Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 5 Sebangku


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Winda sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, tentu saja Winda semangat, karena ini merupakan hari pertama memakai seragam putih abu-abu.


" Jam segini, sudah siap. Gak salah nduk ? " tanya Bapak.


" Ya gak lah Pak. Gimana ? Winda cocok pakai seragamnya ? " tanya Winda sambil memutarkan badannya.


" Wahh... cantiknya... anak Ibu " jawab Ibu.


" Seragamnya ya Bu, yang cantik " kata Winda.


" He'eh " Ibu tersenyum.


" Mas Widi mana nih ? Katanya mau antar " kata Winda.


" Bangunin sana...!!! " Mungkin masih tidur " kata Bapak.


" Tuhh... Mas mu baru bangun...!!! " kata Ibu sambil menunjuk ke Widi yang baru keluar kamar.


" Iiihhh Mas Widi...!!! " Winda setengah berteriak.


" Kan sudah janji mau antar Winda hari ini, malah baru bangun " kata Winda.


" Hooaammm...( menguap ). Masih terlalu pagi dek...!!! " Widi masih setengah sadar.


" Helleh....!!! Terlalu pagi...!!! Alasannya banyak betul, kalau antar adik sendiri. Coba pacarnya... biar tengah malam juga ayo...!!! " kata Winda menyindir.


" IYA...!!! Tunggu sebentar, Mas mandi dulu " kata Widi.


" Jangan lebih dari sepuluh menit " Winda memperingatkan.


" Kamu ini... ribut terus dengan Mas mu " kata Ibu.


" Ya ... habisnya, Mas Widi selalu gitu sih Bu " kata Winda beralasan.


" Bapak mau duluan ke pasar. Ini uang jajan hari ini " kata Bapak.


" Baik Pak " Winda mencium punggung tangan Bapaknya.


"Sambil menunggu Mas mu, makan sarapan dulu " kata Ibu.


" Baik Bu " jawab Winda.


Beberapa menit kemudian.


" Ibu juga mau berangkat ke pasar, kamu sudah bawa kuncinya ? Takutnya kamu lupa " kata Ibu mengingatkan.


" Sudah Bu, aman " kata Winda.


" Ibu berangkat ya. Sekolah yang pinter " Ibu berpamitan.


" Baik Bu " Winda mencium punggung tangan Ibunya.


" Assalamualaikum " Ibu mengucapkan salam.


" Waalaikumsalam " Winda membalas salam.


Winda segera menghabiskan sarapannya dan saat sarapan sudah habis, sang kakak belum juga keluar dari kamar mandi.


" MAS...!!! CEPAT...!!! Kebiasaan nih...!!! " teriak Winda.


" Sabar dek...!!! " kata Widi baru keluar dari kamar mandi.


" SABAR...SABAR...!!! ( nada kesal ) AWAS MEMANG kalau aku sampai telat " kata Winda sedikit mengancam.


Setelah siap, mereka pun segera berangkat menuju sekolah Winda. Senyum lebar terus menghiasi wajah Winda, hatinya sudah gak sabar untuk segera sampai di sekolah.


Sesampainya di sekolah Winda segera turun, tak lupa salim dulu kepada sang kakak.


" Kalau pulang kabari, nanti Mas jemput " kata Widi.


" Iya..." jawab Winda.


Winda segera masuk ke dalam sekolah, berjarak tiga meter dari pintu gerbang ada Pak Hadi, guru yang bergiliran mengawasi murid-murid pada hari ini.


" Selamat pagi Pak " Winda Salim kepada Pak Hadi.


" Selamat pagi " Pak Hadi membalas.


Setelah itu Winda segera menuju ruang kelas jurusannya, Winda sengaja datang pagi-pagi agar dapat memilih tempat duduk sesuai dengan keinginannya.


Sesampainya di ruang kelas, sudah ada beberapa murid yang sudah datang duluan.


" Selamat pagi " Winda menyapa.

__ADS_1


" Pagi...!!! "


Winda segera menuju bangku pilihannya dan segera meletakkan tasnya di atas meja. Dirinya senang banget, bangku yang jadi incarannya masih kosong, belum ada yang menempati.


" Pagi Winda...!!! " Vera yang baru masuk kelas.


" Pagi Vera " jawab Winda.


" Wahh...!!! Pilihan bangku tepat di depan meja guru " kata Vera.


" Hem. Begitulah aku suka. Tapi maaf ya... aku sudah janjian mau duduk sebangku dengan Nansi " Winda memberitahu pada Vera.


" Idihh...!!! Siapa juga yang mau duduk tepat di depan guru " Vera menolak mentah-mentah.


" Kamu mau duduk dengan siapa ? " tanya Winda.


" Dilihat saja nanti, duduk dengan siapa " kata Vera.


Tak lama Nirmala dan Echa memasuki ruang kelas.


" Win, sebelahmu ini masih kosong kan ? " tanya Echa.


" Iya, kayaknya. Buktinya gak ada tasnya " kata Winda.


" Pas banget, ayo duduk di sini saja " kata Nirmala.


" Kamu juga suka, duduk barisan depan ya Win ?" tanya Echa.


" Begitulah. Tapi... kalau ujian aku selalu duduk di belakang, kadang aku sebel sendiri " kata Winda malah curhat.


" Apa bedanya dengan aku, aku juga kalau ujian di barisan belakang " kata Vera.


" Nikmati saja. Nama pemberian orang tua " kata Nirmala.


" Iya juga sih...!!! " kata Winda.


" Namaku dong...!!! Selalu menjadi urutan depan " kata Echa sombong.


" Iyalah... yang dimulai dari huruf E " kata Vera.


Mata Winda berbinar saat melihat kedatangan Nansi, dengan cepat Winda melambaikan tangannya seraya memanggil.


" Nansi...!!! " Winda memanggil.


" Pagi semua " Nansi menyapa.


" Wahhh... kamu benar-benar niat ya " kata Nansi.


" Tentu saja. Aku tadi sengaja datang pagi-pagi sekali untuk mendului bangku ini " Winda berkata dengan bangga.


" Seriusan...??? " tanya Nansi.


" He'eh. Tadi pas datang, masih sepi, baru beberapa orang yang datang " kata Winda.


" Tapi Win...!!! Sebenarnya, biar pun kamu datang lambat juga gak masalah " kata Vera.


" Kenapa...??? " tanya Winda.


" Bangku yang berhadapan dengan guru langsung, rata-rata dihindari sama murid lainnya " kata Vera.


" Bakalan jadi rebutan, kalau gurunya yang mengajar itu cantik atau ganteng " sambung Echa.


" Gitu ya...??? Tapi aku paling senang di depan guru " kata Winda.


" Alasannya ? " tanya Nirmala.


" Supaya melihat lebih jelas di papan tulis, mendengarkan penjelasan guru dengan jelas dan yang paling penting... gak terhalang kepala teman sekelas " Winda menjelaskan.


Pas bagian kalimat terakhir baik Nirmala, Echa, Vera dan Nansi serentak langsung tertawa.


" JANGAN KETAWA...!!! Kalian kan, tau aku ini pendek, bahkan diantara kita berlima aku yang paling pendek " kata Winda.


" Kamu itu bukan pendek " kata Nansi.


" Gak usah menghiburku " kata Winda.


" Seriusan. Kamu itu lebih tepatnya mungil " kata Nansi.


" Jangan kecil hati, kamu dengan aku kan, gak beda jauh, hanya beberapa cm saja " kata Nirmala.


" Tetap saja, yang paling pendek " kata Winda.


" Win...!!! aku duduk dekat jendela. Boleh gak ?" tanya Nansi.

__ADS_1


" OK. Boleh saja " jawab Winda.


" Siipp...!!! Mantap... aku paling suka sandaran gini " kata Nansi.


" Kamu gak bisa tidur di kelas, karena duduk tepat di depan bangku guru " Winda mengingat.


" Siapa yang tukang tidur. Sembarangan...!!! " kata Nansi.


Teman-teman yang lainnya mulai berdatangan, ruang kelas mulai ramai dengan segala percakapan yang ada.


Terlihatlah jelas satu sama lain, mulai saling menjalin pertemanan, kalau diperhatikan lagi mereka mulai duduk berkelompok.


Ya... gak salah juga sih, wajarlah kalau duduk bergerombol yang akrab-akrab saja, namanya juga belum lama kenal.


" Emmm... Nansi...!!! " panggil Winda.


" Iya...!!! " jawab Nansi.


" Di kelas ini, berapa banyak teman dari SMP mu ? " tanya Winda ingin tau.


" Sekitar delapan orang " jawab Nansi.


" Berarti sembilan dengan kamu " tanya Winda.


" Iya " jawab Nansi.


" Wahh...!!! Banyak juga ya...!!! Tapi kenapa kamu malah duduk sebangku denganku ? Bukan teman dari SMP mu ? " tanya Winda mulai ingin tau tentang Nansi.


" Kan kamu yang ngajak " jawab Nansi.


" Ya... iya sih. Tapikan, bisa kamu tolak ? " kata Winda.


" Entahlah. Mungkinkah...??? Pengen ganti suasana baru saja " kata Nansi.


" Ohh... gitu...!!! " kata Winda.


" Ya gak lah. Karena aku juga pengen duduk sebangku dengan kamu. Kamu sendiri, kenapa ajak aku ? " kata Nansi.


" Emmm... ( bingung ). Entahlah...!!! Waktu itu tiba-tiba pengen aja sih ngajak kamu duduk bareng. Pas aku tanya ke kamu, seneng aku dengarnya kamu langsung setuju " kata Winda.


" Kamu mau tau, waktu itu aku mikir apa ? " tanya Nansi.


" Apa...??? " tanya Winda.


" Kamu itu unik " jawab Nansi.


" Aku unik...??? Maksudnya...??? " Winda tidak paham.


" Beda dari teman-teman ku sebelumnya. Kamu itu... memiliki daya tarik tersendiri " kata Nansi.


" Daya tarik ??? Emangnya magnet...!!! " kata Winda.


" Begitu yang aku rasakan " kata Nansi.


" Geli aku dengarnya...!!! " kata Winda.


" Di kasih tau kok...!!! " kata Nansi.


" Kalau kamu cowok, bisa salah tanggap aku " kata Winda.


" Mikirmu aneh-aneh pasti " kata Nansi.


" Enggak kok...!!! " Winda menyangkalnya.


" Helleh... iyakan ??? Ngaku saja...!!! " kata Nansi.


" Enggak. Enggak banyak... cuma dikit saja " Winda mengaku.


" Biar sedikit kan, tetap ada " kata Nansi.


Winda dan Nansi bicara panjang lebar begitu santai dan akrab.


Disisi lainnya, ada seseorang melihat Winda dengan tatapan tidak suka, apalagi saat Winda akrab sekali dengan Nansi.


( Anak itu benar-benar...!!! ).


.


.


.


( bersambung )

__ADS_1


**Kira-kira siapa ya yang gak suka 🤔🤔??? Bagaimana teman sebangku kalian pilihan sendirikah atau diatur oleh guru ???


Tinggalkan like dan komen di bawah ya teman-teman, terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗**


__ADS_2