
Rey memasuki ruang kelas dengan bangga diri memperlihatkan penampilannya yang baru, namun reaksi teman-temannya biasa saja, mungkin karena hal tersebut bukan lah yang pertama kalinya.
" Cewek mana lagi nih yang kamu tolongin ?" ledek Juan.
" Ada dech " Rey enggan memberitahu.
" Benar-benar pahlawan di siang hari " ledek Juan.
" Tapi lihat, hasilnya aku dapat apa ? " Rey pamer foto dirinya dengan Winda.
" Hebat juga, beneran incar Winda nih " Juan melihat ke arah hp Rey.
Seketika Niko ikutan melihat ke layar hp, saat nama Winda disebutkan, secara tak sabar Niko mengambil hp tersebut dari tangan Rey tanpa permisi.
Niko memperhatikannya layar hp, melihat foto Rey, Winda dan juga teman-temannya, walau pun foto bersama, ada perasaan sedikit cemburu di hati Niko saat melihat foto tersebut.
" Winda sendiri yang ajak foto loh, bukan aku" Rey sangat pintar membanggakan diri.
" Lebih bagus lagi, kalau fotonya berdua " ledek Juan.
" Ya mungkin, dia gak enak saja sama temannya, makanya di ajak foto sekalian " kata Rey beralasan.
{ Masa sih } batin Niko.
Mata Rey melihat ke arah Niko yang fokus menatap layar hp miliknya, ada senyum puas dalam diri Rey.
" Winda cantik kan, Nik ? " goda Rey.
" Iya cantik " Niko spontan menjawab.
" Dah move on nih..." goda Juan.
" Siapa yang...??? " Niko membantah.
" Itu barusan bilang Winda can...tik...!!! " goda Juan.
Juan terus saja menggoda Niko hingga membuat dirinya sedikit salah tingkah. Rey mendekati Niko, menepuk pundak Niko, tersenyum dengan seribu makna, meledek, menggoda, pamer, membanggakan diri seolah-olah seperti berkata aku lah yang unggul.
" Kalau kalian berdua suka Winda, bersaing yang sehat ya, jangan sampai berantem, jangan saling menjatuhkan " Juan menasehati.
" Jangan-jangan kamu juga ? " tanya Rey.
" Aku ( menunjuk diri sendiri ) maaf ya aku ini tipe yang setia pada satu pacar " kata Juan dengan bangga.
" Iya lah yang setia...!!! " Rey dengan nada meledek.
" Kalian bicara lah berdua, cari cara agar rencana kalian berhasil, aku pergi dulu, selamat mencari strategi " ledek Juan setelah itu dirinya segera keluar dari kelas.
Rey kembali menatap ke arah Niko, namun Niko pura-pura cuek, tidak memperhatikan, hal tersebut memancing kekesalan di Rey, yang melihat Niko hanya diam, tidak berbuat apa-apa.
" Niko... Niko...! Kamu sangat lambat bergerak, jangan menyesal kalau keduluan orang lain " Rey memperingatkan.
" Kamu jangan macam-macam " ancam Niko.
" Aku ? Aku ini tidak kalah ganteng, kalau Winda suka padaku ? Ya bukan salahku dong ?" Rey dengan sengaja memancing amarah Niko.
" AKU BILANG...!!! " Niko meninggikan suaranya.
" BUKAN AKU...!!! Bukan aku yang harus kamu khawatirkan ? Tapi, jika kamu terus diam begini, kamu akan benar-benar kehilangan kesempatan " kata Rey menasehati.
" Jangan coba-coba memberitahu dia ! " Niko memperingatkan.
__ADS_1
" Kamu ini cari susah sendiri, ada cara yang mudah tapi memilih yang sulit. Niko... Niko... dikiranya kamu belum move on " kata Rey.
Niko mengambil napas panjang, menyandarkan punggungnya pada kursi, saat ini Niko benar-benar dilema, orang yang Niko sukai sedari dulu, kini sudah ada dihadapannya, namun Niko bingung harus berbuat apa dan bagaimana menyatakan perasaannya.
" Kamu kan tau, dari dulu yang aku sukai itu adalah..." Niko tak melanjutkan kalimatnya.
" Orangnya sudah di sini, dihadapanmu, tapi kamu, diam saja, tidak melakukan apa pun ( Rey kesal sendiri ). SINI berikan hp mu " kata Rey.
" Untuk apa ? tanya Niko.
" Memberi yang kamu inginkan " kata Rey.
Rey mengetik beberapa saat dan memberikan kembali pada Niko, Niko melihat layar hp nya.
" Nomor siapa ? " tanya Niko mengamati layar hp.
" Nomor dia, siapa lagi " jawab Rey.
" Kamu minta ke orangnya ? " tanya Niko terkejut.
" Tidak " jawab Rey menggelengkan kepala.
" Lewat temannya ? " tanya Niko menduga.
" Tidak juga " jawab Rey mulai kesal.
" Lalu ? " tanya Niko.
" Lalu... hubungi dia, banyak tanya, bukannya terima kasih sudah di beri nomornya " guru Rey kesal.
Niko menatap tajam pada Rey, menginginkan jawaban yang sebenarnya, Rey menarik napas panjang, dengan terpaksa Rey akhirnya menceritakan, bagaimana dirinya mendapatkan nomor Winda, tanpa sepengetahuan Winda, ditambah lagi tidak ada rasa bersalah sudah melakukan hal tersebut, justru bangga diri.
" Kalau sekarang, pasti sudah tau, kamu harus ikuti saran ku, karena Noel juga sudah bergerak " kata Rey memperingatkan.
" Noel ? " tanya Niko sedikit heran.
" Noel sudah satu langkah di depan mu " kata Rey.
" Tidak mungkin, bagaimana Noel..." kata Niko tidak langsung percaya.
Mulut Niko seketika terdiam saat melihat foto Noel dan Winda berdua, bukan hanya satu foto saja, Rey memperlihatkan semua foto yang berhasil dia ambil diam-diam, mata Niko tak teralihkan dari layar hp, dirinya benar-benar terkejut melihat foto-foto Noel dan Winda.
" Percaya apa tidak, itu tidak di sengaja dan dari yang aku dengar, itu bukan pertama kalinya, coba pikirkan, mau tunggu waktu yang tepat ? tapi sampai kapan ? " kata Rey.
Niko terdiam karena tidak memiliki jawaban yang pasti.
" Niko, apa kamu ingat, betapa senangnya kamu saat pertama kali bertemu Winda, setelah sekian lama, kamu tidak berhenti tersenyum, pandanganmu selalu tertuju padanya " kata Rey.
Flash back on
" Rey... Rey... " Niko menarik tangan Rey.
" Apa ? " tanya Rey.
" Dia di sini... dia di sini " Niko dengan semangat.
" Siapa ? " tanya Rey.
" Gadis itu... gadis itu ada di sini... dia sekolah di sini " Niko bicara tidak jelas.
" Gadis ? Siapa ? " Rey masih tidak paham.
__ADS_1
" Gadis... anak perempuan yang aku cerita kan itu, dia... di sini... dia sekolah di sini " kata Niko.
Niko dengan semangat berbicara tentang gadis yang dilihatnya itu, Rey masih rada bingung karena Niko berbicara dengan semangat, tidak jelas dan merancu.
Dengan antusias Niko menunjuk ke arah yang dimaksud, namun karena dari kejauhan, papan nama tidak bisa dibaca dengan jelas, saat Niko hendak berjalan mendekat, justru di tahan oleh Rey dikarenakan acara akan segera dimulai.
Tanpa diduga kesempatan datang secara tiba-tiba, melalui pertemuan yang direncanakan oleh Sang Pencipta Kehidupan, pandangan mata saling bertatapan, sama-sama saling terkejut.
" Rey... itu dia... dia gadis itu " Niko berbicara pelan.
" Wahhh ada junior baru " Juan sudah mendahului bicara.
" Coba aku lihat " sambung Noel.
" Siapa namamu ? " Rey angkat bicara, namun tidak ada jawaban balasan.
" Winda Rahayu, Tata Busana " Rey membaca papan nama.
" Sayang sekali, bukan junior jurusan kita " sambung Juan.
{ Kenapa dia terus menunduk } batin Rey.
" Hei...!!! Ada kotoran di rambutmu " Rey berbohong.
" Hah ? Iyakah ? dimana ? " Winda seketika mengangkat wajahnya.
Flash back off
Rey mengingatkan pada Niko, kalau dirinya sudah diberi kesempatan bertemu kembali dengan orang yang ingin dia temui itu, Rey pun menyemangati Niko agar tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, agar Niko bergerak, berusaha melakukan sesuatu.
" Setidaknya berusaha dulu, membuat kenangan indah bersamanya, kamu tau saat aku keluar dari ruang praktek Kecantikan, para cewek berteriak histeris mengagumi ketampanan ku, tapi Winda, dia malah menertawakan diriku " Rey bercerita.
Rey akhirnya menceritakan kepada Niko, apa saja yang dia alami barusan dengan Winda, termasuk juga perkataan tentang warna rambut yang mirip dengan rambut jagung, yang seketika disambut dengan tawa oleh Niko dan langsung membayangkan Rey dan jagung.
" Tapi, gak salah sih, memang mirip rambut jagung " Niko ikutan sepakat dengan pendapat Winda.
" Hemmm dasar sepaket " Rey kesal sendiri.
" Apalagi pakai baju warna kuning atau hijau, bakalan mirip banget dengan jagung " kata Niko.
" Haduchh sama persis lagi ngomongnya " gumam Rey.
" Sudah lah, ini bukan pertama kalinya kamu mewarnai rambut, masa iya, omongan Winda kamu ambil hati " kata Niko.
" Masalah nya adalah dia menertawakan diriku di hadapan para fans ku dan dia mengalihkan pembicaraan dengan berkata Yang mau foto sama Kak Rey, harap antri " kata Rey menirukan nada bicara Winda.
" Yang penting fans mu tidak memarahi Winda " kata Niko.
" Marah sih tidak, tapi sudah aku cubit pipinya, soalnya aku gemes betul lihat dia ketawa " kata Rey.
Rey menatap Niko, sadar diri kalau melakukan kesalahan, tanpa aba-aba lagi Rey langsung menarik tasnya dan lari keluar dari kelas secepat yang dia bisa.
Niko yang masih duduk, kembali merenungkan saran dari Rey, tentang harus bergerak, bukannya tidak mau sebenarnya, tapi di hati Niko terlalu banyak pertimbangan, ada kekhawatiran jikalau dirinya sampai salah dalam bertindak, maka bisa berakibat buruk dan yang paling fatal benar-benar kehilangan.
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1