
Pagi-pagi sekali Winda sudah terbangun sejak azan subuh belum berkumandang, dirinya begitu bersemangat menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawanya pergi ke air terjun, Winda menyiapkan semuanya bahkan sampai mengecek berulang-ulang memastikan tidak ada yang ketinggalan satu barang pun.
Sampai pada waktu jam janjian Vera datang, tanpa menunggu berlama-lama lagi, mereka segera melaju di jalan raya. Sepanjang jalan mereka berdua bercerita, sesekali Winda mengamati jalan yang dilewati, menikmati pemandangan alam, Winda sangat senang mengunjungi tempat baru, ditambah lagi bukan dengan sang kakak, PERGINYA.
Setelah perjalanan kurang lebih sekitar satu jam, mereka pun sampai di rumah kerabat Vera, meletakkan barang-barang, ganti baju, membawa bekal yang sudah disiapkan dan segera pergi lagi menuju air terjun.
Rumah kerabat Vera dan air terjun tidak terlalu jauh, sehingga kami memutuskan berjalan kaki menuju air terjun, Vera memiliki pertimbangan sendiri, posisi air terjun masuk ke dalam lumayan rada jauh dari pemukiman penduduk dan kalau mau berlama-lama main di air terjun, akan lebih tenang kalau gak bawa motor.
Sesampainya di air terjun, senyuman Winda langsung melebar, melihat air terjun yang tidak terlalu tinggi, sudah banyak anak-anak kecil yang berenang, berlompatan ke sana kemari, nampak juga di bagian rada ke bawah ada beberapa ibu-ibu sedang mencuci baju.
Vera menjelaskan air terjun ini bebas, tidak ada tiket masuk, kalau hari libur tertentu, biasanya ada warga yang menggelar jualan dan kalau bertepatan musim buah, akan ada banyak penjual buah dadakan hasil dari kebun sendiri.
Winda mengamati sekeliling air terjun, suasananya sangat alami, banyak pohon-pohon besar berdiri dengan kokoh, sepertinya air terjun berdampingan dengan kebun warga, karena banyak pohon buah-buahan, seperti pohon durian, rambutan dan juga langsat.
Vera mengajak Winda untuk naik lagi ke atas, menuju air terjun yang paling tinggi, mencari tempat duduk yang nyaman diantara batu-batu besar. Mereka tidak hanya berdua, sudah ada beberapa pengunjung yang lebih dulu datang, ada yang duduk berdua, kumpul beramai-ramai, berenang di kolamnya dan ada juga yang sibuk berfoto ria mengabadikan momen.
Winda melepaskan sandal, memasukkan kaki ke dalam air, awalnya terasa dingin, namun setelah beberapa saat terasa hangat, Winda membuka hp, mengecek jikalau ada pesan masuk dari Jevi dan ternyata benar ada. Dari waktu yang tertera sudah sekitar satu jam yang lalu pesan dikirim.
" Ver, foto yuk...!!! " ajak Winda.
Mereka berdua berfoto ria, berlatar belakang pemandangan air terjun yang sangat cantik, pas banget aliran airnya tidak terlalu deras, sehingga nampak begitu bening dan bersih.
" Aku suka lama-lama kalau ke sini, mau seharian pun aku betah " kata Vera.
" Tentu saja betah, hawanya sejuk, beda sekali dengan rumah, hawanya panas dan berisik " kata Winda.
" Kirim foto tadi ke Nansi, pasti bakalan iri dia" kata Vera.
" NGAWUR...!!! Nansi ibadah, ini minggu lah kan " Winda mengingatkan.
" Ya gak apa-apa, biar gak khusyuk ibadahnya" Vera tertawa.
" Dasar...!!! Bisikkan syaiton di dengar " Winda balik meledek.
Secara tiba-tiba Vera mencipratkan air ke arah Winda, mendapat serangan mendadak membuat Winda melebarkan bola matanya dengan sempurna, karena kaget. Sementara sang pelaku tertawa kegirangan melihat ekspresi terkejut Winda. Tanpa pikir panjang lagi Winda segera menyimpan hp ke dalam tas kecil yang dibawanya agar tidak basah dan langsung berjalan mengarah pada Vera untuk membalasnya.
" Awas ya...!!! Aku balas kamu...!!! " kata Winda.
__ADS_1
Vera justru semakin menjadi, sengaja membuat wajah meledek agar Winda bertambah kesal lagi, Winda terus melangkah kan kaki ke dalam air, sesekali mencipratkan air ke arah Vera, saling membalas mencipratkan air, tidak mau ada yang mengalah.
Mereka begitu asyik bermain air, sampai-sampai Winda tidak hati-hati dalam melangkah, hingga membuatnya terjatuh, masuk ke dalam air seluruhnya, dari ujung kaki hingga kepala, semuanya sudah basah kuyup tak tersisa.
Melihat adegan tersebut, justru membuat Vera tertawa terbahak-bahak, begitu menikmati musibah yang menimpa Winda. Winda sedikit kesal melihat Vera tertawa, terlintas lah ide jail dalam kepala untuk mengerjai balik supaya sama-sama basah kuyup.
" Aduuhhh...!!! Kakiku...!!! " Winda merintih kesakitan.
" Kenapa Win ? " Vera pun terpancing, melangkah mendekati Winda yang berpura-pura kesakitan.
" Rada sakit, kena batu kayaknya " kata Winda berakting.
Saat Vera sudah berada sangat dekat, seketika Winda langsung memeluk tubuh Vera dan menjatuhkan tubuhnya secara bersamaan masuk ke dalam air. Vera keluar dari air dengan napas yang tersendat-sendat, sesekali terbatuk-batuk karena ada air yang tidak sengaja tertelan.
" WINDA...!!! " teriak Vera dengan kesal.
" Nah... ketawa lagi...??? Gak enak kan...??? " kata Winda.
Awalnya memang kesal tapi pada akhirnya mereka malah jadi tertawa dan kembali melanjutkan bermain air. Setelah puas bermain air, mereka berdua keluar dari dalam air, duduk di atas batu, menikmati hidangan bekal yang dibawanya tadi dari rumah.
" Niat betul bawanya ? Pantesan tas mu tadi kelihatan berat " kata Vera.
" Daripada beli di jalan, apa salahnya bawa dari rumah " kata Winda mulai menikmati bekalnya.
Saat mereka sedang menikmati hidangan bekal, pas banget Jevi datang, menghampiri mereka berdua, membuat seolah-olah bertemu secara kebetulan. Winda pun berbasa-basi menawarkan Jevi untuk bergabung dengan mereka dan tentu saja tidak ditolak oleh Jevi.
" Makan Jev, jangan dilihatin saja " Winda menawarkan makanan pada Jevi, dengan malu-malu Jevi mengambil satu dan memakannya.
" Teman-teman mu mana ? " tanya Vera pada Jevi.
" Ada, mereka di bawah, biasa lah mencar, kalian cuma berdua ? " kata Jevi.
" Hem, begitu lah " jawab Vera.
" Kebetulan ya, ketemu di sini ? pasti kamu kaget lihat Vera ? " Winda sengaja memancing pembicaraan ke arah sana.
" Apaan sih, Win...!!! " ucap Vera.
__ADS_1
" Banget. Gak sangka ya Ver, ternyata rambutmu panjang, lebih panjang dari rambut Winda, aku pikir bakalan pendek, kamu cantik" kata Jevi.
Mendengar kata pujian dari Jevi membuat Vera langsung tersenyum senang dong, siapa yang gak seneng, kalau dipuji cantik ?. Namun berbanding terbalik, Winda justru manyun, sedikit kesal dirinya dijadikan bahan perbandingan.
Terlihat sangat jelas, dari sorot mata Jevi yang terus mengarah pandangan pada Vera. Sepertinya Jevi beneran suka Vera ? Beneran bela-belain ke air terjun dong ? Entah kenapa Winda langsung teringat kepada Nevan ? Nevan kan juga suka Vera ! Winda terhanyut dengan pikiran lamunannya sendiri, sampai tidak dengar dipanggil oleh Vera.
" WOOOIII...!!! Jangan melamun, kesambet repot urusannya " Vera mengagetkan Winda.
" Siapa yang melamun sih, ini nah, lagi lihatin ikan dekat kakiku, mau makan daki kakiku kayaknya " kata Winda.
" Ohhh... iya ( melihat ke bawah ), di air terjun ini banyak ikan-ikan kecil " kata Vera.
" Coba bawa jaring, bisa pulang bawa ikan kita " celetuk Winda asal bicara.
" Bikin malu saja " ucap Vera.
Winda menatap ke arah Jevi, agar menciptakan obrolan yang menyenangkan dengan Vera, sialnya Jevi gak paham dan malah diam saja dong...??? Winda yang sedikit kesal, sengaja menghentakkan kakinya menciptakan cipratan air agar mengenai Jevi.
Wajah terkejut Jevi benar-benar sangat lucu, hingga membuat Vera tertawa terbahak-bahak, tentu saja Jevi tak terima dan segera membalas perbuatan Winda, namun Winda sudah sigap dan segera bersembunyi di balik badan Vera, al hasil Vera dong yang basah.
" Sorry Ver...!!! " ucap Jevi.
" JEVI...!!! SINI KAU...!!! " Vera langsung membalas perbuatan Jevi tersebut.
Mereka bertiga saling mencipratkan air, ke air terjun memang untuk bermain air kan ? Jadi wajar dong kalau basah ? Winda menatap ke arah Vera dan Jevi secara bergantian, mereka berdua sudah asyik bermain.
Winda menarik tas kecilnya, membawa beberapa makanan dan minuman, menjauh secara berlahan, meninggalkan mereka agar memiliki waktu berduaan, gak enak juga lama-lama jadi obat nyamuk.
.
.
.
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗
__ADS_1