
Karena Winda melaksanakan piket dahulu di sekolah, sehingga dirinya sampai di rumah sudah sangat sore. Saat Winda berjalan memasuki gang, berpapasan dengan tetangga yang... cukup resek bagi Winda.
" Wiwin...!!! Kamu baru pulang...??? " dari kejauhan sudah menyapa dengan suara yang melengking.
" Iya Tante...!!! " Winda memaksa untuk tersenyum.
" Jam segini baru pulang ? sengaja main dulu ya...? " langsung menuduh.
" Maklum Tan, sekolah ku jauh...!!! " kata Winda tetap tersenyum.
" Wiwin... Wiwin...!!! Gagal masuk sekolah favorit, makanya kamu pilih sekolah yang jauh ya ? Biar gak malu kan ? "
" Gagal masuk sekolah favorit ? siapa ? aku ? Aku loh Tan, cuma daftar di satu sekolah, sekolah ku sekarang ini, gak ada yang lainnya" Winda menahan untuk tidak terpancing emosi.
" Masa sih ? Bukannya kamu gak keterima di SMANSA ? makanya sekarang kamu sekolah di tempat yang jauh ? "
" Gosip dari mana lagi tuh ? maaf ya Tan, dari awal aku gak minat masuk SMANSA, aku minatnya di SMK NEGERI 2 " kata Winda.
" Pintarnya alasanmu ya ( nada meledek ) sengaja pilih sekolah yang jauh, supaya gak langsung pulang ke rumah, bisa jalan-jalan dulu "
Winda mengepalkan tangannya menahan emosi.
" Kalau si Ajeng sih sekolah di SMANSA jurusan IPA, masuknya tanpa tes loh... ya maklum lah... Ajeng kan tamatan SMP 2 anak-anaknya terkenal pintar-pintar, jadi Ajeng langsung diterima ".
" Wahhh... bagus dong Tan, ntar aku tanyain deh sama temanku, karena kebetulan ada empat orang di kelasku, mereka alumni SMP 2, pasti kenal Ajeng, si Ajeng kan pintar... pasti sangat terkenal dong " kata Winda dengan senyum palsu.
" Sudah pasti mereka kenal Ajeng, anak Tante kan pintar ditambah cantik lagi, mana mungkin mereka tidak kenal ".
" Iya sih, ya sudah Tan, permisi. MARI... " Winda berpamitan.
" Cepat mandi ya... badanmu bau keringat, gak bagus loh buat kesehatan ".
" Iya Tan, makasih sarannya...!!! " kata Winda.
{ Behh... apes bener lah aku, ketemu mamaknya Ajeng, senang betul dia itu cari masalah sama aku } batin Winda.
" Cihhh... alasan gak minat di SMANSA, bilang saja dia gagal tes, apa bagusnya SMKK, sekolah pelosok gitu ".
Winda terus berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi, dirinya benar-benar kesal dengan perkataan tetangga resek tersebut, tapi Winda memilih tidak terlalu menanggapinya karena malas bicara panjang lebar. Sesampainya Winda di depan rumahnya.
" Eh... Wiwin...!!! " Reza menyapa.
" KENAPA...??? " Winda m menjawab dengan jutek.
" Ish... galaknya...!!! Sore banget kamu pulang Win ? " tanya Reza.
" Besok giliran aku piket, ja...di... aku bersih-bersih dulu sebelum pulang, supaya besok pagi... aku SANTAI...!!! " kata Winda.
" KEREN juga sekolah mu, menerapkan sistem begitu " kata Reza.
" Iya dong. Eh Za, aku mau tanya deh " kata Winda mengecilkan suaranya.
" Apaan ? " tanya Reza mendekatkan diri pada Winda.
" Si Ajeng masuk SMANSA jurusan IPA ya ? " tanya Winda.
" Ohhh... si Ajeng yang... ( tak melanjutkan ). Helleh, biar jurusan IPA kelasnya yang paling belakang " kata Reza.
" Tapi mamaknya bilang, dia masuk tanpa tes ? " kata Winda.
" MANA ADA...!!! Kalau dia masuk tanpa tes, harusnya dapat kelas terdepan bukan sebaliknya, percaya saja omongan mamaknya Ajeng " kata Reza.
__ADS_1
" Iya juga sih, tadi saja ngatain aku, masa aku dibilang gagal masuk SMANSA trus sengaja pilih sekolah SMK yang jauh, agar kalau pulang bisa jalan-jalan dulu. Behh...!!! Rasanya pengen aku tabok itu mulut, sayangnya orang tua, BERANI SEUMURAN, HABIS DIA...!!! Winda gregetan.
" Harusnya kamu bantah dong...!!! " kata Reza.
" Sudah Za, tapi malah dikatain pintarnya alasanmu GITU...!!! " kata Winda menggebu-gebu.
" Sabar Win sabar, jangan lampiaskan emosi sama aku " kata Reza.
" Heran betul aku sama mamaknya Ajeng itu, kayaknya gak seneng gitu lihat tetangganya senang atau melebihi dia " kata Winda.
" Dari dulu orangnya kan sudah begitu, kayak gak hafal saja " kata Reza.
" Iya juga sih...!!! Ngomong-ngomong kamu mau kemana ini ? " tanya Winda.
" Ke sekolah sebentar " kata Reza.
" Tumben jalan kaki ? gak naik motor ? " ledek Winda.
" Ngeledek ya...!!! " Reza tersinggung.
" Ya kan, kamu sekolah bawa motor Za, walaupun sekolah mu dapat dilihat dari lantai atas rumahmu " ledek Winda.
" Sesekali jalan kaki, biar sehat " kata Reza.
" Behh.... kesambet malaikat mana nih ? " ledek Winda.
" Pergi dulu, bye... Wiwin...!!! " Reza berpamitan.
" Dahh sana...!!! Olahraga biar sehat...!!! " ledek Winda.
*
Pada malam harinya, Winda duduk di samping Ibu nya menyandarkan kepala di bahu sang Ibu yang sedang fokus menonton TV.
" Bu...!!! " kata Winda.
" Apa ? " jawab Ibu.
" Masa ya Bu, tadi mamaknya si Ajeng, ngatain aku gagal masuk SMANSA, padahal kan, aku gak daftar sekolah lainnya, aku cuma daftar di SMK dan keterima di sana " Winda mulai bercerita.
" Mamaknya Ajeng ngomong gitu ke kamu ? " Ibu tidak langsung percaya.
" Iya Bu. Tadi itu kan, aku pulangnya memang rada sore, karena aku piket bersih-bersih kelas dulu, nahh ketemu tuh sama mamaknya si Ajeng. Mamaknya Ajeng ngomong gini Bu, jam segini baru pulang, sengaja main dulu ya, trus aku jawab kan, maklumlah Tan, sekolah ku jauh, ehh... malah ngomong gini, Wiwin Wiwin gagal masuk sekolah favorit, makanya kamu pilih sekolah yang jauh ya ? Gitu Bu " Winda bercerita.
" Moso toh (masa sih) ? " tanya Ibu.
" Iya Bu, Wiwin gak bohong " kata Winda menatap serius sang Ibu.
" Mosok yo ngomong ngono nduk (masa ya bicara gitu nak) ? " Bapak ikut bicara.
" Iya Pak. Sudah aku bantah malah dijawab masa sih ? bukannya kamu gak diterima di SMANSA, makanya sekarang kamu pilih sekolah yang jauh di ulangi sampai dua kali loh Pak " kata Winda.
" Entuk cerito ko ngendi kuwi (dapat cerita dari mana itu) ? " tanya Bapak.
" Ya... gak tau Pak...!!! Aneh kan...? " kata Winda.
" Helleh...!!! Mesti ngarang kuwi (pasti ngarang itu) " kata Ibu.
" Trus yang bikin sebel itu ya Bu, mamaknya banggakan si Ajeng masuk SMANSA tanpa tes karena dia tamatan SMP 2 yang terkenal anak-anaknya pintar-pintar. Padahal Bu, aku tanya sama Reza, si Ajeng itu masuk SMANSA jurusan IPA kelasnya itu yang paling belakang " kata Winda menceritakan.
" Maksudnya ? " tanya Ibu.
__ADS_1
" Maksudnya Bu, kalau bisa masuk tanpa tes harusnya, kelasnya itu di depan, IPA satu A, satu B, gitu Bu, ini... dia kelas yang paling akhir, kan aneh...!!! " kata Winda.
" Sak durunge pernah ngelokne nduk (sebelumnya pernah ngantain nak) " tanya Bapak.
" Mboten Pak nembe niki (tidak Pak baru ini) " jawab Winda.
" Sesuk-sesuk neh, ra usah di gubris, jar ne wae (besok-besok lagi gak usah ditanggapi, biar kan saja) " pesan Bapak.
" Tapi keterlaluan Pak " kata Ibu tidak terima.
" Jenenge wong ra seneng Buk, arep di kepiyek-kepiyekne, tetep oo ra seneng (namanya orang gak suka Bu, mau di bagaimana pun, tetap gak suka) " kata Bapak.
" Nek wani ngomong nyang Ibu, tak sambeli lambe ne, gen tambah pedes sisan (kalau berani bicara sama Ibu, diberi sambel bibirnya, biar tambah panas sekalian) " Ibu gregetan.
" Mamake Ajeng kan, kat biyen ngono, koyo ra apal wae ( mamaknya Ajeng kan, dari dulu begitu, seperti gak hafal saja) " kata Bapak.
" Cerita apa sih ? rame betul ? " Widi yang baru keluar kamar.
" Iki loh, mosok adikmu dilokne nyang mamake Ajeng, gagal mlebu SMANSA, pra Yo ngarang ceritone (ini loh, masa adikmu dikatain sama mamaknya Ajeng, gagal masuk SMANSA, apa gak ngarang ceritanya) " kata Ibu.
"Kapan dek ? " tanya Widi.
" Tadi sore Mas, pas aku baru pulang sekolah. Kan, tadi aku pulangnya rada sore, karena piket dulu " kata Winda.
" Kok tiba-tiba ya ? lagi kumat paling " kata Widi.
" Entek obate palingan (habis obatnya mungkin) " kata Ibu.
" Ibu...!!! " kata Winda.
" Jar ne wae loh, ra usah di gubris, engko kesel yo meneng dewe (biarkan saja lah, gak perlu di tanggapi, nanti capek ya diam sendiri) " kata Bapak.
" Jengkel juga Pak dengarnya " kata Winda.
" Makanya kalau pulang sekolah langsung pulang, jangan singgah-singgah dulu, kena kan...!!! " kata Widi.
" Apaan sih Mas ? Kan tadi aku sudah jelasin aku piket dulu, lagian kalau aku mau main, pasti izin dulu kan ? " kata Winda.
" Yang gak mau jemput adeknya itu siapa ? Coba...??? Begini jadinya kan ? adekmu jadi kena fitnah, coba kalau pulang, kamu jemput gak bakalan kejadian seperti ini terjadi sama adikmu " kata Ibu.
{ Waduh Mas Widi kena sindir nih } batin Winda.
" Kok jadi aku sih Bu ? " kata Widi tidak terima.
" Ya... trus goro-goro sopo (ya trus gara-gara siapa) ? " tanya Ibu.
" Wes meneng, Bapak arep nonton berita (sudah diam, Bapak mau nonton berita) " kata Bapak.
Seketika semua orang diam, tak ada yang bicara lagi dan fokus menatap layar TV. Winda melirik kepada sang Bapak, dirinya tau Bapak sengaja menghentikan pembicaraan, karena jika dilanjutkan lagi maka akan berakhir dengan keributan.
" Tenang saja Dek... nanti Mas balas, tunggu saja " Widi berbisik pada Winda.
" Hem " Winda balas berbisik.
Kakak beradik pun tersenyum lebar.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )