Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 8 Widianto Rahadi


__ADS_3

Seperti biasanya setiap pulang sekolah, Winda selalu menunggu dijemput oleh sang kakak, awal-awal sekolah dijemputnya selalu tepat waktu, walaupun terlambat paling 5-10 menit saja.


Tapi...??? Entah kenapa, semakin hari malah semakin terlambat saja datangnya. Awalnya 10 menit, 15 menit, 30 menit dan paling parah hampir satu jam baru datang jemput.


Namun, walaupun begitu Winda masih tetap menunggu sang kakak jemput dirinya. Winda sebenarnya sudah mulai curiga, kalau sang kakak pasti antar pacarnya dulu pulang ke rumah.


Hingga suatu hari, karena penasaran dan untuk menyakinkan dugaan dirinya. Winda sengaja menunggu sambil berjalan, karena kebetulan jam pulangnya bersamaan, antara murid SMK N 1 dan SMK N 2 berbaur.


Winda mengamati Amel dari kejauhan, Amel berdiri dipinggir jalan seperti sedang menunggu seseorang dan benar saja tak lama datang seseorang dengan mengendarai motor.


Tak lain dan tak bukan, itu adalah Widi. Winda menghembuskan napas dengan kasar, dugaannya selama ini ternyata benar.


Dengan cepat Winda mengambil hp dan memotret mereka berdua, setelah itu Winda menelpon sang kakak.


Pembicaraan di hp.


" Hallo Mas. Mas dimana ? " tanya Winda.


" Masih di jalan dek, tunggu saja "


" Baiklah. Ditunggu ya mas, di depan gerbang" kata Winda.


" Iya dek, rada lama, aku baru berangkat "


" OK " kata Winda.


Winda mematikan panggilan telepon, dirinya benar-benar kesal. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi berulang-ulang kali, tapi Winda kali ini benar-benar marah.


" Tidak boleh marah hari ini, tunggu waktu yang tepat Winda " Winda menasehati dirinya sendiri.


Winda berjalan kembali menunggu di depan pintu gerbang sekolahnya.


Saat Widi datang menjemputnya, Winda bersikap tidak melihat dan tidak terjadi apapun, bersikap biasa saja, seperti biasanya.


" Maaf ya dek, nunggu lama " kata Widi.


" Cepat pulang, aku sudah lapar " jawab Winda.


Hari ini Winda masih diam tapi, keesokan harinya. Winda sengaja pulang naik ojek, hp dibuat mode diam dan hal itu memancing keributan antara Winda dan Widi.


" DEK...!!! Kamu itu ya...!!! " Widi langsung marah saat melihat Winda di rumah.


" Aku kenapa ? " Winda tanpa dosa.


" Kalau kamu pulang, harusnya kamu ngabari Mas dulu. Kamu tau, aku mutar-mutar nyariin kamu. Hp mu mana...? Di telepon gak diangkat-angkat, bikin orang khawatir TAU GAK...!!! " Widi beneran emosi.


" Ohh... maaf, mode diam. LUPA...!!! " kata Winda.


" Biasanya kan, nunggu. Kenapa langsung pulang ? Trus kamu pulangnya naik apa ?" tanya Widi.


" Pengen saja langsung pulang dan aku naik ojek. Ongkosnya ojeknya dua puluh ribu, SINI gantikan uangku...!!! " Winda meminta ganti ongkos ojek pada Widi.

__ADS_1


" Ngapain minta ganti ke aku ? " Widi heran.


" Iya dong. Mas dikasih uang tambahan untuk antar jemput aku ke sekolah kan ? Dan hari ini aku pulang naik ojek, jadi... Mas harus gantikan uangku dan ini berlaku setiap aku... setiap aku pulang naik ojek " kata Winda menjelaskan.


" Ya gak bisa gitu dong dek..." kata Widi.


" Kenapa gak bisa ? Uang tambahan itu, Bapak berikan karena Mas ditugaskan antar jemput aku, bukan antar jemput si AMEL " kata Winda.


Widi terdiam saat Winda menyebutkan nama Amel.


" Bapak mengeluarkan uang untuk anaknya, bukan untuk anak orang lain. Bapak memberi Mas motor, agar Mas mudah kalau mau pergi-pergi, bukan untuk menjadi tukang ojek gratisan si AMEL " kata Winda.


" ADEK...!!! " bentak Widi.


" KENAPA...??? Aku benarkan...??? " kata Winda.


Winda mengeluarkan hp dan menunjukkan sebuah foto yang membuat Widi terdiam tak bisa membantah.


" Kalau Mas mau memberi fasilitas sama pacarnya Mas. Pakai uang Mas sendiri dong, jangan ngusik dana buatku. Mas antar jemput adiknya Mas ini, gak gratis lohh, ada dana dari Bapak " kata Winda.


" Jadi kemarin...??? " kata Widi.


" Iya. Cuma penasaran sih, feeling ini benar apa gak. Ehh... ternyata bener dong...!!! Jadi... sini DUA PULUH RIBU, gantikan uangku " kata Winda.


Winda mengadahkan tangan sambil tersenyum lebar, sementara Widi menahan amarahnya karena kesal.


" Perasaan ongkosnya gak sampai dua puluh ribu " Widi protes.


" NIH... dua puluh ribu " Widi kalah berdebat.


" Nahh... gitu dong...!!! Pokoknya ini berlaku setiap aku pulang naik ojek. Mas mengerti...!!!" kata Winda.


" Kamu sengaja ya dek...??? " tanya Widi.


" Memang iya. Sering-sering ya Mas jemput Amel, biar aku pulang naik ojek. He...he...he... lumayan...!!! " Winda mengibas-ngibaskan uang dua puluh ribu.


" Kamu ini..." kata Widi.


" Tenang saja Mas Widi aman. Bapak gak tau hari ini aku pulang naik ojek tapi... kalau besok-besok ya gak tau " kata Winda.


" Dek...!!! Kenapa sih, kamu gak suka Mas dengan Amel ? " tanya Widi.


" Mas gak tau ? Atau Mas pura-pura gak tau ?" kata Winda.


Winda menatap serius pada sang kakak.


" Kan sudah aku bilang. Jangan pernah mendekati teman-teman sekolahku, apalagi sampai Mas suka trus pacaran sama mereka. Aku... gak mau bersaing dengan mereka dan aku... malas berurusan dengan pacar Mas " kata Winda.


Winda terdiam sejenak.


" Mas ingat...!!! Kejadian terakhir aku dengan Amel, bagaimana kan ? Aku masih ingat dengan jelas dan seharusnya Mas juga. Gak lucu kan ? Adik sendiri bersaing dengan pacar kakaknya ? Dia itu baru pacar, bagaimana beneran jadi kakak ipar ? " kata Winda.

__ADS_1


Winda mendekatkan diri pada sang kakak.


" Baru pacar saja sudah berlagak, nyuruh ini itu, antar jemput kesana kemari, tapi... gak masalah sih...!!! Mas Widi juga mau, gak keberatan, malah dengan senang hati. Tapi aku heran satu hal " kata Winda.


Winda berhenti mengambil napas panjang.


" Mas melakukan itu semua buat si Amel, trus... apa yang Amel lakukan sebagai gantinya ? " Winda menatap sang kakak.


" Di dunia ini gak ada yang gratisan. Semuanya ada timbal baliknya, enak betul terus-terusan menerima tanpa memberi. Gitu caranya aku juga mau, tapikan... didikan kita gak bagitu Mas. Mas harus ingat, adiknya Mas juga perempuan " kata Winda.


" Mas gak begitu ya dek...!!! " Widi tersinggung.


" Aku gak nuduh Mas begitu. Hanya saja aku gak suka Mas Widi diperlakukan seperti itu, seolah-olah Mas Widi itu pembantu, harus stand by 24 jam buat dia. Aku adiknya Mas, tapi aku gak gitu " kata Winda.


" Kamu belum mengerti dek...!!! " kata Widi.


" APA YANG TIDAK AKU MENGERTI ? " tanya Winda.


" Hubungan kakak adik itu berbeda dengan pacaran, jadi mana bisa disamakan " kata Widi.


" Kalau cuma itu, aku juga tau. Kalau memang dia pacar yang baik, dia harusnya mengerti aku. Kalau dia tidak mengerti aku sepenuhnya, itu bisa dimaklumi tapi Mas Widi... Mas Widi sudah dewasa, Mas Widi adalah kakak. Cerita dari mana ? Seorang kakak meminta pengertian dari seorang adik ? Bukannya terbalik ? " kata Winda.


" Dek...!!! Kamu masih kesal ? " kata Widi.


" Mas bisa menilai sendiri kan ? " Winda membalikkan pertanyaan.


" Mau sampai kapan dek ? " tanya Widi.


" Entah. Mungkin aku memang tidak suka Amel " kata Winda.


" Kamu lebih mengenal Amel daripada aku, jadi harusnya kamu bisa menilai bagaimana Amel ? " kata Widi.


" Mungkin... jika dulu Amel tidak satu sekolah dan bukan teman sekolahku, bisa jadi aku akan memaafkannya dengan mudah tapi... karena dia dulu temanku dan dia tega melakukan itu. Itu tandanya..." kata Winda.


" Sudah berapa kali, aku jelaskan. Kejadian itu tidak sengaja dek " kata Widi memotong.


" Baik sengaja ataupun tidak sengaja, dia sudah melakukan itu. Dan dia terus mengulanginya. Sudahlah...!!! Aku masuk kamar " kata Winda.


Winda melangkah pergi meninggalkan Widi seorang diri. Di dalam kamar Winda terdiam sambil menggenggam uang dua puluh ribu ditangannya.


{ Mas Widi gak akan percaya, justru karena aku temannya Amel, makanya aku tau betul Amel itu bagaikan } gumam Winda dalam hati.


.


.


.


( bersambung )


**Kalau kakak pacaran dengan teman sekolahmu, sedikit banyak akan menimbulkan masalah baru dan kalau komunikasi gak bagus alamat bisa berantakan semuanya.

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, silahkan tinggalkan like dan komen ya teman-teman supaya author rajin up date 🙏🤗**


__ADS_2