
Malam minggu, entah ada angin dari mana ? Gak ada tanda-tanda mau turun hujan ? Gak ada petir juga ?. Sekarang ini Winda dan Reza sudah duduk nongkrong di pinggiran taman alun-alun kota. Winda sih, ayo aja, orang ditraktir jajanan, walau hanya beli dari penjual keliling.
Memesan yang cukup banyak dalam satu wadah dan dimakan bareng-bareng, ritual yang dapat ditebak, ending pasti bakalan ?
" Winda, si Lovely itu, sudah punya pacar belum sih ? " tanya Reza.
Nah kan, pasti endingnya bakalan curhat, Winda menghela napas panjang, mengambil makanan, memasukkan ke dalam mulut, sebanyak yang dirinya bisa tampung di dalam mulut dan mengunyah dengan sedikit kasar. Reza diam, menunggu Winda puas makan terlebih dahulu.
" Emangnya, gak ada perkembangan ? " Winda mulai bicara.
Reza menggelengkan kepalanya, yang membuat Winda juga bingung, selama ini dirinya gak pernah tanya hal-hal yang serius begitu, apalagi urusan pacar ?
" Aku juga gak tau kalau itu, tapi selama ini, cowok yang sering datang ke sekolah, jemput, ya cuma kamu. Aku pikir malah sudah jadian " kata Winda.
" Boro-boro, malam mingguan aja belum pernah " kata Reza.
Winda menatap serius ke arah Reza, seperti bertanya masa sih ? Reza memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan menganggukkan pelan. Spontan, tambah bingung Winda. Memandang lagi wajah Reza, dari raut wajahnya sih beneran, gak bercanda, pantesan Reza ngajak keluar ?
" Dia gak suka aku kali ya ? " Reza mulai pesimis.
" Pernah bilang ke dia kah ? " tanya Winda.
" Belum " jawab Reza.
Seketika mata Winda melebar, spontan tangan langsung memukul pundak Reza dengan sekuat tenaga. Winda benar-benar gak habis pikir, bisa-bisanya dia kena tipu Reza, Winda jadi kesal tak dapat berkomentar apa-apa, jadi dirinya hanya fokus makan lagi.
Entah kenapa pandangan mata terfokus pada sesuatu yang rada jauh di seberang jalan, terdapat sekumpulan anak-anak yang berpenampilan cukup WAAHHH ditambah deretan motor yang terparkir juga WAAHHH. Hemmm kalangan atas.
" Mereka itu anak-anak tajir, sesekali nongkrong di sini, cuma anak-anak yang populer bisa gabung dengan mereka " Reza menjelaskan tanpa Winda bertanya seolah-olah Reza sudah paham arah pandangan Winda.
__ADS_1
" Lahir dari kalangan atas, bukan dosa juga kan ? " kata Winda.
" Emang iya, tapi kalau mau kenalan, minder duluan. Sadar diri lah, sebelum kena mental. Kamu lihat ( menunjuk ) cewek yang pakai rok mini dan perhatikan cowok yang disebelahnya. Bagaimana menurutmu ? " kata Reza.
Winda mulai memperhatikan yang ditunjuk Reza barusan, mengamati cewek tersebut, sangat cantik, rambut lurus, badan tinggi, langsing, kulit putih, pokoknya serasa gak ada cacat. Beralih ke arah cowok, tapi ??? Loh ??? Kok ???
Reza menjelaskan kalau cewek itu adalah cewek paling populer di SMANSA dan merupakan senior Reza. Gak ada yang berani dekati dia, berurusan dengan dia, karena dia merupakan anak dari orang penting penguasa daerah dan cowok di sampingnya anak dari seorang pengusaha ternama, yang bukan main-main.
" Kok kamu tau banyak Za ? " tanya Winda.
" Ya tau lah. Dari anak-anak, sudah bukan rahasia lagi, makanya nongkrong, keluar biar gaul " ledek Reza.
" Aku nongkrong dengan kamu aja lah Za, gini aja aku sudah senang, apalagi kamu, kalau curhat larinya ke aku juga " kata Winda.
Mereka berdua pun tertawa, kembali menikmati makanan yang ada di hadapan mereka. Sambil makan, Winda mulai memikirkan perkataan Reza, melihat kembali ke arah sebrang jalan, mengamati penampilan mereka yang sangat modis.
Lalu Winda menatap dirinya sendiri, melihat penampilannya yang biasa saja, sangat jauh berbeda, bagai pakaian pasar dan mall besar. Entah datang dari mana ? Tiba-tiba perasaan minder, menyelimuti hati Winda, serasa gak pantas saja kalau bersanding.
Karena melihat Winda yang rada melamun, muncul lah ide jail terlintas di kepala Reza. Dengan sengaja Reza menaruh banyak cabai dan menyodorkan pada Winda, al hasil Winda makan langsung kepedesan dong.
Walau pun pedes banget, Winda tetap mengunyah dan menelannya, karena sayang kalau sampai di lepeh. Reza tertawa terbahak-bahak melihat Winda yang kalang kabut kepedesan, baru lah beberapa saat kemudian Reza menyodorkan sebotol minuman, yang langsung ditenggak sampai habis. Karena masih kepedesan Winda menyerobot minuman Reza tanpa permisi.
" Za...!!! ( berteriak ). Makan tuh, habiskan...!!!" Winda kesal.
Dengan santai Reza melahap sisa makanan dari Winda, gak ada ekspresi yang berarti apa pun, benar santai, karena Reza adalah pecinta makanan pedas dan level yang barusan tidak ada apa-apanya bagi Reza.
" Hemmm.... enak " kata Reza.
" Gak enak betul Za, terakhir tapi kepedesan, hilang kan nikmatnya " kata Winda.
__ADS_1
" Nih... gak semua kok. Baik kan aku " Reza menyodorkan satu makanan yang gak terkena cabai sama sekali.
" Hem... iya lah " Winda langsung makan dari tangan Reza.
Makanan di piring sudah habis, keduanya memutuskan untuk pulang saja, lagian tujuan mereka hanya mau menikmati jajanan di pinggir jalan saja, tidak ada niatan pergi-pergi lagi.
Sesampainya di rumah, Winda segera masuk ke dalam kamar, menarik laci meja belajarnya, meraih kalung dan mengamatinya sejenak. Pikirannya kembali pada saat di alun-alun tadi, itu sudah pasti dia ?
Jika yang dikatakan Reza itu benar, sudah pasti mereka berdua lebih cocok dan pantas jadi pasangan. Dibandingkan dengan dirinya ini ? Winda pun mulai ragu-ragu, apakah dirinya suka yang seperti itu ? Atau hanya kagum, karena terbawa suasana saja ? Lagian dari awal memang sedikit aneh, masa iya yang perfek begitu, bisa suka pada dirinya yang seperti aku ini ???
Pikiran dan hati Winda mulai bergejolak, terus memikirkan hal tersebut. Kalau pun itu beneran cinta ? Apa iya dirinya bisa berbaur dengan teman-temannya ? Trus pandangan teman-teman itu apa ? Bagaimana cara menghadapi konsekuensi buruknya ?
{ Apa aku kembalikan saja ya ? Hem... iya deh harus dikembalikan. Mungkin karena ini, aku ragu } batin Winda.
Winda segera meletakkan kembali kalung tersebut ke dalam laci, nanti masuk sekolah akan cari waktu yang tepat untuk mengembalikannya dan membuat alasan yang benar-benar pas.
Menyakiti itu sudah pasti tapi dari pada dipaksakan, trus ujung-ujungnya gak nyaman, malah ntar jadi lebih aneh lagi.
{ Semoga aja bakalan paham dan mengerti } batin Winda.
Ada yang pernah bilang, kalau kita ragu akan sesuatu, lebih baik kita tidak usah mengambilnya. Yah walau pun, kita bakalan di cap sebagai tak berani mengambil resiko. Tapi gak ada salahnya jika kita berhenti tak melanjutkannya. Pilihan.
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗