Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 69 Yang terlupakan, tapi apa ?


__ADS_3

Sepulang sekolah Winda pulang bareng dengan Rey, sekalian belajar dan menjenguk keadaan Niko. Tak lupa mereka singgah dulu membeli beberapa makanan dan minuman untuk dimakan bersama di kosan Niko. Sesampainya di kosan, Rey langsung masuk begitu saja dan pas banget pintunya sedang gak dikunci.


Tak berapa lama, nampak Niko keluar kamar dengan penampilan sedikit berantakan, sepertinya baru terbangun dari tidurnya, Niko mengedipkan mata beberapa kali dan mulai merapikan penampilannya saat menyadari keberadaan Winda.


" Hai, Win. Kamu juga ada ? " kata Niko.


" Bagaimana keadaan Kak Niko ? Sudah baik kan ? Sudah makan ? Kami tadi ada beli makanan " kata Winda.


" Sudah lebih baik aku juga sudah makan bubur tadi. Terima kasih ya sudah datang " kata Niko.


" Sudah minum obat Nik ? " tanya Rey.


" Sudah. Tadi dibelikan obat sama Amara. Kan, dia datang ngerawat aku dari kemarin " kata Niko.


Seketika Rey melihat ke arah Winda, merasa aneh, bagaimana bisa ? Yang merawat Niko kemarin kan, mereka berdua. Bagaimana bisa jadi berubah orang lain ?


Rey beralih menatap Niko, mendekat dan mengecek suhu badan Niko. Masih terasa sedikit demam, mungkin karena demam jadi salah mengenali wajah orang yang sudah merawatnya.


" Kamu masih demam " kata Rey.


" Kak Niko balik tidur saja, kalau masih sakit, janji dech kami gak akan ribut, iya kan Kak " kata Winda mengarahkan pandangan pada Rey.


" Hem, kami mau belajar sebentar " kata Rey.


Niko pergi memasuki kamar dan tak lama kemudian keluar dengan membawa sebuah bantal, lalu membaringkan badannya di sofa panjang ruang tamu.


" Yakin Kak, baring di situ ? Gak di kamar saja ? " tanya Winda.


" Aku mau di sini dengan kalian, bosan sendirian di kamar " kata Niko sambil membenarkan posisi tidurnya.


Winda menatap Rey, bertanya tanpa suara, seolah mengerti maksudnya Rey menggerakkan tangannya untuk membiarkannya. Winda menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua segera duduk melantai menghadap meja, mengeluarkan buku untuk belajar, Winda sempat melirik sebentar ke arah Niko. Teringat perkataan Niko barusan yang menyebutkan sebuah nama yaitu Amara.


AMARA


Nama tersebut terngiang di telinga Winda, kini Winda mengetahui nama cewek yang ditemuinya tadi pagi itu adalah Amara. Jujur saja, Winda sedikit kecewa saat Niko tadi bilang yang merawat dirinya adalah Amara.


Padahal sudah jelas kalau yang dari kemarin merawat adalah Winda dan Rey, mereka bergantian menjaga, membelikan bubur dan juga obat untuk Niko. Tapi sekarang malah orang lain yang mendapatkan nama baiknya, bisa-bisanya ? Benar-benar gak habis pikir ?


Rey melirik Winda dan Niko secara bergantian, menyadari sesuatu dari diri Winda, Rey dapat menebak, pasti saat ini Winda merasa kecewa, karena usahanya diklaim oleh orang lain.


{ Gawat...!!! Harus dijelaskan ini } batin Rey.


Rey mengamati sekeliling mencari sesuatu, mencari bungkusan obat, tak menemukan di ruang tamu, Rey segera berdiri dan menuju ke dalam kamar Niko. Tak berapa lama Rey keluar dengan bungkusan plastik, Winda tau, itu berisikan obat, karena dirinya yang membelikannya.

__ADS_1


" Nih, cari kan, kompres tempel, siapa tau ada di dalamnya " Rey menyerahkan plastik tersebut kepada Winda.


" Tentu saja ada kan, praktis untuk orang demam " jawab Winda.


Winda segera mengambil satu kompres tempel, membuka bungkusannya, menyibakkan rambut dan segera menempelkan di kening Niko. Lagi-lagi Rey tertawa dengan adegan tersebut, yang membuat Niko sedikit terganggu.


" Jangan di lepas...!!! Cukup efektif menurunkan demam " kata Winda memperingatkan Niko.


" Aku bukan anak kecil " kata Niko.


" Memang bukan, tapi bayi besar. Iya kan Win ? Padahal sudah dari kemarin pakai kompres tempel " kata Rey meledek Niko.


" He'eh. Dari kemarin juga sudah dipakai kan, baru sekarang protesnya. Kompres tempel kan praktis " kata Winda.


Seketika Niko memandang Rey dan Winda secara bergantian, bingung dengan maksud perkataan mereka berdua. Dari kemarin kan, yang merawat dirinya itu Amara ? Kenapa mereka bisa tau ?


" Maksud kalian ? " tanya Niko.


" Sudah. Kak Niko baring saja, meladeni Kak Rey, gak akan ada habisnya. Ayo mulai belajarnya Kak " ajak Winda.


Rey duduk, meraih hp nya sebentar, mengetik sesuatu dan segera meletakkan kembali hp nya di atas meja, dengan senyuman ciri khas seorang Rey saat meledek temannya.


Seketika mata Niko terbelalak, saat membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Rey barusan, bukan hanya tulisan saja, tapi ada juga foto. Terlihat jelas itu Winda yang menempelkan kompres tempel di kening Niko.


Niko menatap Rey bertanya melalui isyarat, Rey menganggukkan kepalanya, mengiyakan sambil mengarahkan pandangan ke arah Winda. Tentu saja Niko kaget, spontan menutup mulutnya, mengingat perkataannya barusan.


{ Aku kena tipu Amara, bodoh sekali aku langsung percaya } batin Niko.


Sementara Rey hanya tersenyum-senyum sendiri, sesekali meledek Niko, Rey tau, pasti Niko saat ini malu habis. Niko berbalik membelakangi Winda, dirinya benar-benar malu menatap Winda untuk saat ini.


Rey dan Winda pun fokus belajar, sesekali Rey menjelaskan cara mengerjakannya dan Winda menyimak semua perkataan Rey. Terus belajar tanpa di rasa, ini sudah satu jam berlalu dan tepat di soal terakhir, Winda meletakkan pensilnya.


" Selesai...? " tanya Rey pada Winda.


Winda menganggukkan kepalanya, sedikit berdiri melakukan peregangan badan, menggerakkan badan bagian atas dan kedua tangannya.


" Kak Rey, punya nomor rekening ? " tanya Winda.


" Ada. Kenapa ? Kamu mau transfer ? " goda Rey.


" Hem ( mengangguk ) Bapak yang akan transfer. Kirimkan ya ? Kak Rey tidak menyebutkan nominalnya berapa ? " kata Winda.


" Seikhlasnya saja, akan aku terima dengan senang hati. Berapa pun itu " kata Rey.


" Beneran ? Seikhlasnya ? OK ! " goda Winda.

__ADS_1


Seketika pandangan mata Winda mengarah pada Niko yang tampak tertidur pulas di atas sofa panjang.


" Niko ganteng ya ? " kata Rey.


" He'eh ganteng " spontan Winda mengiyakannya.


" Kamu mau lihat, tampangnya Niko waktu SMP ? " kata Rey.


Winda menatap Rey, dengan cepat menganggukkan kepalanya dan segera mendekatkan diri pada Rey. Winda menunggu dengan antusias, kesempatan yang tak boleh disia-siakan, kapan lagi ada kesempatan melihat foto lama Niko.


Rey menunjukkan beberapa foto, foto Niko memakai seragam sekolah, foto Niko memakai baju rumah dan foto bersama dengan dirinya. Semua foto yang Rey tunjukkan benar-benar membuat mata Winda terbelalak terbuka lebar, menyandingkan foto dulu dan orangnya yang sekarang. Secara wajah tidak banyak berubah, tetap ganteng, tapi secara penampilan sangat jauh berbeda, terutama di bagian telinganya, sudah tidak dipasang anting-anting.


" Anting-anting ini cuma dijepit atau apa Kak ?" tanya Winda.


" Asli di tindik, nih lihat bekasnya masih ada " Rey memperlihatkan bekas tindikannya.


" Wahhh... keren ya ! Pasti kalian tukang berantem, jagoan di sekolah nih...!!! " goda Winda.


Dari semua foto yang Rey tunjukkan, ada satu foto yang menarik perhatian mata Winda. Foto tersebut memperlihatkan wajah Niko seperti habis berantem, karena ada beberapa luka lebam, mengenakan jaket hitam dan tudung jaket terpasang di kepalanya.


Seperti pernah lihat ? Tapi dimana ? Penampilan familiar ? Winda merasa tidak asing, mencoba mengingat-ingat tapi nihil, tidak dapat mengingat, di mana dan kapan dirinya pernah lihat.


Mengamati lagi foto tersebut, dilihatnya baik-baik dari jaket yang Niko pakai, latar belakang tempat fotonya, seperti pernah lihat ? Yakin banget pernah lihat ? Tapi kenapa gak ingat ? Winda terus mencoba mengingat-ingat lagi, karena dirinya benar-benar sedikit terusik dengan foto tersebut.


Rey tersenyum puas melihat Winda yang terus mengamati foto tersebut, harapannya benar-benar terkabul, Winda tertarik dan jadi penasaran. Semoga saja Winda ingat, itulah tujuan Rey memperlihatkan foto tersebut.


" Kak Rey. Foto ini ( memperlihatkan pada Rey ) diambil di pasar bukan ? Lokasinya, kok mirip di pasar yang lantai dua ya ? Yang dibagian belakangnya ? " tanya Winda benar-benar penasaran.


" Kenapa bisa, kamu kira di pasar ? " tanya Rey balik.


" Hanya dugaanku saja, di bagian belakang ini, sedikit terlihat plang papan nama salon Mbak Yu. Aku beberapa kali antar makanan ke salon Mbak Yu, makanya hafal plang papan namanya " kata Winda menjelaskan.


" Iya, kamu benar. Itu di sana " Rey mengiyakan sambil mengangguk.


" Hemmm ( berfikir ) kok masih ada yang ganjal ya ? Seperti masih ada yang terlupakan, tapi apa ya ? " kata Winda masih belum mengingat semuanya.


" Kalian bicarakan apa sih ? " kata Niko tiba-tiba terbangun.


Seketika Winda dan Rey terdiam hanya saling pandang, melihat Niko yang tiba-tiba bangun dan langsung duduk.


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.


__ADS_2