Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 35 Kenapa tidak pakai ?


__ADS_3

Winda menjadi murid perempuan di kelas satu yang tidak memakai jilbab, teman-teman Islam lainnya, semuanya memakai jilbab, sebenarnya ada juga kakak kelas dua dan tiga yang tidak pakai jilbab.


Hanya saja, entah kenapa, Winda yang menjadi sorotan karena tidak memakai jilbab ditambah lagi sikap Winda yang berteman baik dengan Nansi.


Winda saat ini selesai dari mushollah sekolah, ia berpapasan dengan Jevi.


" Winda, kamu habis ibadah kan ? " tanya Jevi.


" Hem ibadah ? ( mengernyitkan dahi ). Habis sholat " Winda membenarkan.


" Itu maksudku, ibadah bukan, sho... sho..." Jevi masih kesulitan mengucapkan.


" Sholat " Winda membantu Jevi.


" Ya itu, itu kamu lakukan setiap hari ? " tanya Jevi.


" Tentu saja, sehari semalam wajib lima kali, kenapa tanya ? " kata Winda sedikit heran.


" Kamu gak capek gitu ? " tanya Jevi.


" Ya gak lah, kan, sudah kewajiban di agamaku. Sama halnya denganmu setiap hari Minggu, kamu kan juga ibadah ke gereja " kata Winda.


" Tapi, aku lihat temanmu Vera, dia nongkrong tuh di kantin, gak ke mushollah " kata Jevi.


" Vera lagi dapat, jadi gak boleh masuk mushollah dan gak boleh sholat " Winda menjelaskan.


" Dapat ??? " Jevi berfikir.


" Bulanannya cewek " Winda menjelaskan lagi.


Jevi menganggukkan kepalanya dengan tangan di dagunya, entah pura-pura paham atau pun beneran paham.


" Si Vera pakai kerudung... eh kerudung apa jilbab ya namanya ?" kata Jevi.


" Sama saja bisa kerudung, bisa juga disebut jilbab " kata Winda.


" Kerudung saja. Si Vera kan, pakai kerudung dan teman-teman mu yang lainnya juga pakai kerudung, tapi... kenapa kamu tidak pakai ? " kata Jevi.


Saat mendengar pertanyaan Jevi, seketika hati Winda terasa NYUTT, terasa cuma sebentar saja tapi sakitnya tertinggal.


Untuk beberapa saat Winda terdiam, memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan kepada Jevi, Winda tidak bisa asal menjawab.


" Emmm itu karena aku yang belum mau pakai kerudung " kata Winda.


" Kenapa ? Bukannya itu juga kewajiban, me-nu-tup a-u-rat " kata Jevi.


Winda terkejut, bahkan Jevi tau tentang menutup aurat, Winda kembali berfikir, dia harus memberi jawaban yang tepat.


" Itu benar, wanita muslim diwajibkan menutup auratnya, sebagian orang, ada yang belum siap memakainya, termasuk aku " kata Winda.


" Kenapa belum siap ? " Jevi bertanya lagi.


" Kerudung atau jilbab, itu bukan sekedar kain penutup kepala. Jika kita sudah memakainya, akan tidak baik jika kita melepaskannya lagi. Maksudku gini, aku sekolah pakai kerudung tapi saat aku tidak sekolah aku tidak memakai kerudung, bagaimana menurutmu ? " kata Winda.


" Itu sedikit... " Jevi bingung harus menjawab apa.


" Terkesan mempermainkan, itu pendapat pribadiku saja " kata Winda.


" Begitu ya, kadang aku juga bertanya, apakah tidak panas menutup seluruh badan begitu ?" kata Jevi.


Winda tertawa mendengarnya, karena terdengar sangat lucu.


" Kenapa tanya padaku, harusnya kamu tanya pada Vera sana " kata Winda.


Jevi bukannya menjawab perkataan Winda, ia justru diam, senyum-senyum sendiri, menggaruk-garuk kepalanya dan membuat gerakan-gerakan sedikit mencurigakan, seperti anak kecil yang ingin meminta jajan sama Ibunya tapi gak berani bilang.


Winda memiringkan kepalanya, mencoba menatap wajah Jevi, namun Jevi selalu menghindari tatapan Winda.

__ADS_1


" Vera... cantik... aku... " Jevi dengan suara pelan.


" Emm cantik ya ? Jadi begitu... ternyata..." goda Winda.


" Enggak kok, aku gak suka dia " Jevi salah tingkah.


" Ooo... jadi suka Vera..." Winda godain lagi.


" Bukan begitu...!!! " Jevi menyangkal.


" Jadi, itu sebabnya, kamu dan teman-temanmu sembunyi di..." kata Winda.


" Enggak, kita gak ngintip kok " Jevi langsung menyangkal.


" Hayoo ngintip apa kalian ? ngintip siapa ?" kata Winda yang malah disambut dengan Jevi tersenyum malu-malu untuk mengakui perbuatannya.


" Kita ngintip kalian, waktu kalian melepas... melepas kerudung kalian " Jevi akhirnya mengaku dengan ucapan yang sangat lirih sekali, sangking lirihnya Winda pasang telinga baik-baik.


" Ooo... jadi benar itu kalian " kata Winda dengan nada yang dibuat seolah-olah sedang marah, yang membuat Jevi diam tertunduk sambil tersenyum malu-malu karena ketahuan oleh Winda.


" Buat apa kalian mengintip ? Untuk melihat rambut mereka ? " Winda menggoda Jevi.


Jevi tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya secara berlahan, Winda pun tersenyum melihat tingkah Jevi.


" Jevi... Jevi... sampai segitunya, ada cara yang lebih mudah, untuk melihat rambut Vera, mau aku beritahu caranya ? " kata Winda.


" Benarkah ? Bagaimana caranya ? " Jevi langsung semangat.


" Jadi benar ya, kamu suka Vera " Winda menggoda Jevi kembali.


" Ti... dak " Jevi masih menyangkal.


" Yang benar...? " Winda dengan nada meledek.


" Kalau gak suka, ya sudah, gak jadi aku beritahu " kata Winda sambil melangkah pergi menjauh dari Jevi.


" Eh... eh... tunggu ( menarik tangan Winda ) Emmm iya aku suka Vera " kata Jevi sangat lirih banget.


" Iiihhh jangan ketawa " kata Jevi sedikit kesal.


" Iya deh maaf " kata Winda mencoba berhenti tertawa.


" Sekarang kasih tau aku, bagaimana caranya ? " tanya Jevi tidak sabar.


" Bukannya kamu sudah mengintip, seharusnya tau dong, bagaimana rambut Vera ? " Winda mengulur waktu.


" Harusnya sih begitu, tapi kita ketahuan Kak Niko dan Kak Noel, langsung disuruh pada bubar " kata Jevi.


" Ka-si-han " Winda dengan nada meledek.


" Kami sudah menerima hukumannya dan janji gak akan diulangi lagi, jadi bagaimana caranya aku bisa lihat seberapa panjang rambut Vera ? " Jevi sudah gak sabar ingin mengetahui cara yang akan diusulkan oleh Winda.


Terlintas lah ide jail dalam kepala Winda untuk mengerjai Jevi.


" Gampang, kamu nikahi saja Vera " kata Winda.


" HAH...??? Bercanda ya ? Kita kan masih sekolah " kata Jevi terkejut.


" Ya emang itu caranya, cewek yang pakai kerudung itu, rambutnya boleh dilihat sama laki-laki yang muhrim nya saja " kata Winda.


" Muh... Muh... rim, apa itu ? " tanya Jevi.


" Orang yang diperbolehkan, laki-laki seperti ayahnya, kakeknya, adik laki-laki, kakak laki-laki, pamannya, suaminya, lebih detail lagi aku kurang paham " Winda memberi penjelasan.


" Ini sih bukan gampang namanya " Jevi kecewa.


" Beneran kamu suka Vera ? " Winda kembali bertanya supaya jelas, Kecil hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Ada satu cara lagi sih " kata Winda.


" Bagaimana ? " Jevi langsung semangat.


Winda memberi kode pada Jevi untuk mendekat lagi, Jevi pun sedikit membungkukkan badannya untuk menyamakan dengan tinggi Winda. Winda mulai berbicara berbisik di telinga Jevi, memberitahu tentang ajakan Vera ke air terjun, tapi anehnya Jevi tidak langsung tanggap dan tidak memahami maksud dari perkataan Winda.


" Emangnya, apa hubungannya rambut Vera dengan air terjun ? " kata Jevi masih bingung.


" Ya jelas ada dong " kata Winda spontan memukul lengan Jevi.


" Ooo aku tau, nanti kalian di air terjun mandi dan pasti Vera buka kerudung, iya kan ? " kata Jevi asal menebak.


" Pikiranmu melantur kemana-mana, sudah gak betul ini. LUPAKAN ! Lagian kamu juga gak bisa ikut kan, harus ibadah " kata Winda teringat kalau hari Minggu Jevi harus ibadah.


" Itu gampang, bisa diatur " kata Jevi.


" Jangan bilang bolos ibadah ? " kata Winda menebak.


" Bisa tetap ibadah tanpa bolos, rencananya jam berapa kalian pergi ? " kata Jevi.


" Mungkin sekitar jam sembilan, tapi gak tau juga, tergantung Vera saja, soalnya dia yang tau jalan " kata Winda.


" Pinjam dulu hp mu " kata Jevi mengadahkan tangannya.


Winda memberikan hp pada Jevi, dengan cepat Jevi mengetik hp, melakukan panggilan ke nomornya sendiri, Jevi tersenyum saat melihat nomor Winda sudah tertera di layar hp nya.


Mungkin dalam hati Jevi, dirinya tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan keinginannya, karena tiket masuknya sudah berada di tangan tinggal menunggu waktunya saja.


" Sipp, sudah tersimpan, ini hp mu aku kembalikan " kata Jevi sambil menyerahkan hp ke Winda.


" Jadi ini alasanmu tanya-tanya, hanya untuk cari info tentang Vera ? " kata Winda.


" Tidak, awalnya aku benar-benar ingin tau alasanmu, kenapa tidak pakai ? Kamu menjelaskan panjang lebar dan berkat mu aku belajar hal baru tentang muh... muhrim " kata Jevi.


" Cara yang benar-benar pintar Jevi, kamu dapat bonusnya " kata Winda.


" Keberuntungan " kata Jevi tersenyum.


" Hem... iyalah " kata Winda.


" Tapi, kamu jangan cerita siapa-siapa ya, tentang aku suka sama Vera. JANGAN EMBER " kata Jevi memperingatkan Winda.


" SIALAN, emangnya aku ember bocor apa ?" Winda kesal.


" JANJI YA RAHASIA " kata Jevi.


" OGAH ! Aku gak mau janji, tenang saja aku gak ember, lagipula gak ada untungnya buatku " kata Winda.


" Bener ya ? " Jevi masih menegaskan lagi.


" IYA BAWEL " kata Winda meninggikan suaranya.


" Terima kasih Winda sudah sana kembali ke kelas mu, sebentar lagi masuk " Jevi mengusir.


" SIALAN, NGUSIR LAGI...!!! " Winda benar-benar kesal.


" Bye Winda...!!! " Jevi sudah lari menjauh.


" Dasar itu anak " gumam Winda sendirian.


Winda pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jevi yang berlari kegirangan.


Suka yang bagaimana coba sampai melakukan hal nekad begitu? Winda benar-benar tak habis pikir, ada ya orang-orang begitu ?


.


.

__ADS_1


.


( bersambung )


__ADS_2