Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 70 Nilai semester


__ADS_3

Pada malam harinya, Winda dipanggil sang Bapak, membicarakan perihal tentang les yang Winda jalani. Keputusan Winda secara mendadak tanpa dibicarakan dulu, awalnya memang menimbulkan masalah, tapi pada akhirnya tidak dipermasalahkan, asalkan ulangan semester nanti nilainya harus benar-benar naik, tidak boleh sampai turun.


" Piye masalah bayarane ( gimana masalah bayarannya ) ? " tanya Bapak kepada Winda.


" Sak ikhlase mawon Pak, mboten enten nyukani rego ( seikhlasnya saja Pak, tidak ada kasih harga ) " kata Winda.


" Padakne les umume wae ya ? engko nek nilaimu munggah Bapak tambahi ( Samakan les umumnya saja ya ? Nanti kalau nilaimu naik, Bapak akan tambahi ) " kata Bapak.


" Injeh Pak ( iya Pak ) " jawab Winda.


" Lantaran les, mulehmu dadi sore-sore ye nduk ? ( karena les, pulangmu jadi sore-sore ya nak ? ) " tanya Ibu.


" Niki les matematika lah Bu, mboten gampang, susah poll ( Ini les matematika Bu, gak gampang, susah banget ) " kata Winda.


" Sinau sing sregep, gen pinter, entuk biji duwur. Opo wae sing tok karepne, Bapak Ibu turuti ( Belajar yang rajin, biar pintar, dapat nilai tinggi. Apa yang kamu inginkan, Bapak Ibu kabul kan ) " kata Ibu.


" Saestu nggeh Pak, Bu ( Beneran ya Pak, Bu )" jawab Winda.


Bapak dan Ibu menganggukkan kepalanya, yang disambut senyum bahagia, Winda memeluk Bapak dan Ibu nya secara bergantian. Motivasi seorang anak mendapatkan hadiah sebagai bentuk penghargaan.


Setelah itu Winda menghampiri Widi sang Kakak, sengaja duduk tepat di sebelah Widi, mengganggu, mencari perhatian sang Kakak, menyenggol lengan, menggerak-gerakkan alis mata dan Widi hanya menatap dengan datar.


Winda rada sebel, memanyunkan bibirnya, membuat wajah cemberut, sudah diberi kode, masa gak paham juga dan mulai tersenyum, saat Widi mengusap kepala Winda, menganggukkan kepala sembari tersenyum juga.


" Janji ya mas " Winda memeluk Widi.


" Iya. Cokelat sebiji kan ? " goda Widi.


" Sebungkus dong, masa sebiji " protes Winda.


" Itu maksudnya " kata Widi.


" Yang paling besar, gak mau aku kalau yang kecil " tambah Winda.


" Hem " Widi mengangguk, lagi-lagi Winda memeluk sang Kakak, merasa senang mendapatkan banyak hadiah, jadi harus semangat untuk mendapatkan nilai yang bagus.


Harus dapat nilai bagus, membuktikan kemampuan diri, bukan hanya karena hadiah saja, tapi membuktikan pada semuanya, kalau dirinya bisa, dirinya mampu dan bisa melebihi dari nilai sebelumnya.


***


Mendekati hari-hari ulangan semester Winda semakin rajin untuk belajar, mengurangi waktu mainnya, tidak keluar malam, sampai ulangan selesai dan itu benar-benar dilakukan Winda tanpa paksaan dari siapa pun.


Selama ulangan Winda hanya fokus pada belajar, belajar dan belajar. Seperti terobsesi untuk mendapatkan nilai bagus, sebenarnya ya memang sih, setiap pagi sehabis sholat subuh kembali membaca buku pelajaran dan kalau di sekolah, dirinya santai gak baca-baca buku lagi. Menghindari kegugupan diri sebelum menghadapi ulangan.


Ketika ulangan matematika tiba, Winda benar-benar berdoa dengan sungguh-sungguh sepenuh hati, berdoa semoga dirinya bisa menjawab soal-soal dengan baik. Winda tersenyum bahagia ada beberapa soal yang keluar dan itu sama persis dengan soal-soal latihan yang Rey ajarkan waktu les.


{ Waahhh Kak Rey benar-benar hebat, prediksi soal-soal nya beneran keluar. Alhamdulillah Ya Allah } batin Winda.


Setelah seminggu penuh ulangan semester, kini hanya tinggal menunggu hasilnya saja dan semoga tidak ada ulangan apa pun yang mengulang. Winda sudah berusaha dengan semua kemampuannya dan sekarang dirinya santai menikmati makanan di kantin sekolah.


" Gimana ulangan terakhir, bisa ? " Rey yang tiba-tiba datang dan langsung bergabung duduk semeja.

__ADS_1


" Bisa dong. Kak Rey hebat ( mengacungkan kedua jempol nya ) prediksi soal latihan dari Kakak ada yang keluar dan sama persis. Keren pokoknya " kata Winda terus memuji Rey.


" Benarkah ??? " Rey malu-malu dong.


" Pokoknya dilihat nanti, semoga nilaiku bagus dengan begitu aku akan mendapatkan hadiah, ntar hadiahnya aku bagi dengan Kak Rey sebungkus saja tapinya " kata Winda.


" Emang kamu minta hadiah apa ? " tanya Niko ingin tahu.


" Minta hadiah cokelat satu dus " jawab Winda.


" Kamu hanya minta cokelat ? " Nansi ikutan bicara.


" Cokelat Chunky Bar kan mahal, satu dus itu kan, lumayan harganya, banyak itu eehhh. Biar hanya cokelat, ya gak apa-apa, itu yang aku inginkan, bisa puas makan cokelat setiap hari" Winda tersenyum lebar.


Nansi menatap heran mendengar permintaan hadiah hanya cokelat, sementara Winda bercerita dengan sangat antusias, karena kali ini dia yakin keinginannya tersebut akan benar-benar terwujud menjadi kenyataan.


{ Cokelat ya...??? } batin Niko.


Setelah menunggu, kini akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga, Winda menunggu dengan harap-harap cemas dan saat rapot sudah berada di tangannya. Jantung Winda deg degan gak karuan, membaca bismillah, menutup mata sesaat, membuka dengan berlahan dan mengintip sedikit.


Nilai pertama yang dicarinya adalah pelajaran matematika, Winda tersenyum sangat lebar melihat huruf B terpampang jelas dan setelah itu baru lah Winda melihat nilai mata pelajaran yang lainnya.


" Ibu akan umumkan yang dapat peringkat tiga Echa, peringkat dua Winda dan peringkat pertama adalah Nirmala. Selamat untuk kalian bertiga. Berikan tepuk tangan untuk teman kalian " kata Ibu Ana mengumumkan peringkat tiga besarnya.


Prok...prok...prok...prok..prok


Setelah Ibu Ana mengumumkan di depan kelas, baru lah Winda buru-buru kembali membaca rapotnya dan benar dong di situ tertera peringkat dua. Winda menutup mulutnya, benar-benar tidak mempercayainya, masa sih ? Gak salah nih ???


" Terima kasih, nanti kita belajar bareng lagi ya " kata Winda.


" Selamat ya Winda " kata Echa.


" Selamat juga ya Echa ( menjabat tangan Echa ). Selamat ya Nirmala " kata Winda menjabat tangan Nirmala.


" Semester depan, kita saingan lagi " kata Nirmala.


" OK " jawab Winda.


" Yang dapat peringkat satu, dua, ternyata si kembar beda ayah dan ibu, selamat ya " Vera menjabat tangan secara bergantian.


" Jangan remehkan, telepati kami cukup kuat loh " jawab Winda.


" Hemmm terusan " ledek Vera.


" Selamat bersenang-senang dengan para pacar kalian, aku mau pergi dulu " Winda berpamitan.


" Kemana ? " tanya Nansi.


" Cari guru private tersayang, aku mau tunjukkan nilaiku, pasti dia bangga padaku. Bye semuanya...!!! " Winda benar-benar pergi kali ini.


Winda segera pergi menuju pohon jambu belakang, tempat janjian akan bertemu di sana setelah pembagian rapot selesai. Rupanya Winda yang pertama kali datang, melihat kembali nilai-nilai tersebut, karena nilai-nilai tersebut melebihi dari target Winda.

__ADS_1


Mata Winda langsung berbinar saat melihat kedatangan Rey tapi rupanya gak sendirian, ada Niko, Noel dan juga Juan, menyusul dari belakang.


" Lihat Kak Rey, matematika aku dapat B, keren kan, Kak Rey pasti bangga kan, terima kasih Kak Rey " Winda memeluk Rey karena begitu senangnya.


" Sama-sama, terima kasih juga, sudah belajar dengan baik " Rey mengusap kepala Winda dengan lembut.


" Kak Rey tunggu saja, nanti ada transfer tambahan dari Bapak. Bapak sudah janji akan menambahi kalau nilaiku naik dan kalau cokelatnya sudah dibelikan, akan aku bagi, masing-masing dari Kakak semua dapat satu, satu aja ya..." kata Winda melepaskan pelukannya.


Rey mengambil buku rapot dari tangan Winda, Rey cukup terkejut ternyata Winda mendapatkan peringkat kedua. Begitu pun dengan Niko, Noel dan Juan, tidak menyangka kalau Winda itu cukup pintar dalam pelajaran.


" Pintar juga ya adik kelas satu ini, dapat peringkat dua " kata Juan.


" Terima kasih Kak Juan. Lalu dari Kakak berempat ada yang dapat peringkat ? Pasti dapat kan ? Kalian berempat itu kan, jawaranya !!! " kata Winda.


" Perkenalkan. Satu ( menunjuk Niko ), dua ( menunjuk Noel ), tiga ( menunjuk Juan ) dan lima " kata Rey menunjuk diri sendiri.


" Hemmm ??? " Winda memandang bergantian ke arah mereka, serasa tidak percaya, Kak Rey dapat peringkat lima.


" Biasa saja dong itu muka, pasti kecewa kan, aku cuma dapat peringkat lima ? " kata Rey.


" Kecewa sih enggak, hanya gak sangka saja. Kakak semua memang jawaranya. Selamat ya para Kakak semua " kata Winda menyalami satu per satu secara bergantian.


" Selamat juga ya, usahamu benar-benar membuahkan hasil " kata Niko.


" Kita sama-sama peringkat dua ya, benar-benar jodoh kan " goda Noel.


" Kak Noel bisa aja " Winda salting mendengarnya.


" Gimana kalau kamu ikut kita makan-makan bareng, Noel yang traktir " kata Juan.


" Hemmm maaf. Aku harus langsung pulang, untuk menunjukkan rapotku pada orang tua, dengan begitu aku akan langsung mendapatkan hadiahku. Terima kasih tawarannya, aku akan pulang sekarang, bye...bye..." Winda berpamitan.


Winda segera berbalik dan pergi meninggalkan sekolah. Dari sekolah Winda langsung menuju pasar, menemui kedua orang tuanya dan tentu saja disambut dengan wajah yang gembira. Melihat nilai yang bagus dan ditambah mendapatkan peringkat sebagai bonusnya.


Bapak dan Ibu tak henti-hentinya tersenyum melihat nilai rapot Winda, merasa bangga kalau anak berhasil mendapatkan nilai bagus, merasa perjuangan orang tua menyekolahkan anak itu gak sia-sia, istilah orang tua zaman dulu, gak rugi keluar uang.


Diantara kebahagiaan tersebut, tiba-tiba saja muncul empat pemuda ganteng yang mengalihkan pandangan sang Ibu, karena Ibu mengenali salah satunya, ya langsung disapa dong.


" Eh... ada Nak Niko, datang sama teman-teman ya " kata Ibu.


Seketika Winda berbalik, pandangan mata langsung melebar, bola mata membulat sempurna, wajah yang benar-benar terkejut, melihat empat seniornya sudah berdiri di belakangnya dan mereka semua malah tersenyum lebar dong.


{ Mereka ngikutin aku ??? } batin Winda.


.


.


.


( bersambung )

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.


__ADS_2