
Seharian ini kemana pun kaki Winda melangkah, selalu dipandang dengan tatapan aneh, namun Winda memilih bersikap biasa saja, pura-pura tidak tau, tidak perduli, selama tidak ada yang bertanya, dirinya lebih memilih diam, serasa gak ada gunanya, melakukan pembelaan, nanti capek dan bosan juga bakalan berhenti dengan sendirinya.
Selesai sholat dhuhur, saat baru saja keluar dari mushollah, Winda dihadang oleh Shanti, tanpa berkata apa pun Shanti menarik dengan paksa, membawa Winda ke tempat yang sedikit sepi, menjauh dari para murid yang lainnya.
" Shanti, ada apa sih ? " Winda bertanya sambil terus melangkah mengimbangi langkah kaki Shanti.
Shanti masih diam tidak menjawab, terus menarik Winda ke tempat yang ia inginkan, sesampainya di tempat tujuan, Shanti secara kasar melepaskan tangan Winda.
" APA ISI KEPALAMU SEBENARNYA..??? " Shanti memulai pembicaraan.
" Memang kenapa ? " Winda balik bertanya.
" Kamu gobl*k atau b*go sih ? " bentak Shanti.
" Tentang apa ? " Winda masih tidak mengerti.
" Kamu gak dengar ? atau pura-pura gak tau ? Gosip tentang kamu, sudah menyebar ke jurusan lain " kata Shanti.
" Oh... itu. Iya aku juga sudah tau. Biar kan saja lah, ntar capek juga berhenti sendiri " kata Winda.
" WHAT...??? " Shanti melebarkan bola matanya dengan sempurna, tidak percaya dengan reaksi Winda yang begitu santainya.
Shanti menggelengkan kepalanya, benar-benar heran dengan sikap Winda, bisanya dia diam, tidak bereaksi apa-apa, tidak melakukan bantahan sebagai pembelaan diri.
" Sudah aku jelaskan di depan kamu dan teman sekelas lainnya, aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu, tidak ada niatan sedikit pun, aku menjatuhkan kalian semua dan aku tidak berniat menjadi anak emas dari guru, mana pun " kata Winda.
Winda kembali menjelaskan, terserah, biar kan saja, mereka mau bilang apa ? Sah-sah saja mereka memiliki pendapat masing-masing, kita tidak bisa memaksakan semua orang, untuk suka sama kita.
Jika mereka ingin tau kebenarannya, pasti lah mereka akan mencari tau, bertanya pada yang bersangkutan, tapi kalau mereka memilih menelan bulat-bulat yang mereka dengar, ya biar kan saja, itu hak mereka.
" Jadi kamu terima, dikatain mereka ? " tanya Shanti.
" Kamu berharap, aku membantah semua ucapan mereka ? Dengan marah-marah ? Melakukan pembelaan, gitu ? Enggak Shanti ( menggelengkan kepala ) mereka justru akan lebih percaya, aku benar-benar melakukan dengan sengaja, itu yang mereka yakini " kata Winda.
__ADS_1
Mereka berdua saling pendang, tatapan Shanti benar-benar tidak bersahabat, Winda berusaha tenang menghadapi Shanti, tidak boleh terpancing emosi, tidak boleh marah, harus tenang, tetap tenang.
" Sekarang aku tanya padamu ( menatap serius ). Apa kamu juga mengira, aku melakukannya dengan sengaja ? Untuk cari muka ? Agar aku disanjung dan menjadi murid emas di kelas ? " kata Winda.
Shanti terdiam terpaku tidak menjawab, pasti dirinya tidak menyangka Winda akan melontarkan pertanyaan tersebut kepada dirinya. Bola mata Shanti bergerak berputar, seperti sedang berfikir, mencari jawaban yang tepat, untuk dikatakan kepada Winda.
Winda tersenyum, dapat menebak apa isi pikiran Shanti saat ini, Shanti kurang lebih juga sama, Shanti juga memiliki prasangka tersebut di hatinya, hanya saja Shanti enggan mengakuinya.
" Walau pun cuma sedikit, prasangka itu ada" kata Winda.
Shanti kembali menatap Winda dengan sinis, hatinya tersinggung dengan perkataan Winda barusan. Tapi tak dipungkirinya, prasangka itu memang ada, walau hatinya juga masih ragu-ragu. Winda mengambil napas panjang, menghembuskan berlahan, kembali menenangkan hatinya, jangan marah, jangan marah.
" Biar kan saja mereka bicara. Setidaknya, ada satu orang yang mempercayai aku, dengan sungguh-sungguh, segenap hati dia, sama sekali tidak meragukan aku, orang itu adalah NANSI " kata Winda.
Mendengar nama Nansi disebut, seketika Shanti menjadi kesal, dari semuanya, kenapa harus Nansi ? Winda mulai malas meladeni Shanti, sehingga dirinya berbalik, melangkah pergi, hendak meninggalkan Shanti sendirian.
" Kenapa harus dia ? " ucap Shanti.
" Karena apa ? Karena Nansi temanku, benar-benar temanku " kata Winda, kembali melangkah pergi, menjauh dari Shanti tanpa berbalik atau pun menoleh sekali pun.
Setelah kepergian Winda, tak lama kemudian Vera keluar dari tempat persembunyiannya, membuat Shanti sedikit terkejut, Vera tiba-tiba muncul di dekatnya. Vera tersenyum, entah meledek atau menghina, dan tak enak Shanti memandangnya.
" Shanti.... Shanti...!!! Apa sih mau mu ? Sudah tau kan ? Winda itu sedekat apa dengan Nansi ? Mereka itu benar-benar berteman, tidak seperti dirimu, jangan disama ratakan " kata Vera menasehati.
" BERISIK...!!! Kamu sendiri sama saja kan ? Kamu juga masih ragu terhadap Winda ? Ngaku saja ? " Shanti tak mau kalah.
" Enggak tuh, aku biasa saja. Buktinya kemarin aku habis jalan dengan Winda. Yang bermasalah itu kamu, bukan Winda " kata Vera.
Shanti bertambah kesal dengan ucapan Vera, dirinya langsung pergi begitu saja tanpa permisi meninggalkan Vera sendirian. Vera menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap Shanti.
{ Jadi Winda sudah tau, gosip yang beredar ? Kenapa cerita ini bisa menyebar dengan cepat ? } batin Vera yang merasa sedikit kasihan terhadap Winda.
*
__ADS_1
Winda sengaja berjalan dengan cepat, pandangan matanya hanya melihat lurus ke depan, tidak memperhatikan kanan dan kiri, ada apa ? ada siapa ? Di kepalanya hanya ingin cepat sampai di dalam kelas, pengennya sih begitu, tapi malah dihadang oleh Rey dong...!!!
Winda mengangkat kepalanya melihat wajah Rey, namun Rey hanya tersenyum tidak jelas, Winda melangkah kanan, Rey juga menghadang, melangkah kiri juga dihadang, Winda menatap serius.
" Kak Rey, ngapain sih ? " tanya Winda.
" Menggoda dirimu " ucap Rey sambil tersenyum.
" Untuk apa ? " tanya Winda.
" Gak ada apa-apa, pengen saja. Nih untukmu" Rey memberi Winda sebuah jambu biji yang berukuran cukup besar.
" Waahh jambu ( berbinar ). Terima kasih Kak Rey...!!! Eh...??? Tunggu..??? Tumben-tumbenan Kak Rey baik ? " Winda memberikan tatapan curiga.
Rey hendak mengambil kembali buah jambu pemberiannya, namun Winda sudah dengan cepat menarik tangannya mundur ke belakang, menyembunyikan tangan di balik punggungnya.
" Eettss... sudah dikasih, masa mau diambil lagi ? " kata Winda.
" Lagian mikirnya curigaan, takut aku taruh racun gitu ? Emangnya kamu orang penting ?" kata Rey meledek.
" Ya tumben saja " kata Winda.
Tanpa aba-aba apa pun, Rey mencubit pipi, kemudian mengacak-acak poni rambut Winda sambil mengucapkan kata gemes, al hasil mereka berdua jadi pusat perhatian dong.
" Sana ! Kembali ke kelas mu. Jangan lupa dimakan ya. Bye..." Rey berpamitan, berbalik dan pergi menjauh.
Winda hanya diam mengamati kepergian Rey dengan pandangan heran, ada apa sih ? Sikapnya aneh betul ? Apa maksudnya coba ? Winda memperbaiki tatanan rambutnya dengan tangan ala kadarnya saja, yang penting kembali rapi dan melanjutkan berjalan menuju kelas.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca, mohon dukungannya teman-teman 🙏🤗