
Saat kembali ke sekolah, Winda membagikan beberapa cokelat kepada teman-teman yang sudah dijanjikannya. Pagi-pagi mencari Juan dan Rey terlebih dahulu, baru lah kemudian di dalam kelas, Nansi, Vera dan juga Lovely.
" Kamu beneran minta hadiah cokelat " kata Nansi.
" Kalau ini hadiah untukmu ? Kenapa kamu bagi ? " sambung Vera.
" Gak mau ? Sini balikin " Winda meminta kembali.
" Eh... ya mau lah. Makasih ya " kata Vera.
" Gimana liburanmu, menyenangkan ? " tanya Lovely ke Winda.
" Lumayan, sering bantu-bantu di pasar, dapat upah deh " kata Winda.
" Liburanku, malah ke ladang, tanam padi " kata Nansi.
" Kasihan " ucap Vera dan Lovely barengan.
" Kalau kalian berdua ? " Winda bertanya pada Vera dan Lovely.
" Balik kampung " lagi-lagi mereka menjawab barengan.
" Ohh... pasti seru ya. Tapi Nansi, kamu gak salah ? Tanam padi di ladang ? Setauku tanam padi itu di sawah " kata Winda.
" Kamu beneran gak tau, Winda ? " tanya Lovely heran.
Winda menggelengkan kepala, yang malah disambut suara tawa oleh ketiga temannya ini, membuat Winda semakin bingung. Apa ada yang salah, dengan pertanyaannya ? Perasaan gak lucu juga deh ? Kok di tertawakan ???
" Ada dua jenis padi Winda. Yang ditanam di sawah dan yang ditanam di ladang. Yang ditanam di ladang disebut padi gogo " Nansi menjelaskan.
" Padi gogo ? ternyata ada ya ? " Winda beneran baru tau.
" Kamu baru tau, Win ? " tanya Vera.
" He'eh ( mengangguk ) selama ini aku taunya ya... yang ditanam di sawah. Padi gogo itu, sama seperti yang ditanam di sawah kah ? " tanya Winda.
" Ya sama menurutku, cuma beda tempat dan cara tanamnya saja " Nansi menjelaskan.
" Rasa nasinya bagaimana ? " Winda masih penasaran.
" Sama menurutku. Tapi bagi orang yang belum terbiasa, mungkin ada sedikit perbedaan di teksturnya. Sedikit terasa keras" kata Nansi.
" Hemmm jadi penasaran, bagaimana rupa aslinya ? " lagi-lagi Winda ingin tau.
" Sama saja dengan padi sawah " kata Lovely.
" Iya kah ??? Dari mana kamu tau ? Pernah lihat ? " tanya Winda.
" Di kampungku juga ada yang tanam padi gogo, hanya saja aku gak pernah ikut ke ladang, karena ladangnya jauh. Ladangmu juga jauh kan Nansi ? harus sampai bermalam ? " kata Lovely.
__ADS_1
Winda menatap Nansi, langsung dikejutkan saat melihat Nansi menganggukkan kepalanya. Sejauh apa ? Sampai harus bermalam ? Makin tambah penasaran lah Winda, dengan wujud padi gogo.
Saat sedang asyik bercerita, pandangan mata tiba-tiba tertuju ke arah Shanti dan saling ketemu pandangan mata dong. Spontan Winda tersenyum, tapi Shanti malah membuat muka, pura-pura gak lihat Winda. Ada apa dengan anak itu ?
Winda tak mau ambil pusing, dirinya kembali asyik bercerita kembali, saling bertukar cerita saat liburan semester. Sangking asyiknya cerita, sesekali mereka tertawa, saat mendengarkan ada yang lucu, kalau dilihat orang nampak begitu sangat akrab dan ada seseorang yang menatap dengan tidak suka. Bisa ditebak siapa ? Sudah tentu, Shanti...!!!
Semua aktivitas sekolah kembali seperti biasa, begitu juga dengan hubungan Winda dan Niko, kembali normal, biasa saja, tidak ada yang berubah dan masih sama seperti semula.
Itu pendapat mereka berdua, tapi pendapat Rey lain lagi. Tentang hubungan Winda dan Niko di masa lalu, yang sudah saling tau, satu sama lainnya, Rey beranggapan benih-benih tersebut sudah tumbuh bermekaran di antara keduanya. Walau pun sudah dijelaskan, kalau tidak ada hubungan seperti itu. Tetap saja tidak percaya.
" Akui saja lah...!!! Kalian berdua gak perlu malu ? Kan cuma aku di sini " kata Rey terus menggoda.
" Apa yang harus diakui ? Kenyataan memang, kita gak ada hubungan seperti itu " bantah Winda.
" Kamu gak suka Niko kah ? Bukannya kamu pernah bilang Niko ganteng ? Atau menurutmu, aku yang lebih ganteng ? " Rey malah narsis.
" Berhenti lah.... !!! Jangan bicara yang tidak-tidak " Niko memperingatkan Rey dengan sedikit memberi wajah juteknya.
" Tuchh, gak terima juga, pacarnya aku godain" kata Rey.
" Ngobrolin apa sih ? Seru banget kayaknya ? " Juan datang, berjalan mendekati mereka bertiga dengan diikuti Noel dari belakangnya.
" Ini loh... sedang bicarakan pasangan baru " Rey menunjuk ke arah Winda dan Niko.
" Benarkah ??? " Juan nampak terkejut, begitu juga dengan Noel.
" Beneran Nik ? " Noel mengarah pada Niko dan Winda bergantian.
Winda menggelengkan kepalanya, belum saja Niko menjawab, malah sudah disela oleh Rey. Rey dengan semangat mengiyakannya dan dengan sengaja menceritakan, perihal pertemuan awal antara Winda dan Niko beberapa tahun lalu.
" Rey...!!! " kata Niko menekan nada suaranya.
Seketika Rey berhenti tak melanjutkan ceritanya, namun karena sudah terlanjur bicara, tentu saja, ada dampaknya. Juan dan Rey malah kompak, terus melontarkan kata-kata untuk menggoda, terutama Winda, dan sementara itu Noel lebih memilih untuk diam, tidak berkomentar apa pun.
Memang benar, pada saat itu diam, tak berkomentar apa pun, tapi...??? Saat ada kesempatan untuk bicara berdua, Winda di interogasi panjang lebar oleh Noel, menanyakan cerita sebenarnya itu bagaimana ???.
Bicara sih bicara, tapi tempatnya kurang nyaman, kenapa dari semua tempat di sekolah, harus memilih toilet sih ? Mana toilet cowok lagi. Hadechh, gimana mau bicara dengan nyaman ini ? Winda menundukkan pandangan, walau hanya ada mereka berdua saat ini.
" Ayo jelas kan ? Aku mau dengar dari mulut kamu ? " tanya Noel.
" Kami gak pacaran. Memang benar, aku pernah ketemu Kak Niko, waktu Kak Niko SMP dulu, aku baru sadar itu Kak Niko, belum lama kok, hari pembagian rapot, lebih tepatnya saat kalian pulang dari warung " kata Winda.
" Berarti ??? Kamu gadis itu ??? " tanya Noel.
Winda mengangguk pelan, seketika itu juga Noel mengepalkan tangannya, terlihat sangat jelas dirinya sedang menahan kekesalannya.
" Jadi ??? Benar, kalian pacaran ? " Noel berkata sangat lirih.
" Enggak. Kak Niko memang bilang suka, tapi dia gak ngajak pacaran. Tadi itu cuma tanggapan Kak Rey saja, biasa lah Kak Rey, suka godain " Winda menjelaskan.
__ADS_1
" Beneran ??? " Noel masih meragukan.
" Hem " Winda mengangguk.
Noel berlahan mendekat, memeluk dan menyandarkan dagunya di bahu Winda. Keluar manjanya. Cemburu kah ? Winda mengusap-usap punggung Noel, dengan berlahan mendorong Noel dan melepaskan diri dari pelukan.
" Aku lega dengarnya, kalian gak pacaran. Tadi aku sempat sakit hati, aku kamu tolak, padahal kan, aku ini juga sama gantengnya dengan Niko, gak kalah. Seandainya Niko ajak pacaran ? Kamu bagaimana ? Kamu terima ?" kata Noel.
" Tidak usah berandai. Berteman lebih bagus " kata Winda.
Pembicaraan harus diakhiri, karena bel tanda masuk sudah berbunyi, Noel keluar lebih dahulu, memastikan situasi aman, setelah di rasa aman, baru lah Winda keluar. Dengan langkah cepat Winda meninggalkan toilet tersebut, sebelum ada yang melihat, bisa gawat urusan, kalau ada yang tau.
Noel juga kembali ke dalam kelasnya sendiri sambil berfikir, timbul pertanyaan dalam hatinya. Kalau Winda adalah gadis yang menolongnya ? Kenapa tidak diajak pacaran ? Bukannya Niko selalu menyukai gadis yang menolongnya itu ? Kenapa Niko melewatkan kesempatan itu ?
Ini yang Niko harapkan, bertemu kembali dengan gadis yang disukainya, kini sudah ketemu, menyatakan suka, tapi kenapa melewatkan kesempatan ? Harusnya kan, diajak jadian dong ? Ada apa ? Sesaat kemudian Noel tersenyum, ada bagusnya juga Niko dan Winda gak pacaran.
Kembali ke Winda
Lagi-lagi Shanti menghalangi jalan Winda, kali ini entah apalagi yang dipermasalahkan dan Winda memilih diam, menunggu Shanti duluan berbicara.
" Habis liburan, kamu gemukan ya ? " kata Shanti.
WHAT ....???
GEMUKAN...???
Seketika mata Winda terbelalak dikatain gemukan oleh Shanti.
" Selama libur, pasti kerjamu makan terus " sambung Shanti.
" Wahhh.... Shan...!!! Mulutmu ini...!!! Beneran ngajak ribut ya ? Ya bagus dong kalau aku gemuk, berarti hidupku makmur. Kenapa jadi kamu yang repot " kata Winda kesal.
" Jangan kelewat gemuk, kamu itu pendek, ntar bulet disangka bola lagi " kata Shanti.
Yang bikin tambah kesal Winda, setelah ngomong, ngatain dirinya terus Shanti pergi berlalu begitu saja, meninggalkan Winda. Benar-benar, rasanya pengen banget diremet ( dihancurkan ) seperti kerupuk.
Winda terdiam sesaat, berfikir, mulai menyentuh pipinya, melihat lengan, melihat paha, memperhatikan bentuk badannya dan mulai terpengaruh omongan Shanti barusan.
Iyakah gemuk ??? Harus kurangi makan nih ???
.
.
.
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗
__ADS_1