
Jika membicarakan tentang perasaan, rasa suka dan cinta, maka tidak akan ada habisnya, begitu juga dengan dampaknya, bisa negatif atau pun positif. Dampaknya bukan hanya pada orang yang mengalaminya, dampak tersebut juga bisa berimbas pada orang-orang disekitarnya.
Apalagi jika kisah tak sesuai dengan harapan mereka, maka orang yang pertama menjadi sasaran amukan adalah orang terdekat. Tak ada angin, tak ada hujan, tak mendengar desas desus apa pun, tiba-tiba saja mendapatkan amukan dari Amel.
Winda baru saja beberapa meter keluar dari pintu gerbang sekolahnya, dihadang oleh Amel dan kawan-kawannya. Tanpa basa basi langsung mengeluarkan semua unek-uneknya dengan menggebu-gebu. Bingung ?? Sudah pasti Winda sangat bingung.
" Sekarang kamu puas kan ? Aku sudah putus dengan Kakakmu " kata Amel dengan nada tinggi penuh emosi.
" ALHAMDULILLAH. Akhirnya doaku terkabul " Winda mengucapkan syukur mendengar kabar tersebut.
" Jadi memang benar kan, kamu sengaja mendatangkan masalah dalam hubungan kami. Kamu bilang, kamu gak suka aku pacaran dengan kakakmu, karena aku dulu satu sekolah denganmu. Tapi sekarang apa ? Kamu sodorkan teman sekolahmu, untuk menghancurkan hubungan kami. Caramu benar-benar licik Winda " kata Amel.
" Tunggu dulu...!!! Atas dasar apa ? Kamu menuduhku seperti itu ? Kamu tau betul Amel. Kenapa aku gak suka sama kamu. Cara licik ??? Kalau aku menggunakan cara licik, hubunganmu tidak akan berjalan selama ini. Aku bukan kamu Amel " Winda membalikkan keadaan.
" KAMU...!!! ''
Salah satu teman Amel menunjuk Winda dengan jari telunjuknya, ribut, marah, tidak terima, namun Amel menghentikannya. Amel menyodorkan sebuah foto, yang menunjukkan sang kakak bersama seorang cewek dan terlihat jelas, siapa cewek tersebut.
" Ini buktinya. Cewek itu adalah temanmu, teman satu kelasmu, kamu masih mau menyangkalnya ? Hanya karena cewek tersebut tidak memakai jilbab, jangan kamu kira, aku tidak mengenalinya. Aku gak bodoh Winda " kata Amel.
" Iya, cewek tersebut temanku. Tapi... aku tidak pernah mengenalkan teman sekelasku pada Mas Widi, satu pun tidak ada " bantah Winda.
" Helleh.... masih ngeles...!!! "
Lagi-lagi ucapan Winda tidak dipercayai oleh Amel dan kawan-kawannya. Ucapannya justru dianggap pembelaan diri dan juga sebagai kebohongan. Yang justru membuat Amel bertambah marah.
" Aku gak percaya ucapanmu...!!! " Amel semakin histeris.
...PLAAAKKK ...
Sebuah tamparan secara mendadak mendarat di pipi Winda, belum saja tersadar dari rasa kaget, karena tamparan, kini tangan Amel menjambak rambut Winda dengan sekuat tenaganya. Tidak terima, mendapatkan perlakuan tersebut, sudah pasti Winda membalas perbuatan Amel dengan menarik jilbabnya.
Saling tarik menarik, tidak ada yang mau mengalah, Winda sedikit kewalahan karena dirinya hanya sendiri, sementara Amel dibantu oleh dibantu oleh kedua kawannya. Anak-anak yang disekitar hanya menyaksikan, melihat dan terkesan menikmati.
" Sudah aku bilang...!!! Aku gak kenalkan dia..!!! " Winda terus menarik jilbab Amel.
" Bohong...!!! " Amel juga tak mau kalah.
" Aku bicara jujur...!!! " kata Winda.
" Aku gak percaya !!! Dari dulu kan, kamu memang gak suka sama aku, makanya kamu balas dendam " kata Amel.
" Jelas saja aku gak suka, kelakuanmu..." kata Winda.
Amel kembali menarik rambut Winda dengan sangat kuat, begitu juga dengan Winda kembali membalasnya. Sakit sudah pasti dirasakan keduanya. Hingga datang dua orang mencoba melerai, memisahkan.
" Kalian berdua apa-apaan sih ??? Winda lepaskan...!!! " Niko memberi perintah.
" TIDAK MAU...!!! Dia yang harus lepaskan aku dulu " kata Winda.
" Kamu yang cari gara-gara...!!! " kata Amel.
" KAMU YANG MULAI DULUAN...!!! " teriak Winda.
" KAMU...!!! " balas Amel.
__ADS_1
" KAMU...!!! "
" KAMU...!!! "
" KAMU...!!! "
keduanya saling membalas, sama-sama tak mau mengalah, terus saling menarik, keduanya baru saling melepaskan pegangan tangan setelah mendapatkan sebuah pukulan secara bersamaan.
" SAKIT...??? " Rey meninggikan suaranya.
Baik Winda atau pun Amel mengibaskan tangannya, merasakan sakit karena pukulan, Amel yang masih merasa marah hendak menyerang Winda kembali, namun Winda sudah keburu ditarik sedikit mundur menjauh oleh Niko.
" Beraninya, manggil cowokmu...!!! " Amel benar-benar kesal.
" Kamu juga...!!! Beraninya ngajak temanmu. Kalau memang kamu berani. SANA... labrak orangnya langsung. Beraninya cuma ke aku...!!! " Winda juga kesal.
" KAMU...!!! " Amel menunjuk.
" APa...??? " Winda tak mau kalah.
Adu mulut antara Winda dan Amel kembali berlanjut, saling melontarkan amarah, kata-kata kekesalan, hanya saja keduanya sudah tidak bisa saling menarik karena keduanya sama-sama ditahan. Niko tak melonggarkan pelukannya sedikit pun, dirinya terus menahan memeluk Winda agar tak diserang atau pun menyerang balik.
" Bawa teman kalian pergi, sekarang...!!! Jangan buat keributan di sini...!!! " Rey memberi perintah kepada teman-teman Amel.
Mereka pun pergi dengan perasaan kesal, sementara Winda ditarik kembali menuju ke dalam sekolah oleh Rey dan Niko.
" Kamu itu...!!! Ada masalah apa sih ??? sampai berantem gitu ? ' tanya Rey.
" Dia duluan yang mulai Kak. Cewek itu sudah g*la ...!!! Diputusin Mas Widi, tapi aku yang dilabrak...!!! Dia bilang aku balas dendam, pakai cara licik, agar hubungan mereka putus. SINTING KAN...!!! " Winda masih kesal.
" Mas Widi, kakaknya Winda " Niko yang menjawab.
" Jadi ??? Tadi itu... dia...??? " kata Rey masih memproses.
" Iya, dia marah, nuduh aku sebagai dalangnya, hanya karena aku gak suka Mas Widi pacaran sama dia. Lihat saja nanti kalau sampai rumah akan aku balas perbuatannya, akan aku jambak-jambak rambutnya Mas Widi" Winda masih belum bisa tenang.
" Aku belum paham. Perkara sebenarnya apa sih ? " Rey tambah bingung.
" Lupakan, gak usah dibahas. Ayo ke UKS minta plester, kamu ada luka goresan " Niko menunjuk ke bawah dagu.
Sesampainya di ruang UKS, Niko segera mencari plester dan menempelkan pada luka yang dialami Winda. Memandangi Winda yang sedikit berantakan, segera menarik ikat rambut dan merapikan rambut Winda. Jangan salah, walau pun seorang laki-laki, Niko cukup rapi dalam mengikat rambut.
" Nah... sudah selesai. Ayo pulang, aku antar " kata Niko.
" Aku mau ke toilet dulu " Winda tersenyum malu-malu.
" Baiklah. Aku mau ke kelas ambil tas dulu, kita ketemuan di tempat parkir. OK..." kata Niko.
" Hem. OK " jawab Winda.
Niko mengusap kepala Winda, sedikit menunduk dan mencium tepat di tempelan plester. Niko tersenyum lebar, segera keluar dari ruang UKS, sementara Winda lambat bereaksi, masih diam terpaku dengan perlakuan Niko barusan.
Yang tanpa diduga adalah seseorang di dalam ruang UKS tersebut tidak hanya ada mereka berdua saja, ada seseorang di balik tirai yang menyaksikan semuanya dalam diam. Segera keluar dari balik tirai, setelah Niko keluar dan terdengar suara pintu tertutup.
" Kak No...." kata Winda.
__ADS_1
Belum saja Winda menyelesaikan ucapannya, Noel segera menarik Winda, mendaratkan c*uman di wajah Winda dengan membabi buta, berulang-ulang, berpindah-pindah tempat dan terakhir di bibir Winda.
Saling menatap dengan napas yang terengah-engah, hanya untuk sesaat saja, kemudian Noel mengulangi lagi tindakannya, kembali menc*um bibir Winda dengan menggebu-gebu, bahkan tidak perduli dengan Winda yang kewalahan.
" Kak No...el...ke...na...pa...??? " Winda masih terengah-engah setelah Noel melepaskannya.
" Aku tidak suka " kata Noel berdiri tegap berusaha tetap kelihatan cool.
" Karena Kak Niko tadi...??? " tanya Winda.
Tidak ada jawaban dari Noel baik lewat suara atau pun anggukan kepala, Noel hanya diam sambil menatap lurus ke arah Winda. Cemburu kah ??? Itu lah yang terlintas di kepala Winda.
" Kak Niko nyiumnya di sini ( menunjuk plester ) bukan di sini ( menunjuk bibirnya ). Lagian, ngapain Kak Noel di balik tirai, sengaja ? " kata Winda.
" Kalian saja yang gak lihat-lihat tempat. Plester itu... luka apa ?" tanya Noel mendekati Winda.
" Ada cewek gila, nyerang aku. Nanti aku ceritakan, kalau sudah jelas aku tau alasan yang sebenarnya, sekarang masih belum jelas " kata Winda.
" Coba aku lihat " Noel mengangkat dagu Winda, mengamati sesaat dan kembali menc*um dengan sedikit lama, pas dibagian yang ditempeli plester tersebut.
" SIPP. Bekasnya sudah hilang. Hari ini biarkan Niko senang, bisa mengantarmu pulang. Walau pun sebenarnya aku tidak suka. Tapi aku izin kan, aku harus di sekolah lebih lama, ada urusan " kata Noel.
Winda menatap heran, mendengarkan perkataan Noel. Aku izinkan. Lucu sekali kedengarannya, kenapa juga harus meminta izin ? Drama masih berlanjut, Noel menarik-narik lengan baju Winda, seperti hendak meminta sesuatu, mirip banget tingkah anak kecil.
" Apa...??? " Winda mulai menaruh curiga.
Tidak menjawab, Noel hanya membuat gerakan kode meminta dic*um balik. Winda tertawa kecil, tadi meraju, menc*um membabi buta, kini jadi manja. Cepat betul mood berubah ???
" Tidak mau " Winda menggelengkan kepala.
" Haaiiss gak adil ( meraju ) sekali saja ( memohon ) Hemmm...." Noel membuat ekspresi yang cukup imut sambil menyodorkan pipinya tepat di hadapan Winda.
Winda menatap dengan senyum-senyum malu sendiri, kok rada kasihan sih ??? Sampai membuat wajah imut segala. Hati Winda meluluh.
CUPP
Sebuah kecupan mendarat di pipi Noel, tak bisa dipungkiri Winda merasakan malu, karena tindakannya tersebut. Noel pun tersenyum bahagia, memeluk dan mencium kening Winda sekali lagi.
" Pergi lah, Niko pasti menunggumu. Aku mau balik tiduran dulu " kata Noel.
" Bukannya ada urusan ? " tanya Winda.
" Hem. Dengan ranjang UKS " kata Noel.
" Hemm, terserah Kak Noel saja lah. Aku pulang duluan bye... bye... " Winda berpamitan dan segera keluar dari ruang UKS.
Noel tersenyum lebar, setelah Winda pergi seketika ekspresinya berubah serius, mengeluarkan hp dari sakunya dan menghubungi seseorang.
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗