
Winda memasuki ruang kelas, terasa atmosfer yang kurang mengenakkan hati, pandangan mata begitu tajam dan seketika menjadi terasa canggung. Winda terus berjalan menuju tempat duduknya, mulai terdengar bisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah Winda.
Perasaan Winda benar-benar gak nyaman, pikiran di kepalanya sudah dipenuhi dengan kemungkinan terburuk, mendapat kemarahan dari teman-teman sekelasnya. Winda terus berjalan, setidaknya dirinya harus bicara dulu kepada Nansi, Winda benar-benar tak enak hati, harus menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya.
Baru saja Winda hendak membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara dari seorang teman dengan nada yang menyindir dan sudah sangat jelas itu ditujukan kepada Winda.
" Lihat tuh anak rajin "
" Pintar betul cari muka "
" Kelihatan wajah aslinya "
" Biasa lah mau jadi anak emas "
Mulai lah berbicara, mengeluarkan kebencian di hati mereka, menyindir dengan kalimat-kalimat berbalut pujian. Winda mengambil napas panjang, mencoba menenangkan hati sendiri, menasehati diri sendiri. Sabar, sabar Winda, jangan marah, mereka sedang kesal saja, jangan terpancing emosi, jangan ikutan marah.
Winda masih tetap diam, tidak membalas, namun di luar dugaan justru Nansi yang tersulut emosinya.
" Kalian bisa diam gak !!! " bentak Nansi.
Seketika pandangan mata berubah arah tertuju pada Nansi, begitu juga Winda, dirinya masih benar-benar bingung dengan reaksi Nansi.
" Di biarkan malah makin jadi, kalian ya...!!! KAMU JUGA WIN, jangan diam saja, emangnya kamu buat salah sama mereka ?" Nansi meninggikan suaranya.
Perkataan Nansi memang benar, Winda tidak berbuat salah pada mereka, tapi entah kenapa tetap saja ada perasaan bersalah dalam hati Winda. Namun Winda juga bingung mau menanggapi bagaimana ? Apa yang harus ia katakan ?
" Temanmu ini...!!! Si Winda ini...!!! ( sambil menunjuk ) memang tukang cari muka, mau disanjung sendiri dengan menjatuhkan teman-temannya, termasuk juga dengan kamu Nansi...!!! " kata Karin.
" Kalau dia teman yang baik, harusnya dia tidak melakukan hal seperti tugas tadi...!!!" imbuh Jessi memperkeruh suasana.
Mulai lagi suara sumbang bisik-bisik diantara teman-teman yang lainnya, menatap Winda dengan tatapan jijik, tatapan sinis, tatapan tidak suka, seolah-olah Winda itu sebuah benda yang tak diinginkan.
" Sadar Nansi, kamu juga sudah kena tipu, dia ini bukan teman yang baik " kata Karin mulai memprovokasi.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, Nansi sudah mau terpancing kembali emosinya, namun buru-buru ditahan oleh Winda dengan memegang tangan, menggelengkan kepala secara perlahan. Nansi mengambil napas dengan kesal, dirinya saja sudah marah, kenapa Winda masih diam saja ? itulah yang ada dibenak Nansi.
" Kenapa ? Yang aku bilang benar kan ? " kata Karin.
Karin menatap tajam ke arah Winda, merasa dirinya yang paling benar, dugaannya tepat dan dia sudah menang, berhasil menguasai teman-teman sekelas.
Winda sengaja untuk diam dulu, tidak menjawab, karena dirinya ingin mendengarkan kekesalan di hati teman-temannya, seberapa marahnya mereka kepada dirinya. Memberi kesempatan pada mereka untuk meluapkan semua amarahnya terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat kemudian, suasana kelas sesi reda, suara-suara sumbang mulai ikutan mereda, beberapa teman bahkan mulai tidak perduli dengan ucapan provokasi dari Karin lagi, saat itulah Winda mulai angkat bicara.
" Solidaritas, itu yang kalian ingin kan, bukan ?" Winda mulai bicara.
Semua pandangan mata kembali tertuju pada Winda, namun kali ini tatapan mereka sudah tidak semarah tadi.
" Sebagai teman, aku tidak solidaritas terhadap kalian, kalian pikir, aku sengaja melakukannya, mengkhianati kalian, mencari muka dengan menjatuhkan kalian semua, tapi kalian semua lupa satu hal, kalau aku, benar-benar tidak tau kalau kalian semua, belum mengerjakan tugas dari Ibu Ana " kata Winda.
Suara-suara sumbang sudah tidak terdengar lagi, mereka hanya diam dan saling melemparkan pandangan. Di momen kesempatan tersebut, Winda pun menjelaskan secara detail, kronologi, awal mula buku tugas dirinya bisa diambil oleh Ibu Ana, bahkan saat jam pelajaran belum dimulai.
Mendengar perkataan Winda, beberapa teman mulai berubah ekspresi, ada yang percaya, ada yang terkejut juga dan masih ada pula yang tidak mempercayai penjelasan tersebut. Terutama Karin dan Jessi yang masih tetap menyakini, kalau Winda sengaja melakukannya.
" Setidaknya, kamu bisa memberitahu kami " kata Karin.
" Siapa dirimu ? Akrab dengan Winda saja tidak !!! " kata Nansi.
" Bagaimana dengan dirimu ? Kamu akrab, tapi juga gak dikasih tau kan ? ( membalikkan perkataan ). Lalu, apa namanya ? ( diam sejenak ). Dia itu memang sengaja melakukannya, supaya dapat sanjungan, seluruhnya hanya buat dia " kata Karin.
" Sadar Nansi...!!! Ngapain, kamu tetap belain dia, dia itu bukan temanmu " kata Jessi.
" JAGA UCAPANMU YA...!!! " kata Nansi.
" Gak apa-apa Nansi, biarkan saja " kata Winda menahan.
Winda menarik Nansi untuk kembali ke tempat duduk mereka berdua, terlihat jelas Nansi masih kesal dengan Jessi dan Karin.
__ADS_1
Winda masih menggenggam tangan Nansi, dalam hati, dirinya benar-benar bersyukur masih ada Nansi yang mau mempercayai perkataannya. Winda menatap Nansi, menceritakan kalau dirinya benar-benar tidak ada unsur kesengajaan sedikit pun, melakukan hal tersebut dan tak lupa Winda meminta maaf karena lupa, tidak memberitahu Nansi tentang tugas tersebut.
Nansi menepuk tangan Winda, kemudian tersenyum, memberitahu kalau dirinya tidak marah, karena Winda tidak melakukan hal yang salah, semuanya hanya salah paham saja.
" Tapi aku heran ? Kamu beneran mengerjakan PR dari Ibu Ana sendirian ? Semuanya ? " tanya Nansi.
Winda menganggukkan kepalanya, yang disambut dengan wajah terkejut oleh Nansi, bahkan Vera yang duduk di belakang langsung ikutan bicara.
" Bagaimana bisa ? Kamu mengerjakan sendirian ? Tadi saja, kami sampai kerja sama mencari jawabannya " kata Vera.
" Sedikit susah penjabarannya, tapi semua jawaban ada di buku catatan, harus jeli saja " kata Winda.
" Coba lihat, buku catatan mu ? " tanya Vera.
Winda mengeluarkan buku catatan dari dalam tas punggungnya, membuka halaman buku, menunjukkan bagian-bagian yang menjadi jawabannya dan menjelaskan kalau penjabarannya, menggunakan bahasa sendiri, tidak mengikuti yang dibuku catatan.
Entah kenapa Vera dan Nansi langsung terbelalak melihat buku catatan Winda, yang mereka rasa isinya komplit, tertulis dengan lengkap dan rapi.
" AKU PINJAM...!!! "
Vera dan Nansi kompak bilang mau pinjam, mereka berdua pun saling berebut untuk meminjam buku tersebut duluan, menarik buku ke kanan, ke kiri secara paksa, karena gregetan Winda mengambil buku miliknya itu.
" Jangan tarik-tarikan, nanti robek, kalau mau pinjam, gantian. Vera dulu habis itu, kamu Nansi, bagaimana ? " kata Winda.
" OK " Nansi dan Vera kompak menjawab.
Sementara itu di sisi lainnya Karin dan Jessi menatap dengan tatapan yang masih penuh dengan amarah dan kebencian terhadap Winda. Mereka berdua masih menyakini kalau Winda sengaja melakukan hal tersebut.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗