah, karena kebetulan habis mengantar penumpang. Aril bertanya, apakah mau dijemput sekalian ?. Tentu saja mendengar tawaran tersebut, Winda langsung mengiyakan tanpa berfikir, pas banget, mumpung masih di dalam sekolah.


Mendengar Winda menyebutkan nama Mas Aril, membuat Noel bertanya-tanya dalam hati, Mas Aril ? siapa itu ?. Noel masih ingat kemarin, Winda juga menyebutkan nama Mas Widi, hal tersebut membuat Noel semakin bertambah ingin tau, siapa kedua Mas yang disebutkan oleh Winda itu.


Mas Aril ? Mas Widi ? Siapa mereka ? Kakaknya kah ? atau apa ? Semua pertanyaan tersebut satu per satu muncul dalam kepala Noel dan dirinya benar-benar penasaran ingin tau jawabannya.


Saat Winda selesai bicara dan mematikan hp nya, Noel bersemangat hendak bertanya, namun baru saja mau membuka mulutnya, ada sebuah panggilan dengan suara yang sangat familiar, memanggil nama Noel.


Noel dan Winda segera berbalik mengarah pada suara panggilan tersebut, ternyata itu adalah Juan, dengan langkah tergesa-gesa. Saat Juan sampai di hadapan mereka berdua, Juan segera menarik Noel untuk menghadap menemui Ibu Yanti, terlihat sangat jelas kalau Noel merasa sangat keberatan.


" Gak bisa besok saja " keluh Noel melakukan perlawanan.


" Gak bisa ! AYO CEPAT ! ( menarik paksa ) Bye Winda " Juan terus menarik paksa Noel pergi.


" Bye Kak..." Winda melambaikan tangan, berbalik dan segera berjalan menuju pintu gerbang.


Sementara Noel dengan sangat terpaksa, mengikuti langkah kaki Juan, dalam hati benar-benar sangat kesal, karena dirinya kehilangan kesempatan untuk mengantar Winda pulang, LAGI...!!!


.


.


.


( bersambung )

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗


__ADS_2